KabarBaik.co, Jakarta – Dunia bulu tangkis sedang menunggu satu angka yang memiliki arti jauh lebih besar daripada sekadar angka. Yakni, ranking atau peringkat dunia. Terutama nomor tunggal putra.
Setelah BWF World Championships 2026 berakhir di New Delhi, takhta yang selama ini ditempati Shi Yuqi berpotensi berpindah tangan. Dan, nama yang paling berpeluang mengisinya adalah Jonatan Christie alias Jojo.
BWF dijadwalkan memperbarui ranking dunia pada Selasa, 25 Agustus 2026, setelah rangkaian Kejuraan Dunia BWF 2026 tuntas pada Minggu (23/8).
Jika perhitungan sistem ranking berjalan sesuai proyeksi, pemain Indonesia berpeluang memiliki kembali tunggal putra yang menduduki posisi Nomor 1 dunia setelah Taufik Hidayat. Tentu, pencapaian yang akan menjadi babak baru dalam karier Jojo.
Yang menarik, perubahan ranking dunia tersebut tidak lahir dari kemenangan gemilang Jojo di New Delhi. Justru, sebaliknya, salah satu pemicunya adalah kekalahan mengejutkan pemain yang selama ini berada di puncak.
Adalah Shi Yuqi yang datang ke New Delhi sebagai unggulan pertama sekaligus juara dunia bertahan. Dalam ranking BWF Week 34 per 18 Agustus 2026, pemain China itu memimpin dengan 94.255 poin. Dia unggul atas Kunlavut Vitidsarn, asal Thailand, dengan 91.215 poin dan Jojo dengan 89.231 poin.
Namun, perjalanan Shi di New Delhi berakhir jauh lebih cepat dari perkiraan dunia. Pada babak pertama (R64), Shi Yuqi secara mengejutkan dikalahkan pemain tuan rumah, Ayush Shetty, dalam pertandingan tiga gim 21-14, 13-21, 21-19. Shetty, yang baru menjalani debutnya di World Championships, membukukan kemenangan terbesar dalam kariernya, sekaligus mengguncang persaingan di papan atas ranking dunia.
Di sinilah persoalan ranking menjadi menarik. BWF World Ranking bukan sebatas penjumlahan seluruh poin yang pernah dikumpulkan pemain. Ranking menggunakan hasil turnamen dalam periode 52 minggu, dengan hasil-hasil terbaik pemain yang diperhitungkan sesuai regulasi.
Karena itu, hasil World Championships 2026 tidak berdiri sendiri. Hasil dari edisi sebelumnya yang sudah mencapai batas periode juga ikut memengaruhi perhitungan. Nah, Shi Yuqi tampaknya memiliki beban besar untuk dapat mempertahankan makhkotanya. Dia juara BWF World Championships 2025. Ternyata, tahun ini justru terjungkal pada babak pertama.
Dengan demikian, kekalahan Shi Yuqi bukan sekadar kegagalan mempertahankan gelar. Dari sudut pandang ranking, kegagalan itu merupakan pukulan yang menggerus fondasi posisinya sebagai Nomor 1 dunia.
Di situlah Jojo mendapatkan keuntungan ”durian runtuh”. Pemain kelahiran 15 September 1997 itu tidak perlu menjadi juara dunia untuk merebut number one. Jojo memang tidak berhasil membawa pulang gelar dunia dari New Delhi.
Langkah pemain asal Jakarta itu terhenti di babak 16 besar setelah kalah secara mengejutkan dari pemain non-unggulan asal Dernmark, Rasmus Gemke, dengan skor 21-11, 13-21, 18-21.
Namun, ranking dunia tidak ditentukan oleh siapa yang menjadi juara satu turnamen. Perbandingannya justru menarik. Ketika Shi Yuqi kehilangan kesempatan mempertahankan poin besar dari World Championships sebelumnya, Jojo tidak mengalami penurunan dengan skala yang sama. Itulah yang membuat jarak mereka di papan ranking dapat berubah signifikan.
Pada awal pekan ini, Jojo masih berada di posisi ketiga dengan 89.231 poin. Tetapi, setelah seluruh hasil World Championships 2026 dimasukkan dan hasil lama yang sudah keluar dari periode ranking diperhitungkan, Jojo pun berpeluang melewati Shi Yuqi maupun Kunlavut dan merebut puncak klasemen ranking dunia.
Artinya, jika proyeksi tersebut terwujud, maka Jojo akan menjadi contoh menarik tentang bagaimana seorang pemain dapat menjadi Nomor 1 dunia tanpa harus memenangkan turnamen yang baru saja selesai. Dia memang tidak memenangkan World Championships. Tapi, bisa memenangkan perlombaan ranking.

Alex Lanier Juara Baru, Tidak Otomatis Nomor 1
Drama ranking tunggal putra juga memiliki tokoh lain, yakni Alex Lanier. Pemain Prancis berusia 21 tahun itu menciptakan sejarah besar di New Delhi. DIa menjadi pemain Prancis pertama yang menjuarai tunggal putra World Championships. Lanier mengalahkan unggulan Jepang, Kodai Naraoka, dua gim langsung, 21-11, 21-11, dalam laga final pada Minggu (23/8).
Gelar tersebut memberinya 13.000 poin ranking menurut sistem BWF untuk World Championships. Sistem poin Kejuraan Dunia menempatkan juara dengan 13.000 poin, runner-up 11.000, semifinalis 9.200, perempat final 7.200, dan seterusnya. Nah, karena itu ranking dunia Lanier diperkirakan melonjak tajam dari posisi sebelumnya di luar tiga besar.
Jadi, ada perbedaan penting antara menjadi juara dunia dan menjadi Nomor 1 dunia. Lanier baru mendapatkan ledakan poin dari satu turnamen. Sementara ranking Nomor 1 merupakan hasil akumulasi performa dalam periode yang jauh lebih panjang.
Itulah sebabnya perebutan posisi teratas setelah New Delhi tersebut, justru menjadi pertarungan Jojo, Kunlavut, dan pemain-pemain papan atas lainnya. Adapun Lanier menjadi salah seorang pemain yang paling mencolok dalam daftar biggest mover.
Ayush Shetty, “Pahlawan” untuk Jonatan Christie
Dari perspektif Indonesia, ada satu ironi menari. Jika Jojo nanti benar-benar naik menjadi Nomor 1 pada ranking yang dirilis Selasa (25/8), nama Ayush Shetty layak disebut dalam cerita tersebut. Shetty memang bukan rekan setim Jonatan.
Bahkan, pemain muda India itu tidak bertanding untuk kepentingan Indonesia. Pemain 21 tahun itu hanya berusaha memenangkan pertandingan di hadapan publik negaranya sendiri.
Namun, kemenangan Shetty atas Shi Yuqi dengan 21-14, 13-21, 21-19 membuat jalur persaingan ranking berubah secara fundamental. Dengan bahasa sederhana, Shetty mengalahkan Shi Yuqi maka Shi Yuqi kehilangan peluang mempertahankan poin besar, dan Jojo tetap relatif stabil, maka jarak poin berubah. Karena itu, peluang Jojo menuju Nomor 1 menjadi terbuka.
Karena itu, Shetty pun bisa disebut sebagai “pahlawan tak langsung” bagi Jonatan, walaupun tentu saja kemenangan tersebut bukan dilakukan untuk membantu pemain Merah Putih. Menariknya lagi, sebelumnya Shetty pun juga pernah menjungkalkan Jojo di Badminton Asia Championships 2026.
Jadi, dalam satu musim, pemain muda India itu bisa menjadi batu sandungan bagi Jojo sekaligus—secara tidak langsung—membuka jalan bagi Jojo menuju puncak ranking dunia.
Jika Jojo nanti benar-benar menjadi Nomor 1 dunia, Indonesia tentu layak memberikan apresiasi. Namun, jangan sampai angka No. 1 itu menutup mata terhadap pertanyaan yang lebih besar. Seberapa sehat sebenarnya prestasi tunggal putra Indonesia maupun sektor lainnya?
Dalam beberapa tahun terakhir, grafiknya tidak sepenuhnya menunjukkan dominasi seorang pemain yang terus-menerus berada di puncak. Demikian juga Jojo. Tahun 2024 memang memberikan alasan besar untuk optimistis. Jojo sukses memenangkan All England, gelar Super 1000 pertamanya. Lalu, menjadi juara Badminton Asia Championships. Bahkan, dia sempat membawa Indonesia tampil kuat di Thomas Cup.
Tetapi momentum itu tidak sepenuhnya berlanjut. Di Olimpiade Paris 2024, Jojo justru tersingkir di fase grup. Setelah itu, performanya lebih berliku. Pada 2025 sempat mengalami periode tanpa gelar sebelum bangkit dengan kemenangan di Korea Open, Denmark Open, dan Hylo Open pada paruh kedua tahun tersebut.
Namun, World Tour Finals 2025 kembali menjadi catatan pahit. Jojo kalah dalam tiga pertandingan fase grup dan tersingkir.
Pada 2026, konsistensi tersebut kembali menjadi pertanyaan besar. Di World Championships New Delhi, Jojo memang lolos sampai babak 16 besar. Eh langkahnya terhenti dari pemain yang berada jauh di bawahnya dalam ranking, Rasmus Gemke.
Titik Awal Pertanyaan Baru untuk Merah Putih
Jika nanti Jojo benar-benar dinobatkan sebagai World No. 1, pencapaian tersebut harus dibaca dalam dua sisi. Pertama, sisi sejarah. Indonesia kembali memiliki tunggal putra yang berdiri di puncak ranking dunia. Bagi Jojo, tentu akan menjadi pencapaian monumental setelah bertahun-tahun berada di antara elite dunia. Sisi kedua adalah alarm.
Status Nomor 1 tidak otomatis berarti Indonesia sudah kembali menjadi kekuatan dominan di sektor tunggal putra. Justru sebaliknya, gelar tersebut harus menjadi titik awal pertanyaan baru. Bisakah Jojo mempertahankan posisi itu dengan prestasi di lapangan, bukan sekadar karena perubahan perhitungan poin dan tergelincirnya pesaing?
Itulah tampaknya sebuah paradoks yang mungkin muncul pada ranking BWF pada 25 Agustus. Indonesia bisa saja mendapatkan kabar baik bahwa Jonatan Christie, World No. 1 Men’s Singles. Namun, pada saat yang sama, juara dunia tunggal putra justru berasal dari Prancis melalui Alex Lanier.
China memiliki Shi Yuqi dan Li Shi Feng. Thailand memiliki Kunlavut Vitidsarn. Denmark tetap memiliki Anders Antonsen. Chinese Taipei (Taiwan) mempunyai Chou Tien Chen dan Lin Chun-Yi.
Bahkan, negara-negara yang sebelumnya tidak identik dengan dominasi badminton, seperti Kanada dan India, mulai menghasilkan pemain yang mampu mengganggu peta lama.
Yang jelas, bulu tangkis dunia sedang bergerak. Karena itu, tantangannya bukan sekadar ranking, melainkan membuktikan bahwa tepok bulu Indonesia memang pantas kembali diperhitungkan dan berada di puncak. Apakah Indonesia hanya puas menyaksikan kebangkitan ”dunia lain” atau masih terus berpayung mendung juara? (*)








