KabarBaik.co, Sidoarjo – Tanggul penahan lumpur Lapindo yang dibangun untuk mencegah luapan lumpur masuk ke permukiman warga kini mulai menunjukkan tanda-tanda kerusakan serius. Setelah lebih dari dua dekade berdiri dan menahan semburan lumpur yang hingga kini masih aktif, sejumlah titik tanggul di kawasan Dusun Sengon, Desa Renokenongo, Kecamatan Porong, dilaporkan mengalami kebocoran.
Di sekitar lokasi, aroma belerang yang menyengat masih menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari warga. Namun kini, bukan hanya bau lumpur yang mengganggu, melainkan juga kekhawatiran akan kondisi tanggul yang terus menua dan mulai mengalami rembesan air dari bagian dalam.
Salah satu titik yang menjadi perhatian warga berada di petak tanggul Dusun Sengon. Dari lokasi tersebut terlihat air merembes keluar dari tubuh tanggul dan mengalir menuju area di luar tanggul.
Rosul, warga Desa Pologunting, Kecamatan Tanggulangin, mengaku terkejut saat mengetahui adanya rembesan yang berasal dari dalam tanggul.
“Saya baru tahu kalau ada tanggul yang bocor sehingga air bisa merembes keluar dari tanggul,” ujarnya Singkat pada KabarBaik.co Kamis (11/6).
Di lokasi, rembesan air terlihat sengaja diarahkan menuju anak sungai yang berada di sisi tanggul. Jejak alat berat berupa ekskavator juga tampak di sekitar area tersebut, mengindikasikan adanya upaya penanganan sementara agar aliran air tidak menggenangi kawasan sekitar.
Berdasarkan pantauan KabarBaik.co di lokasi sekitar tanggul, sebagian titik tanggul yang mengalami kebocoran tampak telah dilakukan perbaikan. Bekas pekerjaan penanganan terlihat di beberapa bagian tanggul yang sebelumnya mengalami rembesan. Namun perbaikan tersebut belum sepenuhnya menutup seluruh titik kebocoran.
Masih terlihat sejumlah rembesan air yang keluar dari balik tanggul dan mengalir ke area sekitar. Bahkan, di beberapa lokasi air terus keluar melalui celah-celah tanggul, menandakan masih adanya kebocoran yang belum tertangani secara menyeluruh.
Kondisi tersebut membuat warga semakin waswas. Mereka khawatir rembesan yang terus terjadi dapat melemahkan struktur tanggul dan memicu kerusakan yang lebih besar.
“Kalau seperti ini saya semakin takut. Kalau rembesan ini dibiarkan terus-menerus, bisa saja tanggul jebol dan berdampak kepada warga sekitar,” kata Rosul.
Tak hanya pada tubuh tanggul utama, rembesan juga terlihat muncul di beberapa titik anak sungai di kawasan Desa Pologunting. Warga menduga air tersebut berasal dari kebocoran yang terjadi pada bagian tanggul atau saluran penahan lumpur di sekitar lokasi.
Kondisi ini semakin menambah kekhawatiran masyarakat yang selama bertahun-tahun hidup berdampingan dengan kawasan semburan lumpur Lapindo. Mereka menilai pengawasan dan perawatan tanggul harus dilakukan lebih intensif mengingat usia konstruksi yang sudah melewati dua dekade.
Warga berharap pihak terkait segera melakukan pemeriksaan menyeluruh terhadap kondisi tanggul, termasuk memastikan penyebab rembesan dan tingkat keamanan struktur penahan lumpur tersebut.
Menurut mereka, langkah cepat sangat diperlukan untuk mencegah risiko yang lebih besar, mengingat ribuan warga masih bermukim di kawasan sekitar tanggul.
Hingga kini, masyarakat menantikan tindakan nyata dari pihak berwenang agar keselamatan warga tetap terjamin dan ancaman jebolnya tanggul lumpur Lapindo dapat diantisipasi sejak dini.(*)






