Dari Meja Kayu Kecil, Kopi Sajang Menembus Pasar Digital dan Pendaki Rinjani

oleh -155 Dilihat
Screenshot 2026 08 24 20 39 13 101 com.whatsapp e1787578850971
Andi Suhandi memetik biji kopi miliknya. (Foto: Arief Rahman)

KabarBaik.co, Lombok Timur – Sebuah meja kayu kecil pernah menjadi etalase pertama Green Sajang Coffee milik Andi Suhandi di Desa Sajang, Kecamatan Sembalun, Lombok Timur. Tidak ada etalase khusus. Peralatan pengolahan pun masih seadanya. Proses roasting dilakukan secara manual menggunakan kompor. Produk dipajang di atas meja kayu kecil dan pemasaran mengandalkan cerita dari teman ke teman.

Dari tempat sederhana itu Andi memulai usaha kopi pada 2020. Kini, Green Sajang Coffee tidak lagi hanya mengandalkan pembeli yang datang ke kedai. Produk dipasarkan melalui Facebook dan WhatsApp, dipasok kepada sejumlah UMKM, dibeli pendaki Rinjani, serta mulai menjadi bagian dari pengalaman wisata di Desa Sajang.

Skala usahanya pun berkembang. Lahan perkebunan yang dikelola mencapai sekitar 1.000 meter persegi, dengan 20 orang pemasok kopi dan hingga 15 tenaga kerja dalam kegiatan produksi. Kapasitas produksi mencapai sekitar 50 kilogram green bean dan 20 kilogram roasted bean.

Green Sajang Coffee mengolah dua jenis kopi, yakni arabika dan robusta. Untuk mendukung proses roasting, Andi kini menggunakan mesin berkapasitas 22 kilogram. Perkembangan itu ikut mendorong omzet usaha. Jika sebelumnya berada di kisaran Rp 7 juta per bulan, kini meningkat menjadi sekitar Rp 15 juta per bulan.
Namun, angka-angka itu bermula dari sebuah meja kayu kecil.

Berawal dari Melihat Potensi Kopi Sajang

Andi memilih kopi karena melihat potensi perkebunan kopi yang cukup besar di Sajang. Saat itu, masyarakat lebih banyak menjual kopi dalam bentuk biji. Tidak banyak yang mengolahnya menjadi produk siap konsumsi. Dia kemudian mencoba mengambil bagian dari proses tersebut. Kopi tidak hanya dijual sebagai hasil kebun, tetapi diolah, disangrai, dikemas dan dipasarkan dengan membawa identitas Sajang. “Awalnya dulu cerita dari teman ke teman saja,” kata Andi.

Pelanggan pertama Green Sajang Coffee berasal dari lingkungan pertemanannya ketika Andi masih bergabung dengan Korps Sukarela (KSR) saat kuliah di Universitas Mataram. Para seniornya yang gemar minum kopi menjadi pelanggan awal. Sebagian dari mereka bahkan masih mencari kopi Sajang hingga sekarang dan beberapa berkembang menjadi reseller.

Dari jaringan pertemanan itu, pasar mulai bergerak lebih luas. Para pendaki Rinjani mulai mampir ke kedai Andi sebelum melakukan pendakian maupun ketika turun dari gunung. Ada yang menikmati kopi langsung di tempat. Ada pula yang membeli untuk dibawa pulang.

Pandemi Membawa Usaha ke Titik Terendah

Perjalanan itu tidak selalu berjalan mulus. Pandemi Covid-19 menjadi masa paling berat bagi Green Sajang Coffee. Pembatasan mobilitas membuat orang tidak leluasa bepergian dan aktivitas wisata ikut terhenti. Penjualan pun nyaris tidak bergerak. “Waktu pandemi Covid, saat itu sama sekali tidak ada penjualan. Kita tahu kondisi ekonomi saat itu memprihatinkan,” ujar Andi.

Penjualan secara online juga belum berkembang seperti sekarang. “Orang tidak bisa ke mana-mana, sehingga ekonomi tidak bergerak. Penjualan secara online juga saat itu belum seperti saat ini. Itulah masa sulit yang kami rasakan. Kita berada di titik terendah,” katanya.

Untuk menjaga pasokan bahan baku, Andi membangun pola kerja sama dengan petani melalui sistem pembayaran tempo. Dalam kondisi tertentu, Andi juga memberikan modal kepada petani menjelang panen. Setelah panen, kopi yang siap diproduksi kemudian diambil. Pola itu membuat Andi memperoleh bahan baku, sementara petani mendapatkan kemudahan modal sebelum panen.

Dari Meja Kayu ke Pasar yang Lebih Luas

Perubahan dalam pengelolaan Green Sajang Coffee mulai terjadi seiring berbagai pelatihan dan pendampingan. Salah satunya melalui Program GUMI SERI, program pemberdayaan ekonomi masyarakat di Kabupaten Lombok Timur yang dijalankan AMMAN bersama pemerintah daerah dan mitra pelaksana. AMMAN menyebut Green Sajang Coffee merupakan salah satu UMKM yang didampingi melalui program tersebut.

Screenshot 2026 08 24 20 42 42 986 com.whatsapp e1787579030610
Andi Suhandi menjemur biji kopi miliknya. (Foto: Arief Rahman)

GUMI SERI berfokus pada peningkatan kapasitas UMKM, penguatan BUMDes dan entitas pariwisata, serta pengembangan potensi ekonomi lokal yang terhubung dengan sektor pariwisata secara berkelanjutan. Green Sajang Coffee dipilih karena dinilai memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai produk lokal yang mendukung rantai nilai pariwisata di kawasan Sembalun.

Usaha tersebut memiliki keunggulan karena menggunakan kopi yang berasal dari kebun sendiri dan berada di kawasan yang erat dengan aktivitas wisata serta jalur pendakian Rinjani melalui Sajang. AMMAN menyebut sebelum pendampingan, pemasaran Green Sajang Coffee lebih banyak mengandalkan pelanggan yang datang langsung ke kedai. Setelah mengikuti program, usaha tersebut mulai menyasar pasar daring dan pasar oleh-oleh bagi pendaki.

Kartika Octaviana, Vice President Corporate Communication AMMAN, mengatakan pendampingan GUMI SERI diarahkan untuk memperkuat kemampuan usaha, mulai dari pengelolaan bisnis hingga perluasan pasar. “Targetnya meningkatkan kemampuan pelaku usaha dalam mengelola bisnis, memperkuat kualitas dan daya tarik produk, memperbaiki pengelolaan keuangan, memanfaatkan pemasaran digital, serta membuka akses pasar yang lebih luas melalui sektor pariwisata,” ujar Kartika.

Pendampingan tersebut meliputi kewirausahaan, penyusunan model dan rencana usaha, pengelolaan keuangan, pengembangan produk dan kemasan, branding dan storytelling, pemasaran digital, legalitas usaha, strategi penjualan, kolaborasi pasar serta pengenalan akses permodalan.
Menurut AMMAN, pendampingan lebih menitikberatkan pada peningkatan kapasitas dan kemandirian usaha, bukan ketergantungan terhadap bantuan keuangan langsung.

Dalam konteks Green Sajang Coffee, pendampingan diarahkan agar kopi lokal tidak hanya dijual kepada pelanggan kedai, tetapi juga dapat dipasarkan secara daring, menjadi produk oleh-oleh dan menjangkau konsumen yang lebih luas. Materi monitoring internal AMMAN juga mencatat Green Sajang Coffee telah memperoleh perluasan pasar hingga pasar luar negeri. Namun, belum terdapat keterangan mengenai negara tujuan maupun volume penjualannya.

Pendampingan Green Sajang Coffee merupakan bagian dari Program GUMI SERI yang mulai dijalankan pada 2024. Program berlangsung pada 2024–2025, dengan rangkaian pelatihan dan pendampingan lanjutan hingga Februari 2026. Bagi Andi, pelatihan tersebut memberikan perubahan dalam cara mengelola usaha. “Ada dampak yang sangat bagus juga dari pelatihan-pelatihan yang kami ikuti, bagaimana mengatur keuangan dan meningkatkan daya saing produk,” ujarnya.

Perubahan itu kemudian terlihat secara fisik. Jika dahulu produk hanya dipajang menggunakan meja kayu kecil, kini Green Sajang Coffee memiliki etalase khusus. Peralatan roasting juga berubah. Dari sebelumnya menggunakan kompor secara manual, kini Andi telah memiliki mesin roasting berkapasitas 22 kilogram.
Relasi usaha juga semakin luas. Bagi Andi, menjaga kualitas tetap menjadi cara utama mempertahankan pelanggan.

“Untuk tetap mempertahankan pelanggan dan menambah pembeli kami tetap menjaga kualitas produk dengan fokus pada kelebihan dan keunikan produk kita. Menurut saya itu senjata yang paling utama,” katanya.

Dari Kebun Sendiri ke 20 Pemasok

Pada awal usaha, Andi menggunakan kopi dari kebunnya sendiri. Hasil kebun tersebut dijual dan menjadi salah satu modal awal usaha. Ketika permintaan meningkat, pasokan dari kebun sendiri tidak lagi cukup. Andi kemudian mulai membeli kopi dari petani sekitar. Saat ini terdapat sekitar 20 orang pemasok kopi yang menjadi bagian dari rantai pasokan Green Sajang Coffee. Kopi yang digunakan terdiri dari arabika dan robusta.

Prosesnya dimulai dari kebun. Andi mendapatkan bibit kopi arabika dari pemerintah melalui Dinas Pertanian. Setelah lahan dibersihkan, bibit ditanam dan dirawat menggunakan pupuk alami, termasuk kotoran hewan. Tanaman kopi yang ditanam secara biasa dapat mulai dipanen sekitar dua tahun. Sementara teknik sambung dapat mempercepat masa panen hingga sekitar satu tahun.
Setelah panen, kopi masuk ke proses pascapanen.

Biji dipilih, dijemur hingga kadar airnya sesuai, kemudian diproses lebih lanjut. Biji kopi selanjutnya digiling dan disangrai sesuai kebutuhan. Green bean merupakan biji kopi yang belum disangrai, sedangkan roasted bean merupakan biji kopi yang telah melalui proses roasting dan siap diseduh.
Saat ini kapasitas produksi Green Sajang Coffee mencapai sekitar 50 kilogram green bean dan 20 kilogram roasted bean.

Petani Mendapat Pasar

Bagi Teguh Sanjaya, salah seorang petani yang menjadi mitra Green Sajang Coffee, kerja sama dengan Andi selama ini berjalan lancar. Harga kopi yang dijual setelah panen, menurut Teguh, mengikuti harga pasar bahkan dalam kondisi tertentu berada di atas harga pasar. “Kami bersyukur bisa bekerja sama dengan pemilik Kopi Sajang. Dari segi harga kopi yang kami jual setelah panen juga dihargakan dengan harga pasar, bahkan lebih. Itu yang membuat kami merasa beruntung bekerja sama dengan Pak Andi,” ujar Teguh.

Screenshot 2026 08 24 20 45 01 975 com.whatsapp e1787579144820
Andi Suhandi memasarkan kopi di etalase miliknya. (Foto: Arief Rahman)

Menurutnya, hubungan tersebut dibangun atas dasar kepercayaan. Petani juga mendapatkan kemudahan ketika membutuhkan modal menjelang panen. “Kadang kita dikasih kemudahan untuk mendapatkan modal. Kita diberikan biaya terlebih dahulu dan saat panen nanti kopi yang siap diproduksi tinggal diambil oleh Pak Andi,” katanya.

Teguh berharap perkembangan Green Sajang Coffee terus berlanjut sehingga memberikan dampak kepada petani yang menjadi mitranya. “Kami berharap Kopi Sajang terus berkembang sehingga berdampak kepada kita juga sebagai mitranya,” ujarnya. Kerja sama tersebut memperlihatkan bahwa perkembangan usaha pengolahan kopi tidak berhenti di tingkat produk. Ada petani yang memasok bahan baku dan mendapatkan pasar dari proses tersebut.

Pemerintah Dorong Hilirisasi Kopi Sajang

Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Lombok Timur, Lalu Fathul Kasturi, mengatakan Desa Sajang menjadi salah satu kawasan penting dalam pengembangan kopi di Kecamatan Sembalun. Menurutnya, perkembangan kopi di Sembalun berlangsung cukup pesat dengan dukungan proses hilirisasi. “Perkembangannya yang begitu pesat dan produksinya cukup bagus didukung dengan hilirisasi yang sudah berjalan dengan baik,” kata Fathul Kasturi.

Fathul menyebut lahan kopi terbesar di Sembalun terkonsentrasi di Desa Sajang dengan luas mencapai puluhan hektare. Lokasinya yang berada di atas 1.000 meter di atas permukaan laut dinilai ideal untuk pertumbuhan kopi arabika berkualitas. “Produksi lokal kami sebenarnya sudah sangat cukup. Namun, kami harus terus meningkatkan produksi untuk memenuhi kebutuhan pasar yang semakin meluas,” ujarnya.

Menurut Fathul, meningkatnya permintaan kopi Sembalun harus diikuti penguatan produksi bahan baku. Pemerintah daerah berkomitmen mendukung melalui penyediaan bibit unggul, pembinaan dan penguatan kelembagaan petani. Pada Agustus, Dinas Pertanian Lombok Timur juga menyiapkan bantuan mesin huller, penepung, roasting dan sealer untuk tiga kelompok tani di Desa Sajang. Bantuan tersebut diarahkan agar petani dapat mengolah kopi hingga menjadi produk siap jual sehingga nilai tambahnya dapat diperoleh di tingkat masyarakat.

Kopi sebagai Tumpuan Ekonomi Desa

Plt Kepala Desa Sajang yang juga Sekretaris Desa Sajang, Hidmatul Arif, mengatakan kopi telah menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat Desa Sajang. “Kopi ini menjadi komoditas unggulan di masyarakat kami hingga saat ini,” ujar Hidmatul.

Menurutnya, perkembangan pariwisata ikut mendorong petani berinovasi. Kopi yang dahulu banyak dijual secara borongan kini mulai dikemas menjadi oleh-oleh. “Seiring perkembangan zaman, kopi ini sudah mulai menjadi salah satu oleh-oleh dan para petani kita menjual dalam bentuk kemasan yang menarik,” katanya.

Pemerintah daerah, lanjutnya, turut memberikan dukungan melalui pendampingan sumber daya manusia serta sarana dan prasarana produksi. “Pengolahan kopi di tingkat masyarakat dapat meningkatkan nilai tambah bagi masyarakat,” ujarnya.

Hidmatul berharap pengembangan kopi Sajang terus mendapatkan pendampingan, termasuk dari akademisi dan praktisi, sehingga produk lokal tersebut semakin mampu bersaing. Ia juga berharap ke depan kopi Sajang dapat dikembangkan menjadi produk siap seduh dengan kemasan yang lebih menarik.

Dari Kedai ke Layar Ponsel

Perubahan juga terjadi pada cara Green Sajang Coffee menjangkau konsumen.
Andi kini memanfaatkan Facebook dan WhatsApp untuk memasarkan produk.
Jika sebelumnya penjualan lebih banyak mengandalkan pelanggan yang datang langsung, kini lebih dari separuh pembeli datang melalui jalur online. “Kalau manual penjualan dulu tidak seberapa, sekarang sudah lebih dari 50 persen pembeli melalui online,” kata Andi.

Perubahan tersebut ikut mendorong omzet usaha. Dari sebelumnya sekitar Rp 7 juta per bulan, kini omzet Green Sajang Coffee mencapai sekitar Rp 15 juta per bulan. Pasar yang dahulu dibangun melalui cerita dari teman ke teman kini bergerak melalui layar ponsel.

Ketika Kopi Bertemu Rinjani

Para pendaki menjadi salah satu pasar penting bagi Green Sajang Coffee. Mereka datang sebelum melakukan pendakian maupun ketika kembali dari Rinjani. Ada pula persoalan kemasan ketika produk kopi dibawa ke kawasan taman nasional. Andi mengatakan, adanya kebijakan terkait larangan membawa kemasan plastik tertentu ke kawasan Taman Nasional Gunung Rinjani membuat sebagian pendaki memindahkan kopi yang dibeli ke wadah seperti toples.

Bagi M. Danish, salah seorang pendaki Rinjani, Kopi Sajang pertama kali dikenalnya dari seorang teman yang membawa kopi tersebut ke Rinjani. “Awalnya saya minum Kopi Sajang dari teman yang membawa kopi ke Rinjani dan ternyata luar biasa sekali rasanya. Sejak pertama merasakan itu saya kok rasanya ketagihan dan selalu mencari Kopi Sajang saat mendaki,” ujar Danish.

Menurutnya, kopi tersebut menjadi bagian dari pengalaman ketika berada di Rinjani. “Dengan Kopi Sajang badan terasa hangat dan melengkapi pengalaman berwisata ke Rinjani sambil menikmati keindahan alam dari puncak Rinjani,” katanya.

Kopi Lokal sebagai Bagian dari Pariwisata

Ketertarikan terhadap kopi tidak hanya datang dari pendaki. Wisatawan Nusantara maupun mancanegara mulai tertarik melihat langsung proses kopi dari kebun hingga menjadi produk siap seduh. Andi kemudian membuka pengalaman bagi pengunjung yang ingin melihat proses tersebut. Pengunjung dapat melihat kebun, proses pengolahan dan menikmati kopi sambil berada di area perkebunan.

Bagi Ketua Badan Promosi Pariwisata Daerah (BPPD) NTB), Sahlan M Saleh, kopi lokal memiliki peran penting dalam memperkuat UMKM sekaligus memperkaya pengalaman wisatawan. “Kopi lokal menjadi bagian penting untuk menumbuhkan UMKM dari dampak sektor pariwisata. Produk seperti kopi juga penting untuk mengenalkan kekhasan lokal kepada wisatawan,” ujar Sahlan.

Menurutnya, kebun kopi di Sembalun juga berpeluang dikembangkan menjadi bagian dari atraksi wisata karena wisatawan dapat melihat langsung proses kopi dari kebun hingga menjadi produk siap seduh. “Wisatawan bisa merasakan langsung proses produksi dari kebun hingga menjadi produk siap seduh. Ini bisa menjadi pengalaman wisata yang menarik,” katanya.

Kopi Sajang Masuk ke UMKM

Produk Green Sajang Coffee juga bergerak melalui pelaku UMKM.
Salah satunya Zoya yang telah menjual Kopi Sajang sekitar dua tahun.
Awalnya hanya beberapa bungkus yang dititipkan. Namun permintaan terus bertambah hingga kini penjualan mencapai sekitar lima sampai 10 bungkus per hari. “Kita menjual kopi sejak dua tahun lalu. Awalnya hanya beberapa bungkus saja, namun banyak peminat dari Kopi Sajang ini sehingga bertambah terus sampai saat ini bisa laku lima sampai 10 bungkus per hari,” ujar Zoya.

Zoya menggunakan sistem konsinyasi sehingga tidak harus membayar produk di awal. “Kita senang bekerja sama dengan Pak Andi dalam menjual Kopi Sajang ini karena kita menggunakan sistem penitipan atau konsinyasi. Jadi kita tidak perlu bayar langsung, tapi nanti kalau sudah laku baru kita dibayar. Kasarnya kita nggak pakai modal,” katanya.

Menurutnya, penjualan yang berjalan lancar ikut meningkatkan pendapatan keluarganya. “Karena penjualan juga lancar, otomatis bisa meningkatkan pendapatan bagi keluarga kami,” ujarnya.

Dari Produk Kopi Menjadi Pengalaman

Perjalanan Green Sajang Coffee memperlihatkan perubahan dari hulu ke hilir. Sebagian bahan baku berasal dari kebun Andi dan sebagian lainnya dibeli dari sekitar 20 pemasok. Biji kopi kemudian diproses, disangrai dan dikemas. Produk dijual dalam bentuk green bean maupun roasted bean. Sebagian lainnya dipasarkan melalui delapan UMKM mitra.

Di sisi lain, wisatawan dapat datang langsung ke kebun untuk melihat proses produksi dan menikmati kopi.
Bagi Andi, konsep tersebut membuka kemungkinan baru. Kebun tidak hanya menjadi tempat menanam kopi, tetapi juga dapat menjadi ruang untuk mengenalkan proses produksi kepada wisatawan. Di titik itu, kopi bertemu dengan pariwisata. Petani mendapatkan pasar. UMKM mendapatkan produk untuk dijual. Pekerja mendapatkan kesempatan kerja. Wisatawan mendapatkan pengalaman.

Tantangan di Tengah Pertumbuhan
Perubahan dari meja kayu kecil menuju pasar digital tidak berarti perjalanan Green Sajang Coffee telah selesai.
Andi masih menghadapi keterbatasan peralatan dan kapasitas produksi.
Dengan kapasitas sekitar 50 kilogram green bean dan 20 kilogram roasted bean, peningkatan permintaan harus diimbangi kemampuan produksi. Mesin roasting yang digunakan saat ini memiliki kapasitas 22 kilogram.

Andi masih membutuhkan dukungan peralatan agar kapasitas produksi dapat ditingkatkan tanpa mengorbankan kualitas. Tantangan lainnya adalah menjaga kualitas kopi ketika pasar semakin luas. Baginya, kualitas dan keunikan produk tetap menjadi kunci untuk mempertahankan pelanggan.

Dari Meja Kayu Kecil

Perjalanan Green Sajang Coffee dimulai dari sebuah meja kayu kecil. Dari sana, Andi belajar mengolah kopi, mencari pelanggan dan mempertahankan usaha ketika pandemi membuat penjualan berhenti. Kini, usaha tersebut memiliki lahan perkebunan sekitar 1.000 meter persegi, 20 pemasok, hingga 15 tenaga kerja, delapan UMKM mitra dan mesin roasting berkapasitas 22 kilogram. Omzetnya bergerak dari sekitar Rp 7 juta menjadi Rp 15 juta per bulan.

Lebih dari separuh penjualan kini datang melalui kanal online. Kopi yang awalnya berasal dari kebun sendiri juga mulai menyerap hasil petani sekitar. Bagi petani seperti Teguh, ada pasar untuk hasil panen. Bagi Zoya, ada produk yang dapat dijual tanpa harus menyediakan modal awal. Bagi Danish, ada kopi yang menemani perjalanan menuju Rinjani. Sementara bagi wisatawan, kebun kopi menawarkan pengalaman lain: melihat sendiri bagaimana biji kopi ditanam, dipanen, diproses hingga akhirnya berada dalam cangkir.

Meja kayu kecil itu mungkin sudah tidak menjadi etalase utama. Tetapi dari sanalah perjalanan Green Sajang Coffee dimulai. Dari kebun Sajang, kopi bergerak ke pasar, masuk ke UMKM, menemani pendaki dan perlahan menjadi bagian dari pengalaman wisata di kaki Rinjani. (*)

Cek Berita dan Artikel kabarbaik.co yang lain di Google News

Kami mengajak Anda untuk bergabung dalam WhatsApp Channel KabarBaik.co. Melalui Channel Whatsapp ini, kami akan terus mengirimkan pesan rekomendasi berita-berita penting dan menarik. Mulai kriminalitas, politik, pemerintahan hingga update kabar seputar pertanian dan ketahanan pangan. Untuk dapat bergabung silakan klik di sini

Penulis: Arief Rahman
Editor: Hairul Faisal


No More Posts Available.

No more pages to load.