KabarBaik.co, Sidoarjo – Tak ingin ada anak kehilangan masa depan hanya karena persoalan ekonomi, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sidoarjo memilih turun langsung mencari dan menyelesaikan persoalan di lapangan. Melalui langkah ‘jemput bola’, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) bersama Komisi D DPRD Sidoarjo bergerak cepat menangani anak-anak yang terancam putus sekolah akibat keterbatasan biaya.
Kasus yang ditangani kali ini menimpa tiga bersaudara, anak dari pasangan Murwantono dan Rismawati Tauriya, warga Dusun Karangploso, Desa Gelang, Kecamatan Tulangan, Sidoarjo. Murwantono yang menjadi tulang punggung keluarga hanya berpenghasilan sekitar Rp 1,4 juta per bulan, sehingga himpitan ekonomi membuat ketiga anaknya sempat terancam tidak bisa melanjutkan pendidikan.
Langkah jemput bola ini menjadi bukti bahwa akses pendidikan tidak sekadar menjadi program di atas kertas. Pemerintah bergerak cepat memastikan tidak ada anak yang kehilangan hak memperoleh pendidikan hanya karena keterbatasan ekonomi keluarga.
Pelaksana Tugas Kepala Dikbud Sidoarjo Netti Lastiningsih, menjelaskan gerak cepat tersebut merupakan tindak lanjut atas arahan pimpinan daerah. Pemerintah memastikan seluruh kebutuhan pendidikan tiga bersaudara itu dipenuhi, mulai dari perlengkapan sekolah melalui dana Bantuan Operasional Sekolah Daerah (Bosda), dukungan untuk siswa SD, hingga koordinasi bersama pemerintah desa dan Bidang PAUD bagi anak yang masih bersekolah di TK Dharma Wanita.
Selain Bosda, bantuan juga dioptimalkan melalui Program Indonesia Pintar (PIP) dan BAZNAS untuk memenuhi kebutuhan seragam, tas, hingga alat tulis.
“Dalam berbagai kesempatan parenting dan forum orang tua, saya selalu menyampaikan: jangan sampai kita mewariskan kemiskinan kepada anak-anak kita. Apapun kondisi kita, yang harus diwariskan adalah pendidikan, karena pendidikanlah yang mampu mengubah hidup,”ujar Netti, Kamis (6/8).
Gerak cepat pemerintahan melalui Dikbud Kabupaten Sidoarjo mendapat sambutan haru dari Murwantono. Ia mengaku tak mampu menyembunyikan rasa syukurnya setelah ketiga anaknya dipastikan dapat kembali mengenyam pendidikan.
“Saya sangat berterima kasih kepada pemerintah yang telah membantu anak-anak kami bisa kembali sekolah. Saya juga sangat bersyukur anak-anak bisa sekolah lagi berkat bantuan pemerintah,” ujar Murwantono sambil berlinang air mata.
Kisah keluarga Murwantono menjadi bukti bahwa kehadiran pemerintah melalui langkah jemput bola mampu membuka kembali harapan bagi keluarga kurang mampu. Dengan dukungan pendidikan yang kini telah dipastikan, ketiga anaknya dapat kembali mengejar cita-cita tanpa harus dibayangi keterbatasan ekonomi.(*)






