KabarBaik.co, China – Di tengah gemerlap China Open 2026 yang biasanya selalu menjadi panggung dominasi para pemain unggulan Asia, sektor tunggal putra justru menghadirkan cerita berbeda.
Kali ini, partai final mempertemukan dua nama yang datang dengan kisah masing-masing. Yakni, Chou Tien Chen, veteran tangguh asal Chinese Taipei (Taiwan) yang masih bertahan di level tertinggi, melawan Toma Junior Popov, pemain Prancis yang menjadi simbol kebangkitan generasi baru Eropa.
Pertandingan final yang digelar pada Sabtu (26/7), bukan sekadar perebutan gelar Super 1000 dengan total hadiah USD 2 juta. Tapi, pertemuan dua dunia yang berbeda. Chou membawa pengalaman panjang, mental baja, dan perjalanan karier selama lebih dari satu dekade di panggung elite. Sementara Popov datang dengan energi pemain muda yang sedang mencari pengakuan terbesar dalam kariernya.
Chou Tien Chen menjadi salah satu cerita paling menarik dalam perjalanan China Open 2026. Pemain berusia 36 tahun itu membuktikan bahwa usia bukan batas untuk tetap bersaing melawan generasi terbaik dunia.
Langkahnya ke final semakin bermakna setelah mampu menghentikan laju juara bertahan asal tuan rumah, Shi Yu Qi, sebuah kemenangan yang menunjukkan bahwa permainan sabar, disiplin, dan daya tahan masih menjadi senjata ampuh di era tunggal putra yang semakin mengandalkan kecepatan.
Selama kariernya, Chou dikenal sebagai salah satu pemain paling ulet di dunia. Dia bukan tipe pemain yang selalu mengandalkan pukulan keras untuk mengakhiri reli. Sebaliknya, membangun kemenangan melalui ketenangan, kemampuan membaca permainan, serta kesanggupan bertahan dalam pertarungan fisik yang panjang.
Gaya bermain tersebut membuat banyak lawan harus mengeluarkan kemampuan terbaik mereka untuk dapat menaklukkannya.
Tentu, bagi Chou, final China Open 2026 menjadi kesempatan untuk menambah satu lagi catatan penting dalam kariernya yang panjang. Ia pernah mencapai puncak sebagai pemain nomor satu dunia dan telah memenangkan berbagai gelar besar, tetapi gelar China Open akan menjadi pencapaian spesial dalam fase akhir kariernya.
Di sisi lain lapangan, Toma Junior Popov membawa cerita yang berbeda. Pemain Prancis ini hadir sebagai representasi kebangkitan tunggal putra Benua Eropa yang selama bertahun-tahun berada di bawah bayang-bayang kekuatan Asia.
Popov tidak datang ke final sebagai pemain yang paling banyak diprediksi. Namun, sepanjang turnamen menunjukkan bahwa dirinya mampu menghadapi tekanan panggung besar. Dengan permainan menyerang yang agresif, pukulan keras dari belakang lapangan, serta keberanian mengambil risiko, Popov perlahan mengubah statusnya dari pemain potensial menjadi penantang nyata gelar Super 1000.
Final kali ini juga menjadi kesempatan Popov untuk mencatatkan sejarah pribadi. Gelar China Open 2026 akan menjadi salah satu pencapaian terbesar dalam kariernya sekaligus menjadi sinyal bahwa pemain Eropa mulai mampu menembus dominasi tunggal putra dunia yang selama ini dikuasai China, Jepang, Indonesia, Taiwan, dan negara-negara Asia lainnya.
Menariknya, pertemuan Chou dan Popov memiliki cerita tersendiri. Keduanya bukan rival yang sering bertemu. Dari catatan pertemuan sebelumnya, Popov pernah mengalahkan Chou dalam duel tiga gim di Malaysia Open 2024. Saat itu Popov menang setelah bangkit dari ketertinggalan dengan skor 11-21, 21-19, 21-15. Hasil tersebut membuat Popov memiliki modal keunggulan psikologis menjelang final China Open 2026.
Namun, kondisi kali ini berbeda. Chou datang dengan pengalaman lebih banyak dalam menghadapi tekanan pertandingan besar, sementara Popov datang dengan kepercayaan diri setelah mencapai final turnamen level tertinggi dalam kariernya.
Pertandingan ini kemungkinan akan menjadi benturan dua gaya. Chou akan berusaha membawa laga ke dalam reli panjang, menguji kesabaran dan fisik Popov. Sebaliknya, Popov akan mencoba menjaga tempo cepat, menyerang sejak awal, dan tidak memberi ruang bagi Chou untuk mengendalikan ritme.
Dan, di Changzhou, satu gelar akan menentukan siapa yang menjadi juara. Namun lebih dari itu, final ini menjadi simbol pertemuan antara ketahanan seorang veteran dan ambisi seorang pendatang baru. (*)
Jadwal Final China Open 2026
Minggu, 26 Juli 2026
- 12.00 WIB — Feng Yan Zhe / Huang Dong Ping (China) vs Guo Xin Wa / Chen Fang Hui (China) — Ganda Campuran (XD)
- 12.50 WIB — Liu Sheng Shu / Tan Ning (China) vs Yuki Fukushima / Mayu Matsumoto (Jepang) — Ganda Putri (WD)
- 13.40 WIB — Chen Yu Fei (China) vs Akane Yamaguchi (Jepang) — Tunggal Putri (WS)
- 14.30 WIB — Chou Tien Chen (Taiwan) vs Toma Junior Popov (Prancis) — Tunggal Putra (MS)
- 15.20 WIB — Kim Won Ho / Seo Seung Jae (Korea Selatan) vs Fajar Alfian / Muhammad Shohibul Fikri (Indonesia) — Ganda Putra (MD)
Catatan: Waktu di atas adalah estimasi, kepasatian laga menyesuaikan hasil laga sebelumnya.






