KabarBaik.co, Bojonegoro – Bojonegoro Wastra Batik Festival 2026 menjadi ajang promosi sekaligus mempertemukan perajin batik dari berbagai daerah di Jawa Timur dan Jawa Tengah. Puluhan pelaku usaha batik hadir menampilkan karya terbaik mereka di Alun-alun Bojonegoro.
Salah satunya adalah Tonik Sudarmadji, perajin Batik Rajasa Mas asal Desa Maos Kidul, Kecamatan Maos, Cilacap. Ia mengaku antusias mengikuti salah satu pameran batik dan kerajinan terbesar di Jawa Timur tersebut.
“Saya dari Cilacap dan baru sampai di Bojonegoro tadi malam,” ujar Tonik saat ditemui di stan pamerannya, kamis (18/6).
Tonik hadir mewakili Dekranasda Cilacap dengan membawa Batik Maos, batik khas yang menjadi identitas dan kebanggaan masyarakat Cilacap.
Menurutnya, Batik Maos memiliki beragam motif, mulai dari motif klasik yang telah ada sejak abad ke-18 hingga motif kontemporer. Salah satu motif klasik yang ditampilkan adalah Cebong Kumpul.
Ia menjelaskan motif Cebong Kumpul memiliki nilai historis karena diyakini pernah digunakan sebagai kode atau sandi pada masa Perang Diponegoro.
“Jika terdapat batik bermotif Cebong Kumpul di suatu wilayah, itu menjadi penanda bahwa di wilayah tersebut terdapat pasukan Pangeran Diponegoro yang telah siap,” ungkapnya.
Melalui partisipasinya dalam Bojonegoro Wastra Batik Festival, Tonik berharap Batik Maos semakin dikenal masyarakat luas.
Harapan serupa juga disampaikan Arya, perwakilan Terebatik Kudus yang mengikuti festival atas nama Dekranasda Kudus. Dalam pameran tersebut, ia menampilkan berbagai motif batik khas Kudus, salah satunya motif Laras Muria.
“Motif Laras Muria menjadi salah satu motif unggulan yang kami tampilkan di festival ini,” ujarnya.
Sementara itu, dari Jawa Timur hadir Dwi Mawadati, perajin batik asal Blitar sekaligus pimpinan rumah produksi Batik Kinasih yang berlokasi di Kelurahan Sukorejo, Kecamatan Sutojayan.
Dwi mengatakan dirinya hadir mewakili Dekranasda Blitar bersama dua rumah produksi lainnya, yakni Batik Lwang Wentar dan Batik Jagadjowo.
“Di Bojonegoro Wastra Batik Festival ini kami membawa berbagai motif batik khas Blitar,” katanya.
Salah satu motif unggulan yang dipamerkan adalah Cakra Palah, motif yang terinspirasi dari Candi Palah atau yang kini lebih dikenal sebagai Candi Penataran.
Menurut Dwi, festival seperti Bojonegoro Wastra Batik Festival perlu terus digelar secara rutin karena menjadi sarana efektif untuk memperkenalkan produk batik daerah, memperluas jaringan pemasaran, serta membuka peluang kolaborasi antarpelaku usaha.
“Ajang seperti ini sangat baik untuk eksistensi, promosi, dan membuka peluang kerja sama,” tuturnya.
Selain perajin dari Cilacap, Kudus, dan Blitar, festival ini juga diikuti perajin batik dari berbagai daerah lain di Jawa Timur dan Jawa Tengah.
Dari Jawa Timur, peserta antara lain berasal dari Jember, Sidoarjo, Tuban, Lamongan, Madiun, Pasuruan, dan Pamekasan. Sementara dari Jawa Tengah, peserta datang dari Boyolali, Kebumen, Surakarta, dan Purworejo.
Keikutsertaan para perajin dari berbagai daerah tersebut menjadikan Bojonegoro Wastra Batik Festival tidak hanya sebagai ajang pameran, tetapi juga wadah pelestarian budaya dan penguatan industri batik nasional. (*)






