KabarBaik.co, Malang – Ketua Eksekutif Lembaga Dewan Adat (LDA) Keraton Surakarta sekaligus Pakasa Punjer, KPH Eddy S. Wirabhumi, mengajak masyarakat memanfaatkan perkembangan teknologi, termasuk kecerdasan buatan (AI), sebagai sarana memperkuat kecintaan terhadap budaya Nusantara. Menurutnya, kemajuan teknologi tidak boleh membuat generasi muda semakin jauh dari akar budayanya.
“Gunakan AI untuk makin mencintai budaya kita. Jangan kemudian teknologi justru menjauhkan kita dari kebudayaan sendiri,” ujar KPH Eddy saat menghadiri kegiatan kebudayaan di Kabupaten Malang, Sabtu (1/8), saat pelantikan Pakasa Malang Raya.
Ia mengatakan bangsa Indonesia kini mulai menyadari pentingnya kebudayaan sebagai fondasi pembangunan bangsa. Hal itu, menurutnya, tercermin dari hadirnya Kementerian Kebudayaan yang diharapkan mampu memperkuat upaya pelestarian budaya hingga ke daerah.
Namun, KPH Eddy menegaskan bahwa pelestarian budaya tidak bisa hanya mengandalkan pemerintah. Seluruh elemen masyarakat, termasuk media, harus ikut mengambil peran karena budaya merupakan milik bersama, bukan hanya milik keraton atau kelompok tertentu.
“Kebudayaan adalah milik kita semua. Karena itu, seluruh masyarakat harus bersama-sama menjaganya,” ungkapnya.
Ia menilai Nusantara pernah menjadi pusat peradaban di Asia berkat kekayaan budayanya. Sayangnya, masyarakat kemudian lebih banyak mengagumi budaya luar sehingga perhatian terhadap warisan budaya sendiri semakin berkurang.
“Kita pernah memimpin Asia karena kebudayaan. Tetapi karena tidak pandai merawat peradaban sendiri, akhirnya mengalami kemunduran,” ujarnya.
Menurut KPH Eddy, keberagaman budaya yang dimiliki setiap daerah justru menjadi kekuatan Indonesia. Karena itu, ia menilai kebudayaan nasional harus dibangun dengan menghargai identitas budaya lokal yang tersebar di seluruh Nusantara.
“Keindahan Indonesia justru ada karena keberagamannya. Jangan memaksakan satu budaya, tetapi kuatkan budaya daerah sebagai jati diri bangsa,” tuturnya.
Ia juga mengajak generasi muda memahami makna budaya secara lebih luas. Budaya, kata dia, bukan hanya soal kesenian, tetapi mencakup seluruh cara hidup masyarakat, mulai dari cara berpakaian, berbicara, makan hingga membangun hubungan dengan sesama.
“Bahkan cara kita memperlakukan alam juga bagian dari budaya. Dulu nenek moyang mampu mengelola sumber daya alam secara ramah lingkungan tanpa bergantung pada bahan kimia, dan itu menjadi pelajaran penting bagi kita saat ini,” katanya.
Dalam kesempatan tersebut, KPH Eddy turut memberikan apresiasi terhadap Kabupaten Malang. Menurutnya, kawasan Malang Raya memiliki sejarah peradaban yang lebih tua dibandingkan wilayah Mataram di Surakarta sehingga masyarakat setempat tidak perlu merasa rendah diri terhadap daerah lain.
“Malang Raya memiliki akar peradaban yang sangat tua. Jangan merasa inferior. Justru wilayah timur harus bangkit dan percaya diri menjaga serta mengembangkan warisan budayanya,” ucapnya.
Ia berharap organisasi pelestari budaya dapat menjadi wadah yang inklusif bagi seluruh lapisan masyarakat tanpa membedakan latar belakang. Menurutnya, siapa pun yang memiliki komitmen menjaga budaya harus diberi ruang untuk berkontribusi dalam melestarikan warisan leluhur. (*)






