KabarBaik.co, Surabaya – PT Pertamina resmi menyesuaikan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi mulai hari ini (1/3). Kenaikan terjadi pada sejumlah produk seperti Pertamax, Pertamax Green, Pertamax Turbo hingga Dexlite.
Meski terjadi di tengah meningkatnya tensi geopolitik antara Israel dan Iran, Pertamina memastikan penyesuaian harga tersebut tidak dipicu langsung oleh dinamika konflik di kawasan Timur Tengah.
Area Manager Communication, Relations & CSR Pertamina Patra Niaga Regional Jatimbalinus, Ahad Rahedi, menjelaskan bahwa perubahan harga BBM nonsubsidi dilakukan secara periodik dengan mempertimbangkan fluktuasi harga minyak dunia serta nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat.
“Penyesuaian harga BBM nonsubsidi mengikuti mekanisme yang berlaku, yakni berdasarkan harga minyak dunia dan kurs. Situasi geopolitik saat ini belum berdampak langsung, namun langkah-langkah mitigasi tetap kami siapkan sebagai antisipasi,” ujar Ahad.
Berdasarkan penyesuaian terbaru, harga Pertamax (RON 92) kini menjadi Rp 12.300 per liter, naik dari sebelumnya Rp 11.800 per liter pada Februari 2026. Pertamax Green (RON 95) juga mengalami kenaikan menjadi Rp 12.900 per liter dari Rp 12.450 per liter. Sementara Pertamax Turbo (RON 98) naik menjadi Rp 13.100 per liter dari sebelumnya Rp 12.700 per liter.
Untuk jenis solar nonsubsidi, Dexlite kini dibanderol Rp 14.200 per liter, meningkat dari Rp 13.250 per liter. Adapun Pertamina Dex turut naik dari Rp 13.500 menjadi Rp 14.500 per liter. Penyesuaian harga ini berlaku secara nasional dan diumumkan efektif mulai hari ini.
Di tengah kenaikan BBM nonsubsidi, harga BBM subsidi tetap dipertahankan pemerintah. Pertalite masih dijual Rp 10.000 per liter, sedangkan solar subsidi atau Biosolar (Diesel CN48) tetap Rp 6.800 per liter.
Langkah mempertahankan harga BBM subsidi dinilai sebagai upaya menjaga daya beli masyarakat, khususnya kelompok ekonomi menengah ke bawah, di tengah dinamika harga energi global.
Kenaikan harga BBM nonsubsidi pada awal Maret ini kembali menjadi pengingat bahwa sektor energi sangat dipengaruhi oleh pergerakan pasar global dan nilai tukar. Namun, Pertamina memastikan stabilitas pasokan tetap terjaga, sembari terus memantau perkembangan situasi internasional guna mengantisipasi potensi risiko ke depan. (*)






