KabarBaik.co, Sidoarjo – Tanggul penahan lumpur Lapindo yang telah berdiri sejak bencana 2006 dan terus mengalami tekanan waktu kembali menjadi sorotan.
Bukan lagi sekadar rembesan kecil, aliran air yang muncul di titik 68 kini terlihat lebih deras dan mengalir di bagian kaki tanggul hingga menyerupai air terjun, sehingga memicu perhatian warga sekitar.
Meski demikian, Kementerian Pekerjaan Umum (PU) memastikan kondisi tersebut masih dalam batas aman dan telah ditangani di lapangan.
Kepala Bidang Operasi dan Pemeliharaan Direktorat Jenderal Sumber Daya Air Kementerian Pekerjaan Umum (PU) Nalfian, menegaskan bahwa kondisi tanggul penahan lumpur Lapindo di titik 68 masih dalam keadaan aman meski ditemukan adanya rembesan di bagian bawah tanggul.
Ia menjelaskan, hasil peninjauan di lapangan menunjukkan adanya aliran rembesan yang muncul di sekitar kaki tanggul. Kondisi tersebut disebutnya mirip dengan kejadian pada tahun 2024, sehingga sistem pengendalian rembesan yang sudah terpasang kembali dievaluasi.
“Saat kami cek sepertinya mengalami penyumbatan, hingga air tidak bisa mengalir melalui jalur yang sudah disiapkan,” ujarnya, Rabu (23/6).
Menurut Nalfian, sebelumnya telah dipasang saluran pengarah rembesan serta alat ukur debit berupa V-Notch yang terhubung dengan box culvert untuk mengendalikan aliran air rembesan agar tetap sesuai jalur.
Namun, akibat dugaan sumbatan, air tidak dapat mengalir sebagaimana mestinya dan kemudian mencari jalur lain hingga muncul ke permukaan di sekitar kaki tanggul.
Meski demikian, ia memastikan debit air yang keluar dari rembesan masih relatif sama dengan debit yang selama ini terukur dalam sistem pengendalian, sehingga tidak mengindikasikan adanya ancaman terhadap stabilitas tanggul.
“Untuk langkah awal kami mengarahkan aliran air ke parit di sekitar lokasi agar tidak menyebar,” katanya.
Ia juga menyampaikan bahwa Kementerian PU telah menyiapkan langkah perbaikan permanen pada titik rembesan tersebut pada tahun ini. Upaya itu mencakup perbaikan sistem pengendalian rembesan serta peninggian beberapa bagian tanggul yang mengalami penurunan tanah.
“Kami juga mempertebal tanggul 30 sentimeter,” imbuhnya.
Selain itu, peninggian tanggul dilakukan secara berkala untuk menjaga keamanan kolam penampungan lumpur, mengingat sejumlah titik mengalami penurunan elevasi. Kapasitas tampungan lumpur tercatat sekitar 45 juta meter kubik, sementara volume yang saat ini tertampung sekitar 37 juta meter kubik.(*)






