KabarBaik.co, Pasuruan – Perkembangan pesat teknologi Artificial Intelligence (AI) yang mengubah cara masyarakat mencari dan mengonsumsi informasi dinilai tidak mengurangi peran penting jurnalis. Di tengah banjir informasi yang dihasilkan teknologi, wartawan justru dituntut semakin mengedepankan kemampuan yang tidak dimiliki mesin, yakni menemukan fakta melalui peliputan langsung, melakukan verifikasi, serta membangun kepercayaan dengan narasumber.
Pandangan tersebut disampaikan Managing Editor Pikiran Rakyat Media Network (PRMN), Muhammad Bayu Pratama, saat menjadi narasumber dalam kegiatan External Media Gathering Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) Kantor Perwakilan II Surabaya di Pasuruan, Kamis (5/8)
Dalam sesi bertajuk “SEO for Jurnalis: Idealisme di Tengah Gempuran AI”, Bayu menjelaskan bahwa perilaku masyarakat dalam mengakses informasi terus mengalami perubahan. Setelah melewati era Print First, SEO First, dan Social Media First, kini masyarakat mulai memasuki era AI First, ketika jawaban atas berbagai pertanyaan lebih banyak dicari melalui platform AI maupun media sosial dibandingkan langsung mengunjungi situs berita.
Menurutnya, perubahan tersebut membuat nilai utama seorang jurnalis bukan lagi sekadar kemampuan menulis berita, melainkan kemampuan menghadirkan informasi eksklusif yang belum tersedia di ruang digital
“Di era AI, nilai jual jurnalis bukan lagi kemampuan menulis, tetapi kemampuan menemukan fakta yang tidak dimiliki AI,” ujar Bayu.
Ia menjelaskan AI hanya mampu mengolah dan merangkum informasi yang telah tersedia secara digital. Sebaliknya, jurnalis memiliki kemampuan melakukan observasi di lapangan, menggali informasi langsung dari narasumber, memahami konteks peristiwa, hingga menemukan fakta-fakta baru yang tidak dapat dihasilkan oleh mesin.
Karena itu, Bayu menilai masa depan industri media akan semakin ditentukan oleh kualitas peliputan, bukan semata-mata kecepatan mempublikasikan berita.
Ia juga mendorong insan pers menggabungkan prinsip Experience, Expertise, Authoritativeness, dan Trustworthiness (E-E-A-T) dengan strategi Local SEO, sehingga setiap karya jurnalistik memiliki konteks lokal yang kuat, otoritatif, relevan, dan memberikan manfaat jangka panjang bagi pembaca.
Di sisi lain, Bayu menegaskan AI tetap memiliki peran penting sebagai alat bantu dalam proses kerja jurnalistik. Teknologi tersebut dapat dimanfaatkan untuk membantu transkripsi wawancara, menyusun kerangka tulisan, melakukan brainstorming, proofreading, optimasi SEO, hingga membuat ilustrasi pendukung.
Namun demikian, ia mengingatkan penggunaan AI harus tetap berada dalam koridor etika jurnalistik.
Menurutnya, AI tidak boleh digunakan untuk membuat kutipan palsu, menciptakan narasumber fiktif, menambah maupun mengubah fakta, menulis seolah-olah wartawan hadir di lokasi, ataupun menyusun laporan investigasi tanpa dasar fakta yang dapat dipertanggungjawabkan.
“Verifikasi, konfirmasi, dan validasi tetap menjadi tugas utama jurnalis,” tegasnya.
Selain mengikuti perkembangan teknologi, Bayu menilai industri media juga menghadapi tantangan membangun model bisnis yang berkelanjutan. Untuk itu, media perlu memperkuat liputan lapangan, menghadirkan wawancara eksklusif, mengolah data menjadi informasi yang bernilai, mengoptimalkan SEO dan GEO, memanfaatkan arsip sebagai konten, memperkuat personal branding jurnalis, serta mengembangkan visual storytelling yang menarik.
Ia menambahkan wartawan masa kini juga perlu menguasai berbagai keterampilan baru seperti AI prompting, data journalism, fact checking, multimedia, hingga community journalism. Meski demikian, kemampuan teknis tersebut harus tetap diimbangi dengan empati, insting jurnalistik, keberanian, jejaring, dan integritas.
Menutup paparannya, Bayu menegaskan bahwa ancaman terbesar bagi dunia pers bukanlah kemajuan AI, melainkan ketika insan media meninggalkan esensi profesinya sebagai pencari fakta.
“Yang mengancam jurnalisme pada akhirnya adalah ketika kita berhenti melakukan kerja jurnalistik,” pungkasnya. (*)







