KabarBaik.co, Bojonegoro – Krisis air bersih kembali menghantui warga Bojonegoro setiap musim kemarau. Memasuki puncak musim kemarau pada Agustus hingga September 2026 ini, wilayah yang mengalami kekeringan terus meluas.
Berdasarkan data BPBD Bojonegoro hingga Kamis (13/8), tercatat 18 desa di 10 kecamatan mengalami kekeringan dan telah mendapatkan bantuan air bersih. Sebagian besar wilayah terdampak berada di kawasan selatan Bojonegoro, di antaranya Kecamatan Sumberrejo, Ngraho, dan Ngasem.
Kecamatan Sumberrejo dan Ngasem tercatat sebagai wilayah dengan jumlah desa terdampak kekeringan terbanyak. Masing-masing terdapat lima desa yang mengalami krisis air bersih dan membutuhkan bantuan pasokan air.
Kalaksa BPBD Bojonegoro Heru Wicaksi mengatakan hingga saat ini pihaknya telah mendistribusikan 167 tangki air bersih ke desa-desa yang mengalami kekeringan. Setiap tangki berkapasitas 5.000 liter.
“Jumlah keseluruhan distribusi air bersih sebanyak 167 tangki, dan masing-masing tangki berisi 5.000 liter air bersih,” ungkap Heru.
Dari 18 desa tersebut, Desa Sumberharjo, Kecamatan Sumberrejo, menjadi wilayah yang paling banyak menerima bantuan. BPBD telah melakukan pengiriman air bersih sebanyak 21 kali ke desa tersebut.
Sementara itu, Desa Sumberjokidul, Kecamatan Sukosewu, dan Desa Sugihwaras, Kecamatan Ngraho, masing-masing telah menerima distribusi air bersih sebanyak 18 kali. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa kebutuhan air bersih warga semakin meningkat seiring kemarau yang diperkirakan masih berlangsung hingga September mendatang.
Heru mengimbau masyarakat melakukan manajemen penggunaan air selama musim kemarau panjang. Air bersih, kata dia, perlu digunakan secara efektif dan diprioritaskan untuk kebutuhan utama.
Selain menghemat penggunaan air, masyarakat juga diminta menjaga kualitas serta merawat sumber-sumber air yang masih tersedia di lingkungan sekitar.
“Manfaatkan bak penampungan untuk mencukupi cadangan air harian,” jelasnya. (*)








