KabarBaik.co, Jombang – Deretan topeng kayu tersimpan rapi di dalam kotak tua di sebuah rumah sederhana di Desa Jatiduwur, Kesamben, Jombang. Aroma bunga masih melekat di sekitarnya.
Bagi warga setempat, topeng-topeng itu bukan sekadar properti pertunjukan, melainkan pusaka warisan leluhur yang dijaga turun-temurun.
Wayang Topeng Jatiduwur hingga kini masih bertahan di tengah gempuran budaya modern. Seni pertunjukan tradisional tersebut telah hidup sejak puluhan tahun lalu dan menjadi bagian penting identitas budaya masyarakat desa.
Pengelola Sanggar Wayang Topeng Tri Purwo Budaya, Isma Hakim Rahmat mengatakan, pola pementasan Wayang Topeng Jatiduwur menyerupai wayang kulit.
Dalam pertunjukan, seorang dalang memegang kendali penuh terhadap jalannya cerita, dialog hingga gerakan para penari.
“Dalang menjadi pusat pertunjukan karena mengatur jalan cerita sekaligus membawakan narasi selama pementasan berlangsung,” kata Hakim Jumat (15/5).
Warga meyakini kesenian tersebut bermula dari Ki Purwo, sosok dalang pertama yang dikenal sebagai maestro wayang topeng di Jatiduwur.
Hingga kini, puluhan topeng peninggalannya masih disimpan dan dirawat secara khusus oleh keturunannya. Jumlahnya mencapai 33 topeng.
Sebagian warga percaya topeng-topeng itu memiliki nilai spiritual sehingga tidak boleh diperlakukan sembarangan. Jika tidak dirawat dengan baik, topeng dipercaya harus dikembalikan ke kawasan punden desa yang diyakini menjadi lokasi pertapaan Ki Purwo pada masa lalu.
Salah satu topeng yang paling dikenal ialah Topeng Klono. Topeng berwarna emas dengan karakter wajah bangsawan itu dipercaya memiliki tuah tertentu dan kerap dikaitkan dengan pengobatan tradisional warga.
“Topeng Klono sering dimanfaatkan warga sebagai bagian dari ikhtiar penyembuhan. Karena itu proses perawatannya dilakukan dengan ritual khusus,” ujarnya.
Usai pertunjukan, setiap topeng dibungkus kain sebelum dimasukkan kembali ke kotak penyimpanan. Bunga-bunga juga ditaburkan sebagai bentuk penghormatan terhadap warisan leluhur.
Karena dianggap sakral, topeng asli jarang dipakai latihan. Para penari biasanya menggunakan replika agar koleksi utama tetap terjaga.
“Para penari umumnya menggunakan replika agar koleksi utama tetap terjaga,” ungkap Hakim.
Bagi masyarakat Jatiduwur, pertunjukan wayang topeng juga sering berkaitan dengan nazar atau hajat tertentu. Pementasan digelar sebagai bentuk pemenuhan janji maupun ungkapan syukur.
Cerita yang dibawakan berasal dari Sastra Panji yang mengisahkan perjalanan Panji Inu Kertapati dan Dewi Sekartaji. Dua lakon yang paling sering dipentaskan ialah Patah Kuda Narawangsa dan Wiruncana Murca.
Di tengah keterbatasan jumlah pelaku seni, regenerasi perlahan mulai dilakukan. Jika dahulu penarinya didominasi kalangan lanjut usia, kini pemuda dan pemudi desa mulai ikut terlibat.
Budayawan Jombang, Nasrul Illah atau Cak Nas menilai pelestarian Wayang Topeng Jatiduwur tidak cukup hanya dengan mempertahankan pertunjukan rutin.
Menurut adik kandung Emha Ainun Nadjib itu, diperlukan langkah edukatif agar generasi muda memahami makna di balik setiap topeng dan cerita Panji.
“Topeng ini bukan hanya karya seni. Ada nilai kehidupan dan identitas budaya yang harus dikenalkan kepada anak-anak muda,” tuturnya.
Cak Nas bersama sejumlah seniman kini mendorong Jatiduwur menjadi kampung edukasi Wayang Topeng Panji agar seni tradisi tersebut tetap hidup berdampingan dengan perkembangan zaman. (*)







