Jatim Masuk 3 Besar Ekspor Ekonomi Kreatif Nasional, Kriya hingga Gim Jadi Andalan

oleh -154 Dilihat
WhatsApp Image 2026 07 30 at 1.25.24 PM
Menteri Ekonomi Kreatif Teuku Riefky Harsya (Irma Hari Trisiawardani)

KabarBaik.co, Surabaya – Jatim kembali memperkuat posisinya sebagai salah satu pusat pertumbuhan ekonomi kreatif nasional. Provinsi ini tercatat masuk tiga besar penyumbang nilai ekspor ekonomi kreatif Indonesia pada sejumlah subsektor unggulan, mulai dari kriya, kuliner, pengembang gim (game developer), hingga fotografi.

Capaian tersebut dinilai menjadi modal penting bagi Jawa Timur untuk mendorong pertumbuhan ekonomi kreatif nasional sekaligus memperluas penetrasi produk kreatif Indonesia ke pasar internasional.

Menteri Ekonomi Kreatif Teuku Riefky Harsya mengatakan Jawa Timur memiliki potensi besar karena didukung ekosistem industri kreatif yang terus berkembang. Beragam subsektor, seperti fesyen, kuliner, kriya, gim, film, musik, hingga aplikasi digital, dinilai telah menunjukkan daya saing yang semakin kuat.

“Jawa Timur berhasil masuk dalam tiga besar provinsi dengan nilai ekspor ekonomi kreatif tertinggi secara nasional pada empat subsektor unggulan. Ini menunjukkan bahwa Jawa Timur merupakan salah satu pusat pertumbuhan ekonomi kreatif Indonesia yang memiliki potensi besar untuk terus berkembang,” ujar Teuku Riefky saat menghadiri Jatim Media Summit 2026 di Surabaya, Kamis (30/7).

Berdasarkan data Kementerian Ekonomi Kreatif, subsektor kriya menjadi penyumbang terbesar. Dari total ekspor nasional sebesar US$ 3,82 miliar, Jawa Timur menempati posisi kedua setelah DKI Jakarta dengan nilai ekspor sekitar US$ 0,87 miliar atau berkontribusi 22,9 persen terhadap total ekspor nasional.

Pada subsektor kuliner, Jawa Timur juga mencatatkan kinerja positif. Dari total ekspor nasional sebesar US$0,28 miliar, provinsi ini membukukan nilai ekspor sekitar US$ 47,02 juta atau berkontribusi 16,8 persen sehingga menempati peringkat ketiga setelah Jawa Barat dan Banten.

Sementara itu, pada subsektor pengembang gim, Jawa Timur berada di posisi kedua secara nasional. Dari total ekspor nasional sebesar US$27,50 juta, Jawa Timur menyumbang sekitar US$5,56 juta atau setara 20,1 persen. Adapun pada subsektor fotografi, Jawa Timur juga berhasil masuk tiga besar provinsi penyumbang ekspor nasional.

Menurut Teuku Riefky, capaian tersebut semakin mengukuhkan ekonomi kreatif sebagai salah satu mesin baru pertumbuhan ekonomi Indonesia. Pemerintah tidak hanya mendorong peningkatan kontribusi sektor tersebut terhadap perekonomian nasional, tetapi juga berupaya menciptakan lapangan kerja berkualitas melalui penguatan talenta kreatif dan transformasi digital.

“Ekonomi kreatif kini menjadi mesin baru pertumbuhan ekonomi nasional. Fokus kami adalah menciptakan lapangan kerja berkualitas, meningkatkan keterampilan sumber daya manusia, serta memastikan produk kreatif Indonesia menjadi tuan rumah di negeri sendiri dan mampu menembus pasar global,” katanya.

Pemerintah mencatat realisasi investasi sektor ekonomi kreatif telah mencapai sekitar 9,5 persen dari total investasi nasional. Selain itu, kontribusi ekspor ekonomi kreatif ditargetkan mencapai sekitar 12 persen dari total ekspor nonmigas Indonesia.

Meski demikian, Teuku Riefky menilai potensi ekonomi kreatif nasional masih jauh lebih besar. Pasalnya, statistik ekspor saat ini belum sepenuhnya mencakup ekspor jasa digital, seperti film yang dipasarkan melalui platform streaming, musik digital, karya animator, maupun jasa programmer dan desainer yang melayani pasar internasional.

Karena itu, pemerintah terus memperkuat ekosistem ekonomi kreatif melalui pembenahan data, penyempurnaan regulasi, penguatan kelembagaan, peningkatan kualitas sumber daya manusia, penyediaan infrastruktur kreatif, komersialisasi kekayaan intelektual, perluasan akses pembiayaan dan investasi, hingga pengembangan pasar. Seluruh upaya tersebut akan dijalankan melalui kolaborasi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, akademisi, komunitas, dunia usaha, dan media.

“Pengembangan ekonomi kreatif tidak bisa dilakukan pemerintah sendiri. Diperlukan kolaborasi seluruh pemangku kepentingan agar semakin banyak local hero dan local brand, khususnya dari Jawa Timur, yang mampu bersaing di pasar internasional,” ujarnya.

Ia juga menekankan pentingnya penguatan Hak Kekayaan Intelektual (HKI) sebagai aset ekonomi. Menurutnya, HKI tidak cukup hanya didaftarkan, tetapi juga harus dapat dikomersialisasikan agar memiliki nilai tambah dan menjadi daya tarik bagi investor maupun lembaga pembiayaan.

Di sisi lain, pemerintah memastikan perkembangan teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) akan dimanfaatkan untuk meningkatkan produktivitas pelaku industri kreatif, bukan menggantikan peran kreator. Saat ini pemerintah tengah menyiapkan Peraturan Presiden mengenai peta jalan dan etika AI sebagai pedoman pemanfaatan teknologi tersebut secara bertanggung jawab.

Data pemerintah juga menunjukkan ekonomi kreatif semakin didominasi generasi muda. Sekitar 63 persen pelaku ekonomi kreatif berasal dari generasi Z dan milenial, sedangkan 58 persen di antaranya merupakan perempuan. Kondisi tersebut mencerminkan ekonomi kreatif sebagai sektor yang inklusif sekaligus memiliki prospek besar dalam menopang pertumbuhan ekonomi Indonesia pada masa mendatang.

Sebagai bagian dari upaya memperkuat posisi Indonesia di tingkat global, pemerintah akan menggelar konferensi ekonomi kreatif terbesar di dunia pada Oktober 2026 yang akan diikuti sekitar 80 negara. Ajang tersebut diharapkan menjadi etalase untuk memperkenalkan potensi ekonomi kreatif Indonesia, termasuk berbagai produk unggulan asal Jawa Timur ke pasar internasional. (*)

Cek Berita dan Artikel kabarbaik.co yang lain di Google News

Kami mengajak Anda untuk bergabung dalam WhatsApp Channel KabarBaik.co. Melalui Channel Whatsapp ini, kami akan terus mengirimkan pesan rekomendasi berita-berita penting dan menarik. Mulai kriminalitas, politik, pemerintahan hingga update kabar seputar pertanian dan ketahanan pangan. Untuk dapat bergabung silakan klik di sini

Penulis: Irma Hari Trisiawardani
Editor: Imam Wahyudiyanta


No More Posts Available.

No more pages to load.