KabarBaik.co, Mataram – Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) Nusa Tenggara Barat (NTB) mendorong masjid, majelis taklim dan pondok pesantren menjadi pelopor penanganan sampah di lingkungan masing-masing. Dorongan tersebut disampaikan LDII NTB menjelang Musyawarah Wilayah (Muswil) VIII LDII NTB di Sunset Land, Kecamatan Sekarbela, Kota Mataram, Senin (24/8).
Ketua Umum DPP LDII, Dody Taufiq Wijaya mengatakan, persoalan lingkungan menjadi salah satu perhatian dalam program pengabdian LDII. Bahkan, pengelolaan sampah didorong hingga ke lingkungan pondok pesantren binaan. “Di pondok pesantren binaan, kami instruksikan tidak ada sampah keluar lingkungan tanpa diolah (zero waste),” kata Dody.
Ia menjelaskan, sampah organik diarahkan untuk diolah menjadi pakan ternak, sedangkan sampah nonorganik ditangani dengan fasilitas pengolahan yang tersedia. Dody juga mengapresiasi langkah warga LDII NTB dalam pelestarian lingkungan dan penanganan sampah.
Menurutnya, kepedulian terhadap lingkungan perlu dibangun sebagai kebiasaan, termasuk di kalangan generasi muda. “Mari kita sama-sama mendorong kesadaran generasi muda untuk peduli terhadap isu lingkungan hidup. Menjaga dan merawat lingkungan adalah kewajiban manusia sebagai khalifah untuk mewariskan bumi yang sehat bagi generasi mendatang,” ujarnya.
Di NTB, program penanganan sampah tersebut diperkuat melalui gagasan Program Pengelolaan Sampah Berbasis Masjid (PPSBM). Ketua Panitia Pengarah Muswil LDII NTB, M. Ramadhani mengatakan program tersebut diarahkan agar masjid tidak hanya menjadi pusat ibadah, tetapi juga menjadi pusat edukasi dan gerakan masyarakat dalam mengatasi persoalan sampah.
“Kami memiliki program setiap masjid, majelis taklim dan pondok pesantren binaan LDII di NTB menjadi pelopor ‘Masjid Bebas Sampah’ dan menggerakkan bank sampah di lingkungan masing-masing,” katanya.
Ramadhani menegaskan, persoalan sampah tidak dapat hanya mengandalkan pemerintah. Menurutnya, masyarakat harus mengambil peran mulai dari lingkungan rumah tangga. “Harus dimulai dari rumah, dari masjid, dari komunitas. Kita gerakkan warga agar memilah sampah dan mengolahnya. Kita mulai dari keluarga masing-masing, lingkungan sekitar dan seterusnya. Langkah kecil harus dilakukan dan tidak bisa ditunda,” ujarnya.
Melalui PPSBM, jamaah akan didorong untuk membangun kebiasaan memilah dan mengolah sampah. Program tersebut juga diarahkan berjalan secara sistematis dan berkesinambungan. “Dengan gerakan ini, jamaah dilatih untuk disiplin mengelola sampah sehingga tidak lagi mencemari lingkungan. PPSBM dirancang untuk memberi solusi melalui edukasi dan partisipasi jamaah,” katanya.
Ketua DPW LDII NTB, Abdullah A. Karim mengatakan, lingkungan hidup menjadi salah satu bagian dari delapan klaster program utama LDII. Klaster tersebut mencakup kebangsaan, dakwah dan keagamaan, pendidikan, ekonomi syariah, kesehatan alami, ketahanan pangan dan lingkungan, teknologi digital serta energi baru terbarukan.
“Hal ini menjadi bentuk upaya kontribusi nyata LDII dalam mendukung pembangunan berkelanjutan. Untuk itu LDII NTB berupaya melaksanakannya, salah satunya tentang kebangsaan dan lingkungan hidup,” ujarnya.
Ramadhani mengatakan, isu sampah menjadi salah satu persoalan strategis yang ingin dikontribusikan LDII NTB melalui Muswil VIII. “Muswil ini ingin mencari kontribusi nyata LDII terhadap persoalan masyarakat di Nusa Tenggara Barat, salah satunya isu lingkungan dan sampah,” katanya.
Muswil VIII LDII NTB berlangsung pada 24-25 Agustus di Gedung Sangkareang, area Kantor Gubernur NTB, Kota Mataram. Perwakilan pengurus LDII dari delapan kabupaten dan dua kota di NTB hadir mengikuti agenda tersebut. Muswil mengusung tema “Membangun Sumber Daya Manusia Profesional Religius melalui Kolaborasi dan Sinergi Bersama Menuju NTB Makmur Mendunia”. (*)






