Debut STY Bersama Persija Diguncang Sanksi Berat dari Federasi Sepak Bola Korea 

oleh -116 Dilihat
0105 Naskah Olahraga Timnas Indonesia U23
Shin Tae-yong saat melatih timnas Indonesia.

KabarBaik.co, Jakarta – Suasana euforia yang membuncah di kalangan pendukung Persija Jakarta, belakangan dihantam gelombang kejut. Shin Tae-yong (STY), sang arsitek yang diharapkan membawa Macan Kemayoran merebut gelar Super League musim depan, dilaporkan resmi menerima sanksi berat dari Korea Football Association (KFA).

Berita itu datang tepat di tengah Persija yang sedang menjalani turnamen pramusim Piala Presiden 2026. Di saat para pemain dan staf tengah membangun chemistry serta menatap musim kompetisi dengan optimisme tinggi, “tsunami” sanksi dari negeri ginseng justru datang mengguncang.

Apa yang Terjadi?

Menurut laporan media beberapa media Korea, Komite Keadilan KFA telah menjatuhkan sanksi berat kepada STY. Keputusan itu diambil pada awal Juli 2026 dan dikonfirmasi secara publik sekitar 23–24 Juli 2026.

Sanksi tersebut terkait kontroversi yang terjadi saat STY menangani Ulsan HD pada Agustus–Oktober 2025. Pada hari pertama kepelatihannya, STY disebut menampar pipi salah seorang bek dalam sesi perkenalan. Video kejadian itu kemudian viral.

KFA tidak membuka detail lama hukuman secara resmi dengan alasan privasi. Namun, sejumlah media menyebut kemungkinan sanksi bisa mencapai 10 tahun, bahkan seumur hidup, berupa penangguhan lisensi kepelatihan di Korea Selatan.

Namun,  sanksi tersebut hanya berlaku di Korea Selatan. Tidak ada dampak langsung terhadap aktivitas STY di luar Korea, termasuk di Indonesia.

STY resmi bergabung dengan Persija pada Juni 2026 lalu. Ia dikontrak tiga tahun. Kedatangannya langsung disambut gelombang euforia. Banyak yang melihatnya sebagai sosok yang mampu membawa Persija kembali ke puncak, setelah sebelumnya dianggap sukses mengangkat Timnas Indonesia selama lima tahun.

Kini, di tengah Persija yang sedang berlaga di Piala Presiden 2026, berita sanksi tersebut menjadi ujian mental. Di satu sisi, para pendukung tetap percaya bahwa STY tidak akan goyah. Di sisi lain, juga muncul pertanyaan. Apakah tekanan ini akan memengaruhi fokus sang pelatih?

Sementara itu, manajemen Persija Jakarta merespons dengan sikap hati-hati dan diplomatis. Dalam pernyataan resmi, klub menegaskan menghormati keputusan KFA dan akan terus berkomunikasi dengan pihak-pihak terkait untuk mendapatkan informasi yang lebih jelas.

Persija belum mengambil keputusan terkait status STY. Mereka menekankan bahwa sanksi tersebut hanya berlaku di Korea Selatan dan tidak secara otomatis memengaruhi aktivitasnya di Indonesia. Sikap yang dipilih adalah menunggu dan memantau perkembangan, bukan bereaksi berlebihan.

STY sendiri memberikan tanggapan langsung di konferensi pers di Surabaya, Sabtu (25/7), dalam rangka Piala Presiden 2026. Dia menegaskan bahwa sanksi itu tidak akan mengganggu fokusnya bersama Persija. Bahkan, STY menyatakan ingin residual di Indonesia “selama 10 tahun”.

Dia mengaku merasa ada hal yang tidak adil dalam proses di Korea itu. Tetapi, memilih untuk menerima dan tetap menjalankan tanggung jawab sebagai pelatih. “Saya datang ke sini untuk Persija, dan saya akan terus berada di sini,” tegasnya dalam konferensi pers di Hotel Vasa, Surabaya, jelang duel perdana kontra Persebaya pada Minggu (26/7) di Stadion Gelora Bung Tomo.

Di kalangan pendukung, reaksi di media sosial relatif beragam. Sejumlah pendukung menyatakan bahwa sanksi bagi STY hanya berlaku di Korea. Mereka meminta STY fokus saja di Persija dan membuktikan diri lewat hasil.

Kelompok besar masih bersikap netral, menunggu sikap resmi klub lebih lanjut dan melihat performa di Piala Presiden 2026 dulu. Ada juga yang khawatir fokus STY terganggu, terutama di awal musim. Namun, ada suara kritis yang meminta manajemen Persija memikirkan ulang kontraknya.

Dampak Nyata?

Secara regulasi, STY mungkin bisa tetap bebas melatih Persija. Sanksi KFA tidak berlaku lintas negara dan belum ada indikasi FIFA ikut campur. Artinya, secara hukum dan kontrak, posisinya di Macan Kemayoran sementara aman.

Namun secara citra, tentu ada yang berubah. Di Korea, nama STY kini dibayangi kontroversi kekerasan terhadap pemain. Di Indonesia, sebagian besar pendukung masih melihatnya sebagai “pahlawan” yang pernah membawa Timnas ke level yang lebih tinggi.

Pertanyaannya sekarang, akankah badai ini membuat STY semakin fokus membuktikan diri di Persija, atau justru menjadi beban mental di awal musim?

Satu hal, jika kelak tetap bertahan, maka panggung Super League 2026/2027 akan menjadi medan pembuktian terbaru. Bukan hanya sebagai pelatih yang ingin membawa gelar, tetapi juga sebagai sosok yang sedang berusaha bangkit dari bayang-bayang sanksi di tanah kelahirannya sendiri. (*)

Cek Berita dan Artikel kabarbaik.co yang lain di Google News

Kami mengajak Anda untuk bergabung dalam WhatsApp Channel KabarBaik.co. Melalui Channel Whatsapp ini, kami akan terus mengirimkan pesan rekomendasi berita-berita penting dan menarik. Mulai kriminalitas, politik, pemerintahan hingga update kabar seputar pertanian dan ketahanan pangan. Untuk dapat bergabung silakan klik di sini

Penulis: F. Noval
Editor: Supardi Hardy


No More Posts Available.

No more pages to load.