KabarBaik.co – Menunaikan ibadah haji menjadi impian yang terpatri di hati setiap Muslim, tak terkecuali Diyem Wiryo Rejo, seorang penjual jamu keliling asal Gedongan, Kota Mojokerto. Di usianya yang ke-65 tahun, perjuangan panjangnya akhirnya berbuah manis. Diyem, yang tergabung dalam kelompok terbang (kloter) 47, siap terbang ke Tanah Suci setelah menabung selama lebih dari satu dekade dari hasil berjualan jamu.
“Alhamdulillah, setelah menunggu sejak mendaftar pada tahun 2012, tahun ini akhirnya saya bisa berangkat ke Tanah Suci. Rasanya senang sekali dan bersyukur,” ujar Diyem saat ditemui di Asrama Haji Embarkasi Surabaya, Rabu Malam (14/5).
Diyem mengisahkan perjalanan panjangnya menabung untuk mewujudkan impian berhaji. Ia memulai dengan menyisihkan penghasilan dari hasil menjual jamu keliling. “Saya kumpulkan uang sedikit demi sedikit di rumah. Kalau sudah terkumpul satu juta, baru saya simpan di bank,” tutur ibu tiga anak ini.
Proses menabung itu memakan waktu sekitar sepuluh tahun hingga akhirnya terkumpul uang sebesar Rp25 juta, cukup untuk mendaftar haji. “Saya daftar bersama suami. Beliau juga menabung dari hasil jualan nasi goreng,” tambahnya.
Keinginan berhaji yang semula hanya sebatas angan mulai menguat berkat dorongan seorang teman. “Teman saya bilang, kalau ada tabungan, daftar haji saja. Dari situ saya mulai bersemangat untuk menabung lebih giat,” kenang Diyem.
Dari hasil menjual jamu keliling, Diyem mampu mengumpulkan penghasilan harian sekitar Rp100 ribu hingga Rp200 ribu. Meski tidak selalu stabil, ia tetap bersyukur. “Kalau lagi sepi, yang penting bisa balik modal,” ungkapnya.
Perjalanan hidup Diyem sebagai penjual jamu dimulai sejak usia sebelas tahun. Ia mengenang masa-masa berat saat menjajakan jamu gendong keliling Solo.
“Waktu itu susah sekali. Kalau lama tidak ada yang beli, saya duduk dulu. Jamu gendong itu berat, apalagi untuk anak-anak seusia saya yang masih senang bermain,” kenangnya.
Kini, setelah 55 tahun mengais rezeki sebagai penjual jamu, Allah memberinya hadiah terindah: kesempatan menjadi tamu-Nya di Baitullah. Diyem merasa bersyukur atas karunia tersebut, meski ia tetap tak ingin meninggalkan kebiasaannya berjualan. “Kalau libur jualan, badan rasanya malah pegal. Anak-anak sudah melarang, tapi Alhamdulillah, saya masih sehat dan mandiri,” ujarnya sambil tersenyum.
Diyem berharap perjalanan hajinya bersama sang suami akan berjalan lancar. “Semoga Allah memberikan kemudahan dalam beribadah di Tanah Suci,” harapnya penuh doa.
Bu Diyem dijadwalkan terbang ke Tanah Suci pada Kamis (15/5) pukul 10.20 WIB, membawa kisah inspiratif perjuangannya yang menggetarkan hati siapa pun yang mendengarnya.(*)








