Fenomena Bediding Bikin Malam hingga Dini Hari Kian Dingin, Bromo Berpotensi Alami Embun Beku

oleh -104 Dilihat
Ilustrasi. Embun beku di Gunung Bromo. (Foto: Ist)
Ilustrasi. Embun beku di Gunung Bromo. (Foto: Ist)

KabarBaik.co, Sidoarjo – Sejumlah wilayah di Jawa Timur dalam beberapa hari terakhir merasakan suhu udara yang lebih dingin, terutama pada malam hingga dini hari. Kondisi ini merupakan fenomena yang umum terjadi saat musim kemarau yang dikenal dengan istilah bediding.

Fenomena bediding terjadi hampir setiap tahun di wilayah Pulau Jawa. Selain membuat udara terasa lebih sejuk, kondisi ini juga kerap memunculkan embun beku atau embun upa di kawasan pegunungan yang memiliki suhu udara rendah.

Prakirawan BMKG Juanda Levi Ratnasari menjelaskan bahwa bediding dipengaruhi oleh Angin Monsun Australia yang bersifat kering dan dingin. Angin tersebut bergerak menuju Asia dengan melintasi wilayah Indonesia sehingga membawa massa udara yang lebih sejuk.

Selain itu, minimnya tutupan awan saat musim kemarau membuat panas yang diserap bumi pada siang hari lebih cepat dilepaskan ke atmosfer pada malam hari sehingga suhu udara turun secara signifikan.

“Fenomena bediding adalah kondisi udara yang terasa dingin pada malam hingga pagi hari dan terjadi pada musim kemarau. Ini merupakan fenomena ilmiah yang berulang setiap tahunnya. Faktor terjadinya bediding yakni adanya Angin Monsun Australia yang bersifat kering dan dingin yang bergerak menuju Asia melewati wilayah Indonesia, khususnya Pulau Jawa,” jelasnya pada KabarBaik.co, Sabtu (13/6).

Menurutnya, rendahnya kelembapan udara selama musim kemarau juga berperan dalam mempercepat penurunan suhu. Udara yang lebih kering membuat suhu permukaan bumi turun lebih cepat pada malam hingga dini hari dibandingkan saat kondisi udara lembap.

“Di saat musim kemarau langit cenderung minim tutupan awan. Hal ini menyebabkan panas matahari yang diserap bumi pada siang hari langsung dilepaskan ke atmosfer tanpa hambatan pada malam hingga dini hari. Rendahnya kelembapan udara di musim kemarau juga mempengaruhi suhu udara di permukaan bumi turun secara drastis dan cepat,” imbhunya.

Levi menambahkan, fenomena bediding juga berkaitan dengan munculnya embun upa di kawasan pegunungan tinggi seperti Gunung Bromo. Suhu udara yang memang sudah rendah di wilayah tersebut dapat turun hingga mendekati titik beku saat bediding berlangsung.

“Adanya fenomena embun upa dipengaruhi juga oleh faktor ketinggian sebagai daerah pegunungan tinggi. Suhu alami Bromo memang sudah dingin, ditambah dengan fenomena bediding di mana suhu udara turun hingga titik beku. Saat suhu udara di dekat permukaan tanah menyentuh titik beku, uap air yang ada di sekitar rumput, dedaunan dan pasir tidak lagi menjadi embun, melainkan langsung berubah menjadi kristal es tipis,” pungkasnya.

BMKG Juanda mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan selama periode puncak bediding yang umumnya terjadi pada Juli hingga September. Warga disarankan menggunakan pakaian hangat saat beraktivitas pada malam hingga pagi hari, menjaga daya tahan tubuh dengan mengonsumsi makanan bergizi, istirahat yang cukup, serta rutin berolahraga guna menghindari gangguan kesehatan seperti flu, batuk, dan ISPA.

Selain itu, petani di wilayah dataran tinggi diminta mewaspadai potensi embun upa yang dapat merusak tanaman. Para pendaki dan wisatawan yang hendak berkunjung ke kawasan pegunungan juga diimbau menyiapkan perlengkapan hangat yang memadai dan selalu memantau informasi cuaca terkini dari BMKG sebelum melakukan aktivitas di luar ruangan.

Masyarakat juga diminta menjaga kehangatan rumah, terutama bagi anak-anak dan lansia, serta memastikan ternak terlindungi dari suhu dingin dan angin malam. BMKG menegaskan bahwa bediding merupakan fenomena alamiah yang terjadi setiap tahun, namun masyarakat tetap perlu waspada serta mengutamakan kesehatan dan keselamatan selama beraktivitas.(*)

Cek Berita dan Artikel kabarbaik.co yang lain di Google News

Kami mengajak Anda untuk bergabung dalam WhatsApp Channel KabarBaik.co. Melalui Channel Whatsapp ini, kami akan terus mengirimkan pesan rekomendasi berita-berita penting dan menarik. Mulai kriminalitas, politik, pemerintahan hingga update kabar seputar pertanian dan ketahanan pangan. Untuk dapat bergabung silakan klik di sini

Penulis: Achmad Adi Nurcahya
Editor: Andika DP


No More Posts Available.

No more pages to load.