KabarBaik.co, Surabaya– Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa membahas rencana penandatanganan kerja sama antara Pemprov Jatim dan Pemmprov Alexandria, Mesir, dalam pertemuan dengan Wakil Duta Besar Mesir, Dr. Amr Ahmad Mukhtar Abdul Hadi.
Pertemuan tersebut berlangsung di Masjid Nasional Al Akbar, Minggu (19/4), dan turut dihadiri oleh Rois Bi’tsah, Syekh Ahmad Muhammad Mabruk, Syekh Faraq Salim, serta Pengasuh Pondok Pesantren Amanatul Ummah, KH Asep Saifuddin Chalim.
Dalam keterangannya, Gubernur Khofifah menyampaikan bahwa pertemuan tersebut membahas tindak lanjut rencana kerja sama yang difokuskan pada sektor perdagangan dan pendidikan.
“Alhamdulillah, pagi ini dapat berdiskusi dengan Wakil Duta Besar Mesir Dr amr Ahmad Mukhtar Abdul Hadi di Masjid Al Akbar, beliau ditemani Rois Bi’tsah Syekh ahmad Muhammad Mabruk dan Syekh faraq salim dari Al Azhar Mesir,” ujarnya.
“Kami diskusi terkait tindak lanjut penandatangan protokol dengan Gubernur Alexandria bidang perdagangan dan pendidikan yang saat ini masih proses tindak lanjut untuk menjadi MoU,” terangnya menambahkan.
Khofifah menjelaskan bahwa pembahasan tersebut merupakan kelanjutan dari penandatanganan Letter of Intent (LoI) atau surat pernyataan kehendak kerja sama yang sebelumnya telah dilakukan antara Pemerintah Provinsi Jawa Timur dan Pemerintah Provinsi Alexandria yang saat itu dipimpin oleh Mohamed Taher El-Sherif.
“Penandatanganan LoI, Letter of Intent, atau surat pernyataan kehendak kerja sama sudah pernah dilakukan antara Jawa Timur dan Alexandria, kami optimis akan ada progress yang signifikan,” ucapnya.
Lebih lanjut, Khofifah menyampaikan bahwa kerja sama tersebut dirancang dalam format sister province yang telah memperoleh persetujuan dari DPRD Jawa Timur. Menurutnya, kedua wilayah memiliki potensi besar untuk saling melengkapi.
Ia mencontohkan pada sektor perdagangan, di mana Mesir memiliki budaya konsumsi kopi yang tinggi, sementara Jawa Timur merupakan salah satu daerah penghasil kopi unggulan di Indonesia.
“Ada potensi-potensi yang bisa dilakukan link and match antara Jatim dan Alexandria,” bebernya
Di sektor pendidikan, Khofifah menilai kedua wilayah memiliki kesamaan fokus dalam pengembangan sumber daya manusia. Alexandria yang juga dikenal Iskandariyah merupakan pusat pendidikan dan kebudayaan dunia Mediterania kuno untuk sebagian besar zaman Helenistik dan zaman kuno akhir.
Alexandria juga dikenal dengan perpustakaan terbesar di dunia yang memuat karya-karya penting ulama besar Islam. Sehingga diharapkan menjadi magnet bagi pendalaman sejarah Islam Tanah Air.
“Saya rasa ini bisa menjadi fondasi awal bahwa dua provinsi ini sama-sama memiliki perhatian yang besar terhadap pendidikan, ini bisa menjadi atensi kita untuk kemajuan pendidikan, transfer knowledge, bagaimana peradaban berkembang di sana dan banyak karya-karya luar biasa para ulama ada di perpustakaan di sana,” urainya.
Selain itu, Gubernur Khofifah juga mengungkapkan rencana penguatan kerja sama antara Universitas Al-Azhar dengan perguruan tinggi Nahdlatul Ulama (NU), khususnya dalam bidang pencegahan dan penanggulangan terorisme.
“Juga rencana kerjasama beberapa perguruan tinggi NU untuk bekerjasama dengan Azhar for combating terrorism,” ungkapnya.
Dalam kesempatan tersebut, Khofifah turut memaparkan pengelolaan Masjid Nasional Al Akbar yang terus dioptimalkan sebagai pusat layanan keagamaan dan sosial bagi masyarakat.
“Dengan keterbatasan lahan, kami terus memaksimalkan fungsi masjid melalui berbagai fasilitas seperti greenhouse, mini soccer berbasis pendidikan Al-Qur’an, digital library, program bagi generasi muda, Taman Asmaul Husna, hingga fasilitas ramah lingkungan,” paparnya.
Sementara itu, Wakil Duta Besar Mesir, Dr. Amr Ahmad Mukhtar Abdul Hadi, menyampaikan apresiasi atas pengelolaan Masjid Nasional Al Akbar yang dinilai mampu memberikan pelayanan optimal bagi jamaah serta menjadi pusat kegiatan keagamaan yang representatif. (*)








