KabarBaik.co, Bojonegoro – Gelaran Bojonegoro Wastra Batik Festival (BWBF) 2026 tak hanya menjadi ajang pelestarian budaya dan promosi batik daerah, tetapi juga memberikan dampak ekonomi yang signifikan. Selama empat hari pelaksanaan, perputaran uang dari sektor UMKM, pameran, hingga perhotelan diperkirakan mencapai Rp 1,4 miliar.
Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Bojonegoro Elzadeba Agustina mengungkapkan bahwa BWBF dirancang tidak hanya untuk meningkatkan apresiasi masyarakat terhadap batik sebagai warisan budaya, tetapi juga untuk memperkuat ekonomi kreatif berbasis potensi lokal.
“Selain meningkatkan kecintaan terhadap batik, kegiatan ini juga menjadi sarana untuk mendongkrak perekonomian masyarakat melalui penjualan batik dan produk turunannya, sekaligus memperluas jangkauan pasar produk lokal,” ujarnya, Minggu (21/6).
Dari sisi ekonomi, dampak terbesar terlihat pada sektor UMKM dan pameran. Sebanyak 69 stan ikut berpartisipasi dalam BWBF 2026, dengan 60 stan indoor berhasil mencatatkan total omset mencapai Rp 1,063 miliar selama empat hari penyelenggaraan.
Tak hanya itu, sektor perhotelan dan guest house juga ikut merasakan manfaat langsung dari meningkatnya kunjungan selama festival berlangsung. Tercatat 10 hotel dan guest house terlibat dengan estimasi 162 tamu menginap selama empat malam.
Dari sektor akomodasi tersebut, pendapatan yang dihasilkan mencapai sekitar Rp 175 juta, sekaligus memberikan kontribusi pajak hotel sebesar Rp 17,5 juta bagi daerah.
“Total pendapatan dari stan pameran dan hotel diperkirakan mencapai Rp 1,4 miliar selama empat hari pelaksanaan. Bahkan hari ini masih berlangsung hingga malam, sehingga nilainya masih berpotensi bertambah,” jelas Elzadeba.
Sementara itu, Wakil Bupati Bojonegoro Nurul Azizah menegaskan bahwa BWBF merupakan salah satu bentuk komitmen Pemkab Bojonegoro dalam mendorong pelaku UMKM agar mampu naik kelas melalui kolaborasi dengan para perajin dan pelaku usaha.
“Kita patut berbangga karena BWBF benar-benar melibatkan UMKM dan menghadirkan kolaborasi antara perajin serta pedagang. Ini menjadi ruang promosi sekaligus peningkatan kapasitas ekonomi masyarakat,” katanya.
Menurutnya, kehadiran peserta dari berbagai daerah yang telah lama berkecimpung di industri batik juga menjadi bahan evaluasi sekaligus pembelajaran bagi para perajin lokal untuk terus meningkatkan kualitas produk dan daya saing. (*)






