KabarBaik.co, Jember– Lonjakan harga bahan baku kedelai mulai memicu efek domino bagi para pelaku industri rumah tangga di Jember. Kenaikan ini tidak hanya membebani biaya produksi utama, tetapi juga merembet ke harga material pendukung lainnya.
Samsul Arifin, seorang perajin tahu asal Kelurahan Mangli, Kaliwates, Jember, mengaku harus memutar otak agar usahanya tetap bertahan. Sejak awal Ramadan, harga kedelai yang semula Rp 9.600 per kilogram melonjak menjadi Rp 11.500 per kilogram.
“Untuk menyiasati kenaikan ini, saya terpaksa mengecilkan ukuran tahu agar tidak kehilangan pelanggan,” ujar Samsul saat ditemui di rumah produksinya, Minggu (19/4).
Dalam sehari, Samsul mengolah sekitar 50 hingga 60 kilogram kedelai. Namun, tantangan yang ia hadapi tidak berhenti pada bahan baku utama saja.
Ia menjelaskan beberapa item yang membuat kenaikan biaya operasional, mulai dari minyak gorang, plastik pengemas, hingga bahan bakar (kayu bakar).
Samsul lebih memilih menggunakan kayu bakar dibandingkan gas elpiji 3 kg. Selain karena faktor biaya di mana satu kali produksi bisa menghabiskan 4 tabung gas dibandingkan hanya 2 karung kayu bakar—faktor kelangkaan stok gas di pasaran juga menjadi kendala utama.
Kondisi ekonomi yang kian menjepit ini akhirnya berdampak pada tenaga kerja. Demi menjaga agar dapur produksi tetap mengepul, Samsul terpaksa mengurangi jumlah karyawannya.
“Untuk sementara, karyawan saya kurangi satu orang. Dari biasanya tiga orang, sekarang sisa dua. Ini dilakukan supaya usaha tetap berjalan,” tuturnya.
Meski ukuran tahu menjadi lebih kecil, Samsul bersyukur daya beli konsumennya yang mayoritas adalah pedagang bakso, penjual gorengan, dan pedagang tahu kocek sejauh ini belum mengalami penurunan yang drastis.
Ia berharap harga bahan baku kembali stabil agar beban perajin kecil sepertinya tidak semakin berat. (*)








