Buya Hamka: Ulama, Sastrawan, dan Ketua MUI Pertama

oleh -1241 Dilihat
Hamka
Buya Hamka

KABARBAIK.CO – Buya Hamka atau nama lengkapnya Haji Abdul Malik Karim Amrullah adalah salah satu tokoh Islam paling berpengaruh di Indonesia.

Ia adalah seorang ulama, sastrawan, dan tokoh pergerakan nasional. Buya Hamka lahir di Nagari Sungai Batang, Tanjung Raya, Kabupaten Agam, Sumatra Barat, pada tanggal 17 Februari 1908 atau bertepatan dengan 3 Muharram 1326 H dan meninggal di Jakarta pada tanggal 24 Juli 1981.

Nama Hamka sendiri merupakan akronim dari Haji Abdul Malik Karim Amrullah. Nama itu ia pakai pertama kali sebagai nama pena saat menjadi pemimpin redaksi di majalah Pedoman Masyarakat.

Buya Hamka adalah anak pertama dari empat bersaudara, anak pasangan Abdul Karim Amrullah “Haji Rasul” dan Safiyah. Haji Rasul menikahi Safiyah setelah istri pertamanya, Raihana yang merupakan kakak Safiyah meninggal di Mekkah. Raihana memberi Malik seorang kakak tiri, Fatimah yang kelak menikah dengan Syekh Ahmad Rasyid Sutan Mansur.

Sejak kecil, Buya Hamka sudah terbiasa dengan tradisi Islam yang kuat. Ia belajar membaca al-Qur’an dan bacaan salat di bawah bimbingan Fatimah, kakak tirinya. Buya Hamka juga belajar agama dari ayahnya, Haji Rasul, yang merupakan seorang ulama dan pemimpin Muhammadiyah di Sumatera Barat.

Buya Hamka lahir dari keluarga ulama. Ayahnya, Haji Abdul Karim Amrullah, adalah seorang ulama terkemuka di Minangkabau yang dikenal dengan nama Haji Rasul. Buya Hamka tumbuh dan dididik dalam lingkungan yang religius dan penuh dengan ilmu pengetahuan.

Buya Hamka memulai pendidikannya di Sekolah Dasar Maninjau, dan kemudian melanjutkan ke Diniyah School Padang Panjang. Setelah itu, Buya Hamka melanjutkan pendidikannya ke Sumatera Thawalib Padang Panjang, sebuah lembaga pendidikan Islam yang didirikan oleh ayahnya. Di sana Buya Hamka belajar berbagai ilmu pengetahuan, termasuk ilmu agama, filsafat, dan sastra.

Sedari muda, Buya Hamka dikenal suka berkelana. Buya Hamka pernah merantau ke Yogjakarta pada saat usiannya masih 16 tahun. Di Yogyakarta, Buya Hamka belajar pergerakan Islam modern kepada sejumlah tokoh seperti H.O.S Tjokroaminoto, Ki Bagus Hadikusumo, R.M Soerjopranoto dan H. Fachruddin.

Pada tahun 1925, Buya Hamka melanjutkan pendidikannya ke Sekolah Tinggi Islam di Jakarta. Di sana, Buya Hamka belajar berbagai ilmu agama dan keislaman, termasuk fikih, tafsir, hadis, dan tasawuf. Setelah lulus dari Sekolah Tinggi Islam, Buya Hamka aktif mengajar di berbagai perguruan tinggi Islam di Indonesia.

Buya Hamka juga pernah beberapa lama tinggal di Medan. Setelah melakukan ibadah Haji, Buya Hamka tidak pulang ke Padang Panjang, melainkan turun di Medan. Di Medan itulah, beliau mulai menekuni dunia jurnalistik. Mula-mula, Buya Hamka menulis untuk Pelita Andalas, sebuah kabar milik orang Tionghoa. Beliau menulis tentang ibadah haji dan gerakan reformasi Islam di Minangkabau.

Buya Hamka mendirikan majalah Al-Mujtama’ pada tahun 1928, dan menjadi redaktur majalah tersebut. Buya Hamka juga menulis untuk majalah Seruan Islam, Suara Muhammadiyah, Bintang Islam, dan Pembela Islam, Sinar Islam, dan Panji Islam dan lainnya. Roman pertama Buya Hamka adalah Si Sabariah. Dari honor Si Sabariah, Buya Hamka membiayai pernikahannya kelak. Setelah menikah, Buya Hamka menulis kisah Laila Majnun yang dirangkai beliau “dengan khayalannya” setelah membaca hikayat Arab “dua halaman”.

Pada 1932, Balai Pustaka, penerbit utama kala itu menerbitkan Laila Majnun dengan ketentuan perubahan ejaan dan nama tokoh.

Penerimaan Balai Pustaka membesarkan hatinya dan memacunya untuk lebih giat lagi menulis dan mengarang.

Kemudian pada tahun 1936, Buya Hamka yang sempat pulang ke Padang Panjang kembali ke Medan. Beliau memenuhi permintaan Muhammad Rasami, tokoh Muhammadiyah Bengkalis untuk memimpin Pedoman Masyarakat di bawah Yayasan Al-Busyra pimpinan Asbiran Yakub.

Pedoman Masyarakat merupakan majalah yang mengupas pengetahuan umum, agama, dan sejarah. Majalah itu beroplah 500 eksemplar ketika terbit perdana pada 1935. Oplahnya melonjak hingga 4.000 eksemplar setelah Buya Hamka menjadi pemimpin redaksi pada 22 Januari 1936.

Melalui Pedoman Masyarakat pula, Buya Hamka untuk pertama kalinya memperkenalkan nama pena “Hamka”. Buya Hamka mengisi beberapa rubrik dan menulis cerita bersambung. Mengangkat masalah penggolongan dalam masyarakat Minangkabau berdasarkan harta, pangkat, dan keturunan, Buya Hamka menulis Di Bawah Lindungan Ka’bah. Balai Pustaka menerbitkan Di Bawah Lindungan Ka’bah pada 1938.

Setelah Di Bawah Lindungan Ka’bah, Hamka menulis Tenggelamnya Kapal van der Wijck tentang percintaan antara Zainuddin dan Hayati yang terhalang adat dan berakhir dengan kematian.

Selain mempunyai karir yang panjang di dunia tulis-menulis, Buya Hamka juga dikenal sebagai aktivis Muhammadiyah. beliau tercatat beberapa kali menghadiri kongres Muhammadiyah, antara lain kongres ke-18 di Solo, kongres ke-19 di Bukittinggi, dan kongres ke-20 di Yogyakarta.

Pada tahun 1931, Buya Hamka dipercaya oleh Pimpinan Pusat Muhammadiyah untuk mempersiapkan Kongres Muhammadiyah ke-21 di Makassar. Selain aktif di Muhammadiyah, Buya Hamka juga merupakan anggota Partai Masyumi sebelum dibubarkan oleh Presiden Soekarno.

Dalam pemilihan umum 1955, Buya Hamka terpilih duduk di Konstituante mewakili Masyumi. Belaiu terlibat dalam perumusan kembali dasar negara. Sikap politik Masyumi menentang komunisme dan anti-Demokrasi Terpimpin memengaruhi hubungan Buya Hamka dengan Presiden Soekarno. Usai Masyumi dibubarkan sesuai Dekret Presiden 5 Juli 1959, Buya Hamka menerbitkan Panji Masyarakat yang berumur pendek, karena dibredel oleh Presiden Soekarno.

Buya Hamka juga aktif dalam dunia pendidikan. Beliau pernah menjadi dosen di Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta, dan kemudian menjadi Rektor Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ) pada tahun 1960.

Pada masa Orde Baru Soeharto, Buya Hamka mencurahkan waktunya membangun kegiatan dakwah di Masjid Agung Al-Azhar serta berceramah di Radio Republik Indonesia (RRI) dan Televisi Republik Indonesia (TVRI).

Kemudian ketika Majelis Ulama Indonesia (MUI) terbentuk pada 26 Juli 1975, Buya Hamka dipilih secara aklamasi sebagai Ketua MUI. Beliaupun menjadi Ketua MUI pertama dalam sejarah.

Sebagai Ketua MUI, Buya Hamka berperan penting dalam merumuskan berbagai fatwa keagamaan yang menjadi pedoman bagi umat Islam Indonesia. Salah satu fatwa yang dikeluarkan Buya Hamka adalah fatwa haramnya perayaan Natal bersama bagi umat Islam. Fatwa ini sempat menimbulkan kontroversi, namun Buya Hamka tetap teguh pada pendiriannya.

Menanggapi tekanan Menteri Agama Alamsjah Ratoe Perwiranegara untuk menarik fatwa haram MUI atas perayaan Natal bersama bagi umat Muslim. Buya Hamka memilih meletakkan jabatannya pada 19 Mei 1981,

Dua bulan setelah pengunduran dirinya itu, Buya Hamka dilarikan ke rumah sakit karena komplikasi penyakit kencing manis, gangguan jantung, radang paru-paru, dan gangguan pada pembuluh darah yang dideritanya. Setelah tiga hari menjalani perawatan di ruang (ICU) RS Pusat Pertamina, Buya Hamka akhirnya menghadap Sang Khalik di usia 73 tahun pada hari Jumat, 24 Juli 1981 pukul 10.41. Setelah disholatkan di Masjid Al-Azhar, jenazahnya kemudian dimakamkan di TPU Tanah Kusir, Jakarta.

Penghargaan dan Karya

Buya Hamka mendapat gelar doktor kehormatan dari Universitas al-Azhar dan Universitas Kebangsaan Malaysia. Beliau juga mendapatkan gelar guru besar dari Universitas Moestopo.

Atas jasa-jasanya pada negara, Presiden Republik Indonesia Kedua (1966-1988)
Presiden Soeharto menganugerahkannya Bintang Mahaputera Utama pada tahun 1993. Kemudian di tahun 2011, Presiden Presiden Republik Indonesia Keenam (2004-2014)
Susilo Bambang Yudhoyono memberi gelar pahlawan Nasional pada Buya Hamka berdasarkan surat Keputusan Presiden Nomor 113/TK/2011.

Sebagai bukti penghargaan yang tinggi dalam bidang keilmuan, Muhammadiyah mengabadikan namanya menjadi nama sebuah perguruan tinggi milik Muhammadiyah yang berada di Yogyakarta dan Jakarta, yakni Universitas Hamka (UHAMKA).

Majelis Ulama Indonesia memperingati jasa jasa Buya Hamka dengan mengangkat kisah beliau ke dalam film berjudul Buya Hamka vol 1 (2023) dan Buya Hamka Vol 2 (2023)

Buya Hamka telah menulis berbagai karya dalam berbagai bidang, termasuk agama, sastra, dan pemikiran. Berikut ini adalah beberapa karya Buya Hamka yang paling terkenal:

* Tafsir Al-Azhar, sebuah tafsir al-Qur’an yang terdiri dari 30 jilid.
* “Di Bawah Lindungan Ka’bah”, sebuah novel yang mengisahkan perjalanan hidup seorang pemuda bernama Hamid yang pergi ke Mekah untuk menunaikan ibadah haji.
* “Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck”, sebuah novel yang mengisahkan kisah cinta segitiga antara Zainuddin, Hayati, dan Aziz.
* “Merantau ke Deli”, sebuah novel yang mengisahkan perjalanan hidup seorang pemuda bernama Sutan Mahmud yang merantau ke Medan untuk mencari pekerjaan.
* “Pribadi dan Martabatnya”, sebuah kumpulan esai tentang Islam dan kehidupan.
* Tuan Direktur
* Terusir
* Di Tepi Sungai Dajlah
* Dari Perbendaharaan Lama
* Sejarah Umat Islam
* Tasawuf Modern.(bet)

Cek Berita dan Artikel kabarbaik.co yang lain di Google News

Kami mengajak Anda untuk bergabung dalam WhatsApp Channel KabarBaik.co. Melalui Channel Whatsapp ini, kami akan terus mengirimkan pesan rekomendasi berita-berita penting dan menarik. Mulai kriminalitas, politik, pemerintahan hingga update kabar seputar pertanian dan ketahanan pangan. Untuk dapat bergabung silakan klik di sini



No More Posts Available.

No more pages to load.