KabarBaik.co, Surabaya – Pelaksanaan Musyawarah Nasional (Munas) HIPMI 2026 tinggal menghitung hari. Tepat pada 10 Juni mendatang, para kader terbaik Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) akan menentukan arah organisasi melalui pemilihan ketua umum baru.
Empat kandidat telah menyatakan kesiapan bertarung. Dukungan mulai mengerucut, komunikasi politik semakin intens, dan dinamika organisasi pun kian terasa.
Bagi Dewan Kehormatan BPD HIPMI Jawa Timur, M. Ali Affandi, situasi tersebut merupakan hal yang lumrah dalam sebuah kontestasi. Namun menurutnya, ada hal yang jauh lebih penting daripada sekadar memenangkan pemilihan.
“Yang paling penting bukan siapa yang menang, tetapi bagaimana proses pertandingan itu dijalankan,” ujarnya dalam tulisan reflektif bertajuk Bertanding untuk Bersanding 4.0.
Ali mengingatkan bahwa sejarah bangsa Indonesia telah memberi banyak teladan tentang bagaimana perbedaan tidak harus berujung pada permusuhan.
Ia mencontohkan hubungan antara Buya Hamka dan Presiden Soekarno. Meski pernah dipenjara pada masa pemerintahan Soekarno, Buya Hamka tetap menunjukkan kebesaran jiwa. Bahkan ketika Soekarno menjelang wafat dan berwasiat agar Hamka menjadi imam salat jenazahnya, permintaan tersebut dipenuhi tanpa menyimpan dendam.
Menurut Ali, sikap semacam itu menjadi bukti bahwa perbedaan pandangan dan persaingan tidak harus menghilangkan rasa hormat. Ia juga menyinggung sosok Mohammad Natsir yang tetap mengedepankan kepentingan bangsa meski pernah mengalami tekanan politik pada era Orde Baru.
Bagi Ali, tokoh-tokoh tersebut menunjukkan bahwa cinta terhadap bangsa harus ditempatkan di atas kepentingan pribadi maupun kelompok. Semangat itulah yang dinilai relevan untuk dibawa dalam Munas HIPMI 2026.
“Empat calon yang bertanding hari ini bukan orang luar. Mereka kader HIPMI, tumbuh dalam organisasi yang sama, dibentuk oleh nilai yang sama, dan memiliki tujuan yang sama untuk kemajuan organisasi,” katanya, Minggu (31/5).
Karena itu, ia menegaskan bahwa kontestasi di HIPMI seharusnya tidak dimaknai sebagai upaya saling menyingkirkan, melainkan sebagai proses mencari pemimpin terbaik.”Mereka bertanding untuk bersanding,” tegasnya.
Ali menilai tantangan yang dihadapi Indonesia saat ini jauh lebih besar dibanding sekadar persaingan internal organisasi. Tingginya angka pengangguran generasi muda, gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK), menurunnya daya beli masyarakat, hingga ancaman deindustrialisasi dini membutuhkan perhatian serius.
Dalam situasi tersebut, HIPMI dinilai memiliki peran strategis sebagai wadah lahirnya para pencipta lapangan kerja.
Menurutnya, organisasi pengusaha muda tidak boleh terjebak dalam aktivitas seremonial semata. HIPMI harus mampu melahirkan solusi konkret bagi persoalan ekonomi nasional melalui penguatan kewirausahaan dan penciptaan peluang usaha baru.
Di sisi lain, perkembangan teknologi dan ekonomi digital juga menghadirkan tantangan tersendiri. Kecerdasan buatan (AI) mulai mengubah pola pekerjaan, sementara jutaan pelaku UMKM masih berjuang mendapatkan akses pasar, teknologi, dan permodalan.
Ali meyakini jaringan HIPMI yang tersebar di seluruh Indonesia memiliki kapasitas untuk menjadi penggerak ekosistem tersebut.
Ia bahkan membayangkan dampak besar yang bisa tercipta apabila setiap anggota HIPMI aktif mendampingi pelaku UMKM di daerah masing-masing, membuka akses pasar, memperluas jejaring bisnis, sekaligus memperkenalkan pemanfaatan teknologi.
Menurutnya, peran itu akan semakin penting menjelang datangnya bonus demografi yang diperkirakan mencapai puncak pada 2030.
Bonus demografi dapat menjadi peluang besar apabila generasi muda memiliki pekerjaan, keterampilan, dan semangat berwirausaha.
Namun sebaliknya, kondisi itu juga bisa berubah menjadi tantangan serius apabila tidak dikelola dengan baik. Karena itu, ketua umum HIPMI yang terpilih nantinya diharapkan mampu menjadi motor penggerak organisasi sekaligus menjembatani kebutuhan dunia usaha dengan potensi besar generasi muda Indonesia.
Ali mengingatkan bahwa tidak ada ruang bagi kepemimpinan yang lahir dari perpecahan. Sebab, konflik berkepanjangan di internal organisasi hanya akan melemahkan HIPMI di tengah kebutuhan bangsa terhadap lahirnya lebih banyak pengusaha muda.
“HIPMI adalah rumah bersama. Bukan milik satu calon, bukan milik satu kelompok. Setelah Munas selesai, semua harus kembali duduk bersama dan bekerja untuk tujuan yang sama,” ujarnya.
Ia pun mengajak seluruh kader menjaga etika dan persaudaraan selama proses Munas berlangsung. Menurutnya, kemenangan tidak akan berarti jika harus dibayar dengan retaknya hubungan antarkader.
“Yang akan dikenang bukan hanya siapa yang menang. Yang akan dikenang adalah bagaimana kita saling menjaga dalam proses itu,” katanya.
Menutup pesannya, Ali kembali mengingatkan semangat yang menurutnya harus menjadi pegangan seluruh kader HIPMI menjelang Munas 2026.
“Bertanding untuk bersanding. Setelah semuanya usai, kita kembali menjadi kawan dan saudara untuk membangun HIPMI dan Indonesia yang lebih baik,” tutup Ali. (*)






