Ekspor Jatim Juni 2026 Turun Jadi US$ 2,52 Miliar, Impor Naik ke US$ 2,81 Miliar

oleh -87 Dilihat
BPS Jatim
BPS Jatim

KabarBaik.co, Surabaya – Badan Pusat Statistik (BPS) Jatim mencatat nilai ekspor Jawa Timur pada Juni 2026 mencapai US$2,52 miliar, turun 10,95 persen dibandingkan Juni 2025. Di sisi lain, nilai impor pada bulan yang sama justru meningkat menjadi US$2,81 miliar, atau naik 25,04 persen secara tahunan.

Kepala BPS Jatim Herum Fajarwati mengatakan secara kumulatif selama Januari hingga Juni 2026 nilai ekspor Jawa Timur mencapai US$ 13,43 miliar, turun 4,54 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Penurunan tersebut dipengaruhi melemahnya ekspor migas maupun nonmigas.

“Ekspor nonmigas masih mendominasi dengan kontribusi mencapai 98,73 persen dari total ekspor Jawa Timur. Namun secara kumulatif nilainya turun 3,70 persen menjadi US$13,26 miliar,” ujar Herum di Surabaya, Selasa (4/8).

Penurunan ekspor juga terjadi pada sektor migas yang merosot cukup dalam, yakni 42,99 persen, menjadi US$ 170,74 juta. Pelemahan tersebut terutama disebabkan turunnya ekspor minyak mentah dan gas.

Meski demikian, tidak semua komoditas mengalami perlambatan. BPS mencatat komoditas tembaga (HS 74) menjadi penyumbang kenaikan ekspor terbesar sepanjang Januari-Juni 2026. Nilai ekspor komoditas ini meningkat 29,27 persen menjadi US$1,59 miliar, terutama ditujukan ke Tiongkok dan Thailand.

Selain tembaga, ekspor lemak dan minyak hewani atau nabati (HS 15) naik 26,15 persen menjadi US$1,37 miliar, sedangkan bahan kimia organik (HS 29) meningkat 16,73 persen menjadi US$611,73 juta. Sebaliknya, penurunan paling tajam terjadi pada komoditas perhiasan atau permata (HS 71) yang turun 46,35 persen menjadi US$1,57 miliar dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Dari sisi sektor usaha, ekspor nonmigas Jawa Timur masih didominasi industri pengolahan dengan nilai US$ 12,69 miliar atau sekitar 94,49 persen dari total ekspor nonmigas. Meski demikian, nilainya turun 2,70 persen dibandingkan Januari-Juni 2025. Sementara ekspor sektor pertanian turun 21,46 persen, sedangkan sektor pertambangan dan lainnya terkoreksi 25,70 persen.

Tiongkok Masih Jadi Tujuan Ekspor Terbesar

Selama semester pertama 2026, Tiongkok masih menjadi negara tujuan utama ekspor nonmigas Jawa Timur dengan nilai US$2,22 miliar atau berkontribusi 16,76 persen terhadap total ekspor nonmigas. Komoditas yang paling banyak dikirim ke negara tersebut antara lain lemak dan minyak hewani atau nabati, tembaga, bahan kimia organik, serta berbagai produk kimia.

Posisi berikutnya ditempati Amerika Serikat dengan nilai ekspor US$1,97 miliar, disusul Jepang, Hong Kong, dan Korea Selatan.
BPS juga mencatat ekspor ke kawasan ASEAN mencapai US$2,98 miliar, naik 12,61 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Sementara ekspor ke kawasan Uni Eropa meningkat 8,39 persen menjadi US$892,51 juta.

Impor Semester I 2026 Tumbuh Dua Digit

Berbeda dengan ekspor, kinerja impor Jawa Timur justru menunjukkan pertumbuhan. Selama Januari-Juni 2026 nilai impor mencapai US$16,51 miliar, meningkat 16,04 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2025.
Peningkatan tersebut ditopang impor nonmigas yang tumbuh 12,75 persen menjadi US$13,39 miliar, serta impor migas yang melonjak 32,67 persen menjadi US$3,12 miliar.
Pada Juni 2026 saja, nilai impor mencapai US$2,81 miliar, terdiri atas impor nonmigas sebesar US$2,29 miliar dan impor migas US$518,39 juta.

Komoditas impor nonmigas yang mengalami kenaikan terbesar adalah buah-buahan, yang naik 37,51 persen menjadi US$710,05 juta. Peningkatan juga terjadi pada komoditas pupuk yang naik 26,38 persen menjadi US$675,53 juta, serta plastik dan barang dari plastik yang tumbuh 23,31 persen menjadi US$879,75 juta.
Selain itu, mesin dan peralatan mekanis masih menjadi komoditas impor terbesar dengan nilai mencapai US$1,40 miliar sepanjang Januari-Juni 2026.

Tiongkok Dominasi Asal Barang Impor

BPS mencatat Tiongkok masih menjadi negara asal impor nonmigas terbesar bagi Jawa Timur dengan nilai US$5,21 miliar atau berkontribusi 38,94 persen terhadap total impor nonmigas.
Selanjutnya disusul Amerika Serikat sebesar US$764 juta dan Korea Selatan sebesar US$601,79 juta.

Berdasarkan penggunaan barang, impor Jawa Timur masih didominasi bahan baku dan penolong yang mencapai US$13,19 miliar atau sekitar 79,90 persen dari total impor. Adapun impor barang konsumsi tercatat US$1,81 miliar, sedangkan barang modal mencapai US$1,51 miliar.

Neraca Perdagangan Masih Defisit

Secara kumulatif Januari-Juni 2026, Jawa Timur mencatat defisit neraca perdagangan sebesar US$3,08 miliar. Kondisi ini terjadi karena nilai impor yang mencapai US$16,51 miliar masih lebih tinggi dibandingkan nilai ekspor sebesar US$13,43 miliar.
Defisit terutama berasal dari sektor migas yang mencapai US$2,95 miliar, sedangkan sektor nonmigas juga mengalami defisit relatif kecil sebesar US$129,54 juta.

Meski demikian, Jawa Timur masih mempertahankan struktur ekspor yang didominasi produk industri pengolahan serta memperlihatkan pertumbuhan pada sejumlah komoditas unggulan seperti tembaga, minyak nabati, dan bahan kimia organik yang menjadi penopang ekspor selama semester pertama 2026. (*)

Cek Berita dan Artikel kabarbaik.co yang lain di Google News

Kami mengajak Anda untuk bergabung dalam WhatsApp Channel KabarBaik.co. Melalui Channel Whatsapp ini, kami akan terus mengirimkan pesan rekomendasi berita-berita penting dan menarik. Mulai kriminalitas, politik, pemerintahan hingga update kabar seputar pertanian dan ketahanan pangan. Untuk dapat bergabung silakan klik di sini

Penulis: Irma Hari Trisiawardani
Editor: Imam Wahyudiyanta


No More Posts Available.

No more pages to load.