Jelang HUT ke-39 Arema: ‘Singo Edan’ Bukan Sekadar Julukan, Ada Jejak Budaya Singa Murti

oleh -149 Dilihat
WhatsApp Image 2026 08 08 at 2.13.24 PM
Patung tiga singa di depan Stasiun Kota Baru (foto: Putut Priyono)

KabarBaik.co, Malang – Menjelang peringatan HUT Arema yang jatuh setiap 11 Agustus, nuansa Singo Edan mulai terasa di berbagai sudut Kota Malang. Spanduk bergambar singa dengan tulisan ‘Singo Edan’ mulai bertebaran, menjadi penanda kecintaan masyarakat terhadap klub sepak bola kebanggaan Arek Malang tersebut.

Arema berdiri pada 11 Agustus 1987. Pada 2026 ini, klub berjuluk Singo Edan tersebut genap berusia 39 tahun.

Simbol singa juga telah menjadi bagian yang melekat dalam identitas Kota Malang. Salah satunya terlihat dari tiga patung singa yang berdiri di depan Stasiun Kota Baru Malang. Patung tersebut dibangun pada masa pemerintahan Wali Kota Malang Anton.

Namun, di balik penggunaan simbol singa dan istilah ‘Singo Edan’, ternyata terdapat perspektif budaya yang lebih dalam. Maestro seni tradisional Tari Topeng Malangan, dalang sekaligus Ketua Dewan Kesenian Kabupaten Malang (DKKM), Ki Suroso, menyebut masyarakat Malang sebenarnya memiliki simbol singa yang berasal dari akar budaya lokal.

Menurutnya, simbol tersebut berkaitan dengan Singa Murti yang sebelumnya berkembang dalam sejarah Kerajaan Singosari. Berbeda dengan gambaran singa dari budaya Barat, Singa Murti memiliki bentuk khas dan dalam sejumlah penggambaran memiliki sayap.

“Sekarang yang digunakan singa luar negeri, tetapi kita sendiri memiliki singa, yaitu Singa Murti. Sebelumnya Singosari itu, di mana Singa Murti itu simbol dari Kerajaan Singosari termasuk pasukannya,” ujar Ki Suroso, Sabtu (8/7).

Ia menilai bentuk singa yang digunakan sebagai simbol di ruang publik saat ini tidak sepenuhnya menggambarkan karakter simbol singa yang berkembang dalam kebudayaan Malang pada masa lampau.

Termasuk tiga patung singa yang berada di depan Stasiun Kota Baru. Menurut Ki Suroso, patung tersebut dibuat oleh masyarakat, yaitu Jamran dari Kediri dan dimaksudkan sebagai simbol Singa Malang. Namun, bentuknya lebih menyerupai singa dalam representasi Eropa.

“Kalau di depan Stasiun Kota Baru dibuat patung tiga singa, itu simbol yang dibuat teman-teman dari Kediri, yaitu Mas Jamran, untuk singa sebagai simbol Malang. Tetapi singanya model Eropa, bukan singa model kita,” jelasnya.

Ki Suroso menegaskan dalam kebudayaan lokal, simbol singa tidak selalu dimaknai sebagai bentuk fisik hewan singa sebagaimana yang dikenal saat ini. Ada nilai, simbol, dan filosofi yang melekat di baliknya.

Ia juga memberikan pemaknaan berbeda terhadap istilah ‘Singo Edan’ yang selama ini menjadi identitas Arema. Menurutnya, kata ‘edan’ tidak harus dimaknai secara harfiah sebagai gila atau tidak waras.

Dalam konteks bahasa dan ungkapan masyarakat Malang, kata ‘edan’ maupun ‘gendeng’ juga dapat digunakan untuk menggambarkan sesuatu yang luar biasa atau hebat.

“Edan itu bukan gendeng atau gila, tetapi edan itu hebat. Sama dengan istilah Malangan, ‘edan arek iki rek’, ‘gendeng arek iki rek’, karena saking hebatnya,” ungkapnya.

Dengan pemaknaan tersebut, menurut Ki Suroso, istilah Singo Edan dapat dimaknai sebagai gambaran tentang sosok atau kekuatan yang luar biasa, bukan sekadar singa yang gila.

“Jadi seperti itu, Singosari edan itu edan gila enggak? Bukan. Tetapi menurut saya Singo yang hebat sekali, akhirnya hebat,” tegas dia.

Lebih jauh, ia menyebut simbol singa dalam perspektif spiritual juga berkaitan dengan kesaktian. Jejak simbol tersebut, menurutnya, dapat ditelusuri dalam sejumlah tradisi dan petilasan yang berada di wilayah Kabupaten Malang.

Ki Suroso mencontohkan petilasan Mbah Sindu Moyo dan Mbah Raseh atau Singo Moyo yang berada di wilayah Kedung Monggo dan Genengan, Kecamatan Pakisaji, Kabupaten Malang.

Menurutnya, berbagai jejak tersebut menunjukkan adanya rentetan tradisi dan pengetahuan lokal yang menempatkan simbol singa sebagai bagian penting dari kebudayaan Malang.

“Kalau di tempat saya di Kedung Monggo, Pakisaji, Kabupaten Malang, ada petilasan Mbah Sindu Moyo dan Mbah Raseh atau Singo Moyo yang ada di Genengan, Pakisaji. Ini rentetan satu fase,” tuturnya. (*)

Cek Berita dan Artikel kabarbaik.co yang lain di Google News

Kami mengajak Anda untuk bergabung dalam WhatsApp Channel KabarBaik.co. Melalui Channel Whatsapp ini, kami akan terus mengirimkan pesan rekomendasi berita-berita penting dan menarik. Mulai kriminalitas, politik, pemerintahan hingga update kabar seputar pertanian dan ketahanan pangan. Untuk dapat bergabung silakan klik di sini

Penulis: Putut Priyono
Editor: Imam Wahyudiyanta


No More Posts Available.

No more pages to load.