KabarBaik.co, Jombang – Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi yang diberlakukan PT Pertamina Patra Niaga mulai berdampak pada pola pengisian BBM di sejumlah SPBU.
Di Kabupaten Jombang, antrean kendaraan di dispenser Pertamax terlihat berkurang, sementara pengguna Pertalite justru meningkat.
Pantauan di SPBU Mojongapit, Kecamatan Jombang, Rabu pagi menunjukkan jalur pengisian Pertamax relatif sepi dibandingkan hari-hari sebelumnya. Hanya beberapa kendaraan, mayoritas sepeda motor, yang tampak mengisi BBM jenis RON 92 tersebut.
Sebaliknya, antrean kendaraan terlihat lebih ramai di dispenser Pertalite. Sejumlah mobil tampak mengantre untuk mendapatkan BBM bersubsidi itu.
Perubahan tersebut terjadi setelah Pertamina resmi menyesuaikan harga BBM nonsubsidi mulai Rabu (10/6). Harga Pertamax naik dari Rp 12.300 menjadi Rp 16.250 per liter. Sementara Pertamax Green 95 meningkat dari Rp 12.900 menjadi Rp 17.000 per liter.
Salah seorang petugas SPBU Mojongapit mengatakan kondisi antrean pada hari ini berbeda dibanding biasanya. Menurutnya, jumlah pengguna Pertamax tampak menurun sejak harga BBM nonsubsidi mengalami kenaikan.
“Kalau biasanya pengguna Pertamax cukup banyak. Hari ini terlihat lebih sepi, sementara antrean di Pertalite justru meningkat,” ujarnya.
Meski demikian, pihak SPBU belum bisa memastikan apakah perubahan pola antrean tersebut sepenuhnya dipengaruhi kenaikan harga BBM.
“Kemungkinan bisa saja karena kenaikan harga, tetapi kami tidak bisa memastikan secara pasti,” tambahnya.
Sementara itu, Yusril Ferdiansyah, warga Kecamatan Peterongan, mengaku memilih beralih dari Pertamax ke Pertalite setelah harga BBM nonsubsidi naik cukup signifikan.
Menurutnya, selisih harga yang mencapai hampir Rp 4.000 per liter membuat biaya operasional kendaraan menjadi lebih besar jika tetap menggunakan Pertamax.
“Biasanya saya isi Pertamax karena memang lebih nyaman untuk kendaraan. Tapi setelah harganya naik sampai Rp 16 ribuan per liter, saya memilih beralih ke Pertalite dulu supaya pengeluaran tidak terlalu besar,” kata Yusril.
Ia mengaku keputusan tersebut diambil untuk menyesuaikan pengeluaran harian. Terlebih, kendaraan yang digunakannya menjadi sarana utama untuk beraktivitas setiap hari.
“Mudah-mudahan ke depan ada penyesuaian lagi. Kalau harganya lebih terjangkau, mungkin saya akan kembali menggunakan Pertamax,” ujarnya.
Hal senada disampaikan Mulham Fahmi, warga Kecamatan Mojowarno. Pengguna mobil itu menilai kenaikan harga Pertamax cukup berdampak terhadap biaya transportasi masyarakat.
“Kenaikannya cukup besar dan tentu berpengaruh terhadap pengeluaran bulanan. Untuk masyarakat yang setiap hari menggunakan kendaraan, biaya transportasi pasti ikut naik,” tuturnya.
Meski demikian, Mulham berharap kualitas BBM dan pelayanan yang diberikan tetap sebanding dengan harga yang dibayarkan konsumen.
“Kami memahami harga BBM mengikuti berbagai faktor, tetapi yang terpenting masyarakat tidak terlalu terbebani dan tetap memiliki pilihan bahan bakar yang sesuai dengan kemampuan masing-masing,” pungkasnya.






