KabarBaik.co, Banyuwangi – Akademisi dan pegiat budaya Osing asal Banyuwangi, Wiwin Indiarti, menerima penghargaan nasional sebagai Pelestari Bahasa dan Sastra Daerah dari Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa. Penghargaan tersebut diberikan atas dedikasinya dalam menjaga dan melestarikan bahasa, sastra, serta tradisi masyarakat Osing Banyuwangi.
Wiwin yang mewakili Provinsi Jawa Timur dinilai konsisten melakukan penelitian, transliterasi, penerjemahan, hingga revitalisasi tradisi sastra lisan masyarakat Osing. Selama ini ia aktif mendokumentasikan manuskrip kuno beraksara Pegon dan tradisi mocoan yang diwariskan secara turun-temurun di Banyuwangi.
Dosen tetap Universitas PGRI Banyuwangi itu diketahui telah mentransliterasi sejumlah manuskrip sastra kuno seperti Lontar Yusup, Lontar Sri Tanjung, dan Lontar Tawang Alun. Ia juga mendokumentasikan tradisi mocoan seperti mocoan Lontar Yusup, Lontar Juwarsah, hingga Lontar Hadis Dagang.
Selain aktif dalam penelitian, Wiwin juga terlibat dalam preservasi dan konservasi naskah kuno Banyuwangi. Ia dipercaya Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Banyuwangi menjadi ketua tim pengusulan naskah kuno Banyuwangi sebagai IKON atau Ingatan Kolektif Nasional.
Melalui upaya tersebut, dua naskah penting Banyuwangi berhasil ditetapkan sebagai IKON, yakni Lontar Sri Tanjung pada 2024 dan Lontar Tawang Alun pada 2025. Penetapan tersebut dinilai menjadi langkah penting dalam menjaga warisan manuskrip Banyuwangi agar tetap lestari. “Bahasa dan sastra daerah adalah ruang ingatan kolektif masyarakat,” ujar Wiwin Indiarti.
Menurutnya, di dalam bahasa dan sastra daerah tersimpan nilai, pengetahuan, dan cara pandang hidup yang penting diwariskan kepada generasi muda.
Ia mengatakan pelestarian bahasa daerah tidak hanya berkaitan dengan menjaga tradisi masa lalu. Namun, pelestarian tersebut juga menjadi upaya mempertahankan identitas masyarakat di tengah perubahan zaman.
“Tradisi lisan dan manuskrip kuno memiliki nilai penting sebagai sumber pengetahuan lokal,” katanya. Karena itu, dokumentasi dan revitalisasi budaya daerah perlu terus dilakukan secara berkelanjutan.
Penghargaan tersebut sekaligus menegaskan Banyuwangi sebagai salah satu daerah yang aktif menjaga warisan budaya berbasis bahasa, sastra, dan manuskrip Nusantara. Ia berharap generasi muda ikut terlibat dalam upaya pelestarian budaya lokal Banyuwangi.
“Penghargaan ini menjadi motivasi untuk terus merawat budaya dan bahasa daerah agar tetap hidup di tengah masyarakat,” pungkasnya. (*)








