KabarBaik.co, Bojonegoro – Kelangkaan gas LPG 3 kilogram atau gas melon dirasakan warga hampir di sejumlah wilayah di Kabupaten Bojonegoro. Tak hanya sulit didapat, kalaupun ada, harga gas subsidi ini melonjak hingga Rp 30 ribu per tabung, jauh di atas harga normal.
Kondisi tersebut membuat masyarakat harus berkeliling hingga ke daerah lain demi mendapatkan pasokan gas untuk kebutuhan sehari-hari. Meskipun telah mencari kemana-mana, namun banyak dari mereka yang mengaku kesulitan untuk mendapatkan gas tersebut.
Seperti yang dialami Rahul Oscarra, warga kelurahan Ledok Wetan, Kecamatan Bojonegoro. Dia mengaku sudah beberapa hari kesulitan memperoleh LPG 3 kilogram meski tinggal di kawasan perkotaan. “Sekarang susah sekali cari LPG 3 kilo. Kalau pun ada, harganya sudah Rp 30 ribu. Saya kemarin dapatnya harus cari ke kelurahan lain, itu pun terbatas,” ujarnya.
Kelangkaan ini pun memaksa sebagian warga kembali menggunakan cara tradisional untuk memasak. Rahul menyebut, keluarganya kini terpaksa harus beralih menggunakan kayu bakar untuk memasak karena kehabisan gas.
“Tadi sore Bu Lik (tante) masak kikil, tapi karena gasnya tidak ada, akhirnya pakai kayu bakar. Sudah lama tidak lihat pemandangan seperti ini sejak tinggal di tengah kota,” imbuhnya, Jumat (20/3).
Rahul mempertanyakan kondisi distribusi LPG yang dinilai tidak sesuai dengan pernyataan pemerintah. Sebelumnya, Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia, menyebut stok LPG dalam kondisi aman menjelang Lebaran. “Kami berharap ada penjelasan dari Pertamina Patra Niaga terkait kelangkaan ini. Soalnya beberapa waktu lalu sempat disampaikan stok aman, tapi di lapangan justru langka,” tegasnya.
Meski demikian, di balik kelangkaan tersebut, Rahul mencoba melihat sisi positif. Ia menilai kondisi ini membuat masyarakat kembali mengenal cara memasak tradisional yang lebih dekat dengan alam. “Ya, menyebalkan memang, tapi ada hikmahnya juga. Kami jadi kembali ke alam. Semoga saja masakan lebih sedap dan kondisi ini segera normal,” tandasnya. (*)







