KabarBaik.co, Sidoarjo – Tanggul penahan di kawasan wisata Lumpur Lapindo, Sidoarjo, kini tengah ditinggikan sebagai langkah darurat untuk mengantisipasi luapan lumpur ke area sekitar, termasuk jalan raya yang berada di dekat lokasi.
Namun di balik upaya tersebut, warga sekitar justru semakin diliputi rasa khawatir karena volume lumpur di dalam kolam penampungan terus meningkat dan sempat hampir setara dengan ketinggian tanggul.
Peninggian tanggul dilakukan di sisi utara kawasan yang berada di bawah pengelolaan Pusat Pengendalian Lumpur Sidoarjo (PPLS). Proyek yang telah berlangsung sekitar dua pekan terakhir itu dilakukan sepanjang kurang lebih 300 meter dengan menambah ketinggian tanggul sekitar satu meter.
Yang menjadi perhatian warga, material yang digunakan untuk meninggikan tanggul bukanlah sirtu atau material konstruksi lainnya, melainkan lumpur hasil kerukan dari dalam kolam penampungan. Kondisi ini dinilai hanya menjadi solusi sementara dan berisiko apabila hujan turun dengan intensitas tinggi.
“Panjangnya peninggian tanggul yang pakai lumpur itu sekitar 300 meteran. Itu lumpur tok, bawahnya memang sirtu. Cuma satu meter itu saja yang dinaikkan pakai lumpur supaya tidak meluber ke jalan raya,” ujar Hartono, pemandu wisata sekaligus warga setempat, Rabu (10/6).
Menurut Hartono, peninggian tanggul dilakukan setelah permukaan lumpur terus mengalami kenaikan dalam beberapa bulan terakhir. Bahkan, sebelum dilakukan pengerukan darurat, tinggi lumpur di dalam kolam sempat hampir menyamai puncak tanggul sehingga memunculkan kekhawatiran akan terjadinya luapan.
Kondisi tersebut diperparah dengan berhentinya pembuangan material lumpur ke Kali Porong yang selama ini menjadi salah satu cara untuk mengurangi volume lumpur di dalam kolam penampungan. Warga menyebut aktivitas tersebut sudah tidak lagi terlihat sejak beberapa bulan terakhir.
Usmin, salah satu pemandu wisata yang setiap hari beraktivitas di kawasan Lumpur Lapindo, mengatakan dirinya sudah tidak melihat adanya pembuangan lumpur ke Kali Porong selama kurang lebih enam bulan terakhir.

“Sudah enam bulan lamanya. Saya tidak melihat adanya pembuangan lumpur ke Sungai Brantas (Kali Porong),” kata Usmin.
Akibat tidak adanya pembuangan lumpur tersebut, volume lumpur di dalam kolam terus bertambah hingga sempat hampir sejajar dengan puncak tanggul. Situasi itu membuat warga yang tinggal maupun bekerja di sekitar tanggul semakin was-was karena khawatir terjadi luapan atau kerusakan tanggul sewaktu-waktu.
Kekhawatiran juga dirasakan para penyedia jasa ojek tanggul dan pemandu wisata yang setiap hari mengantar pengunjung ke kawasan tersebut. Mereka menilai keselamatan wisatawan maupun pekerja lapangan menjadi taruhan apabila tanggul mengalami ambles atau tidak mampu menahan tekanan lumpur yang terus meningkat.
“Dua minggu kemarin itu lumpurnya sama tanggulnya tingginya sudah hampir sama, makanya lumpurnya dinaikkan ke atas tanggul buat antisipasi. Sebagai warga ya sebenarnya khawatir. Apalagi tukang ojek di sini juga was-was, takutnya ada tanggul yang ambles atau bagaimana,” lanjut Usmin.
Di tengah kondisi tersebut, warga mulai melihat adanya pemasangan patok-patok pengukuran di tanggul lapisan bawah. Berdasarkan informasi yang beredar, tanggul tersebut akan ditinggikan sekitar satu meter menggunakan konstruksi yang lebih kuat sebagai upaya pengamanan jangka panjang.
Warga berharap rencana tersebut segera direalisasikan dengan material yang lebih kokoh. Pasalnya, tanggul bukan hanya menjadi benteng utama penahan lumpur, tetapi juga melindungi kawasan wisata serta jalur transportasi di sekitar lokasi. Dengan volume lumpur yang terus meningkat dan pembuangan ke Sungai Brantas yang telah berhenti berbulan-bulan, warga menilai penguatan tanggul menjadi kebutuhan mendesak untuk mencegah potensi risiko yang lebih besar di kemudian hari. (*)






