Ketika Wisatawan Prancis Penasaran dengan Jamasan Pusaka Suro Banyuwangi

oleh -186 Dilihat
IMG 20260617 WA0045

KabarBaik.co, Banyuwangi – Deretan keris berusia ratusan tahun tampak berjajar di Serambi Museum Blambangan, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Banyuwangi. Satu per satu pusaka warisan leluhur itu dibersihkan melalui prosesi jamasan pusaka, sebuah tradisi yang tidak hanya menjadi ritual budaya masyarakat Jawa, tetapi juga menjadi magnet bagi wisatawan asing.

Salah satu yang terpikat dengan tradisi tersebut adalah wisatawan asal Prancis, Zoe Couliard. Tak sengaja melintas di lokasi, Zoe justru menemukan pengalaman budaya yang belum pernah ia saksikan sebelumnya.

Dengan penuh rasa kagum, Zoe memperhatikan proses pembersihan keris kuno yang dilakukan secara khidmat oleh para pelestari budaya. Baginya, hal paling menarik bukan hanya bentuk keris yang unik, tetapi bagaimana masyarakat Indonesia tetap menjaga benda peninggalan masa lalu dengan penuh penghormatan.

“Tidak sengaja saya lewat sini tadi, ternyata ada aktivitas yang saya tidak pernah lihat di tempat saya. Benda-benda kuno ini yang usianya ratusan tahun masih terlihat terjaga karena dirawat dengan benar oleh generasi penerus,” ujar Zoe, Rabu (16/6).

Tradisi jamasan pusaka kembali digelar menyambut bulan Suro, bulan yang dalam budaya Jawa memiliki nilai spiritual dan refleksi diri. Di Banyuwangi, kegiatan ini menjadi ruang pertemuan antara sejarah, seni, dan kearifan lokal yang terus dirawat lintas generasi.

Bagi masyarakat Jawa, keris bukan sekadar senjata tradisional. Di balik bilahnya tersimpan nilai seni, filosofi, serta jejak perjalanan sejarah. Perawatan pusaka melalui jamasan menjadi simbol penghormatan terhadap karya para empu dan warisan budaya leluhur.

Ketua Paguyuban Panji Blambangan, Ilham Triadi Nagoro, mengatakan jamasan bukan hanya proses membersihkan benda pusaka dari kotoran maupun karat. Lebih dari itu, ritual tersebut mengandung pesan agar manusia juga melakukan pembersihan diri melalui introspeksi.

“Selain membersihkan secara fisik, prosesi itu juga sebenarnya bertujuan untuk membersihkan diri. Bagaimana manusia itu harus introspeksi setidaknya setahun sekali mengingat apa yang sudah dilakukan sepanjang tahun dan apa yang akan dilakukan pada tahun mendatang,” jelas Ilham.

Paguyuban Panji Blambangan sendiri telah konsisten menggelar tradisi jamasan sejak tahun 2006. Pelaksanaan tersebut dilakukan tidak lama setelah keris Indonesia mendapat pengakuan UNESCO sebagai warisan budaya dunia pada 2005.

Dalam prosesi tahun ini, sejumlah pusaka turut dijamas, mulai dari keris sepuh, pedang luwuk, hingga tombak biring. Salah satu yang menjadi perhatian adalah tombak biring milik Raden Tumenggung Astro Kusumo, Bupati ke-18 Banyuwangi yang memimpin wilayah tersebut pada 1888.

Rangkaian jamasan berlangsung 16 hingga 19 Juni 2026. Selain penjamasan, kegiatan juga diisi dengan pameran pusaka, sarasehan budaya, hingga konsultasi perawatan tosan aji bagi masyarakat. (*) 

Cek Berita dan Artikel kabarbaik.co yang lain di Google News

Kami mengajak Anda untuk bergabung dalam WhatsApp Channel KabarBaik.co. Melalui Channel Whatsapp ini, kami akan terus mengirimkan pesan rekomendasi berita-berita penting dan menarik. Mulai kriminalitas, politik, pemerintahan hingga update kabar seputar pertanian dan ketahanan pangan. Untuk dapat bergabung silakan klik di sini

Penulis: Muhammad Ikhwan
Editor: Hairul Faisal


No More Posts Available.

No more pages to load.