KabarBaik.co – Pascakerusuhan yang terjadi pada Sabtu (30/8) malam, Bupati Kediri Hanindhito Himawan Pramana mengambil langkah tegas dengan memberlakukan jam malam dan menghidupkan kembali sistem Jaga Desa di seluruh wilayah Kabupaten Kediri.
“Intinya kita harus menyamakan persepsi dan tujuan agar kejadian anarkis kemarin tidak terulang. Kami menghimbau masyarakat untuk menjaga wilayah masing-masing supaya tetap aman dan kondusif,” ujar Bupati Dhito, Senin (1/9).
Menurutnya, seluruh camat telah diperintahkan untuk memperkuat komunikasi dengan Kapolsek dan Danramil, serta menggerakkan para kepala desa bersama Babinsa dan Bhabinkamtibmas. Hal ini dilakukan sebagai langkah antisipasi adanya potensi aksi lanjutan pada 3 September mendatang.
Dhito menegaskan patroli keamanan akan diperketat di titik-titik rawan, khususnya Pare dan Ngasem. Jam malam diberlakukan mulai pukul 21.00 WIB hingga batas waktu yang belum ditentukan, menyesuaikan kondisi lapangan.
“Kalau ada kerumunan di atas jam 9 malam, akan kami bubarkan,” tegasnya.
Bupati Kediri juga menyoroti fakta bahwa mayoritas pelaku kerusuhan masih berstatus pelajar. “Dari data yang kami terima, 80 persen pelaku adalah anak usia 14–17 tahun,” ungkapnya.
Mas Dhito meminta keterlibatan orang tua dan guru dalam mengawasi anak-anak mereka. “Tugas ini tidak bisa diselesaikan hanya oleh Bupati, Kapolres, atau Dandim. Orang tua harus memastikan anak-anaknya tidak melakukan tindakan kriminal,” katanya.
Sejauh ini, beberapa orang tua telah mengembalikan barang-barang hasil penjarahan, mulai dari tabung LPG, alat tulis kantor, hingga artefak museum. Langkah tersebut diapresiasi oleh Bupati Dhito.
“Kami berterimakasih kepada orang tua yang berani menegur anaknya. Mengambil yang bukan milik kita adalah tindakan kriminal,” tandasnya.







