KabarBaik.co, Malang – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyiapkan dua unit helikopter water bombing untuk mempercepat pemadaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS). Langkah tersebut diambil menyusul meluasnya kebakaran hingga merambah wilayah Kabupaten Malang, Lumajang, dan Probolinggo.
Kepala BNPB Letjen TNI Suharyanto mengatakan penggunaan helikopter pengebom air dinilai menjadi solusi paling efektif mengingat titik-titik api berada di kawasan lereng yang curam dan sulit dijangkau petugas darat.
“Sementara kami akan mendukung dengan dua unit ya,” ujar Suharyanto saat meninjau penanganan kebakaran melalui jalur Malang.
Menurutnya, pengerahan helikopter masih menunggu hasil asesmen di lapangan. BNPB juga menyesuaikan ketersediaan armada karena saat ini operasi pemadaman karhutla secara bersamaan berlangsung di enam provinsi, yakni Sumatera Selatan, Riau, Jambi, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan.
Selain dukungan water bombing, BNPB telah berkoordinasi dengan BMKG untuk mengkaji kemungkinan pelaksanaan operasi modifikasi cuaca apabila kondisi di lapangan membutuhkan percepatan penanganan.
Hingga Rabu (5/8) petang, helikopter pengebom air belum diterjunkan. Sementara itu, petugas gabungan terus mengandalkan pemadaman darat dengan membuat sekat bakar dan penyemprotan menggunakan dua unit armada milik Balai Besar TNBTS dan BPBD Provinsi Jawa Timur.
Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Kabupaten Malang, Sadono Irawan, mengatakan kobaran api kini telah menjalar ke kawasan Jemplang, dekat tugu perbatasan Kabupaten Malang-Lumajang. Jarak titik api diperkirakan sekitar 1,5 kilometer dari tugu perbatasan melalui jalur darat.
Kebakaran yang penyebabnya masih dalam penyelidikan tersebut diperkirakan telah menghanguskan sekitar 70 hektare kawasan hutan dengan vegetasi berupa cemara gunung, mentigen, akasia, dan semak belukar. “Perkiraan luas lahan yang terbakar saat ini total sekitar 70 hektare,” jelas Sadono, Kamis (6/8).
Sebanyak 257 personel gabungan dikerahkan dalam operasi pemadaman. Mereka berasal dari BNPB, BPBD Kabupaten Malang, Lumajang, dan Probolinggo, Balai Besar TNBTS, TNI, Polri, Forkopimda, Masyarakat Peduli Api (MPA), Manggala Agni, PPGST, Saver, relawan, perangkat desa, hingga paguyuban jip wisata.
Meski demikian, proses pemadaman masih menghadapi tantangan berat. Medan yang terjal membuat banyak titik api berada di lereng yang sulit dijangkau sehingga petugas harus membuka sekat bakar untuk mencegah kobaran api terus meluas.
“Tim gabungan saat ini terus melakukan operasi pemadaman darat dengan membuat sekat bakar,” kata Sadono.
Di sisi lain, api mulai mengancam wilayah Desa Ngadas, Kecamatan Poncokusumo, Kabupaten Malang. Kapolsek Poncokusumo AKP Teguh Iman Sugiharto mengatakan anggotanya langsung bergerak ke lokasi begitu menerima laporan munculnya titik api.
Menurut Teguh, cuaca kering, embusan angin yang cukup kencang, serta jauhnya sumber air membuat upaya pemadaman belum maksimal. Titik api masih bergerak mendekati kawasan Desa Ngadas.
“Sementara masih ada titik api yang mendekati Desa Ngadas,” ujarnya.
Ia menambahkan, kebutuhan mendesak saat ini adalah tambahan peralatan penyemprot beserta pasokan air karena sumber mata air terdekat berjarak sekitar tujuh kilometer dari lokasi kebakaran.
“Yang diperlukan berupa sarana penyemprot air dan juga airnya, karena sumber mata air yang terdekat dari sini kurang lebih tujuh kilometer,” pungkasnya. (*)








