KabarBaik.co, Blitar— Teknologi 3D printing tak lagi sekadar alat hobi. Di tangan anak muda, inovasi ini mulai menjelma menjadi peluang ekonomi kreatif yang menjanjikan. Hal itu ditunjukkan oleh Lambang Wibisono, warga Kelurahan Sananwetan, Kota Blitar.
Pemuda 27 tahun ini mengembangkan usaha pembuatan miniatur lokomotif kereta api berbasis 3D printing. Usaha tersebut mulai digeluti secara serius sejak awal 2023, berawal dari pesanan pertama yang berhasil ia selesaikan dengan hasil memuaskan.
“Awalnya coba-coba, tapi ternyata responsnya bagus. Dari situ mulai serius ditekuni,” ujarnya, Minggu (26/4).
Sejak itu, pesanan terus berdatangan, terutama dari komunitas pecinta kereta api di berbagai daerah, mulai Jawa hingga Sumatera.
Untuk menjaga kualitas produksi, Lambang memilih memasarkan produknya melalui komunitas terbatas, seperti grup Facebook.
“Biar tidak over order, jadi kualitas tetap terjaga,” katanya.
Dalam proses produksinya, Lambang mengawali dengan riset mendalam. Ia mengumpulkan berbagai referensi foto lokomotif untuk kemudian dituangkan ke dalam desain digital menggunakan software seperti SketchUp.
“Desain harus benar-benar akurat sebelum dicetak. Kalau salah dari awal, hasil akhirnya juga tidak maksimal,” jelasnya.
Untuk menghasilkan detail yang presisi, ia lebih banyak menggunakan bahan resin, meski sesekali dipadukan dengan filamen. Tantangan terbesar justru datang dari keterbatasan data teknis, terutama untuk model lokomotif tertentu.
“Kadang blueprint sulit didapat, jadi harus riset sendiri lebih dalam,” ungkap pria yang bekerja di KAI tersebut.
Setelah proses pencetakan, tahap finishing seperti pengecatan dan pemasangan decal juga memakan waktu cukup lama demi menjaga kualitas produk.
Saat ini, miniatur lokomotif buatannya dijual dengan harga berkisar Rp 280 ribu hingga Rp 300 ribu per unit, tergantung tingkat kerumitan model.
Melihat tren yang ada, Lambang menilai peluang usaha di bidang 3D printing masih terbuka luas, tidak hanya untuk miniatur, tetapi juga kebutuhan industri kreatif lainnya.
“Teknologi itu cuma alat. Yang penting kita berani belajar dan melihat peluang dari apa yang kita suka,” pungkasnya.(*)








