KabarBaik.co, Malang – Kota Malang masih menghadapi tantangan dalam pengendalian penyakit campak, menyusul ditemukannya puluhan kasus suspek pada awal tahun 2026. Kepala Dinas Kesehatan Kota Malang, Husnul Muarif, mengungkapkan bahwa hingga akhir Maret 2026, tercatat sebanyak 61 kasus suspek campak yang tersebar di 16 puskesmas.
“Hingga akhir Maret 2026, terdapat 61 kasus suspek campak. Sebelumnya pada 2025, kami mencatat 312 kasus suspek, dengan 52 kasus terkonfirmasi positif melalui pemeriksaan laboratorium,” ujar Husnul, Senin (6/4).
Menurut Husnul, angka tersebut menjadi perhatian serius pemerintah daerah karena campak termasuk penyakit dengan tingkat penularan yang sangat tinggi. Terutama pada anak-anak yang belum mendapatkan imunisasi lengkap. Untuk menekan potensi penyebaran, Pemerintah Kota Malang terus menggencarkan berbagai upaya.
Salah satunya melalui program Catch Up Campaign (CUC) Campak yang digelar pada 1-7 April 2026. Program ini menyasar anak usia 9 hingga 59 bulan yang belum memperoleh imunisasi campak secara lengkap. Dari hasil verifikasi sekitar 12.000 anak sasaran, ditemukan sekitar 1.400 anak yang masih belum mendapatkan imunisasi lengkap.
Sebelumnya, Dinas Kesehatan juga telah melaksanakan Outbreak Response Immunization (ORI) dengan capaian 95,6 persen, melampaui standar kekebalan kelompok (herd immunity). Wali Kota Malang, Wahyu Hidayat, menegaskan pentingnya percepatan imunisasi sebagai langkah utama pencegahan.
“Campak sangat mudah menular. Tanpa imunisasi, risikonya serius dan bahkan dapat menyebabkan kematian,” tegasnya saat meninjau pelaksanaan imunisasi di wilayah Kelurahan Bunulrejo, Kecamatan Blimbing, Kota Malang. Melalui percepatan imunisasi ini, Pemkot Malang berharap dapat menutup celah penularan sekaligus menekan jumlah kasus suspek campak yang masih ditemukan di berbagai wilayah kota. (*)






