KabarBaik.co, Yogyakarta – Di bawah sorotan lampu GOR Amongrogo yang menyilaukan, Sabtu (25/4) malam, napas Boy Arnez Arabi tampak memburu. Keringat membasahi jersey Jakarta LavAni bernomor punggung 3 yang ia kenakan. Saat pembawa acara meneriakkan namanya sebagai Most Valuable Player (MVP) Proliga 2026, riuh rendah ribuan penonton seolah senyap sejenak di telinganya.
Pikiran Boy mungkin terbang jauh, melintasi ribuan kilometer. Ke sebuah kampung bernama Rantau Prapat di Labuhanbatu, Sumatera Utara. Di sana, di sebuah lapangan voli sederhana, bocah berusia tujuh tahun bernama Boy kali pertama belajar memukul bola di bawah arahan sang ayah, Ramino. Boleh jadi kala itu belum bola voli sungguhan, melainkan bola plastik dengan net dari tali rafia.
Motivasi Boy kecil sebenarnya sederhana, bahkan cenderung polos. Ia sering melihat kakaknya, Hafif Dandi, bertarung di turnamen antar-kampung (tarkam) dan kerap bepergian menaiki pesawat terbang. Bagi bocah Rantau Prapat, bisa terbang tinggi dengan “burung besi” adalah mimpi yang mewah. Siapa sangka, ketertarikan masa kecil karena ingin naik pesawat itu justru membawanya terbang lebih tinggi dari yang pernah ia bayangkan.
Bagi Boy, voli bukan sekadar olahraga, melainkan warisan. Darah atlet mengalir deras dari ayahnya. Namun, bakat saja tidak cukup. Ia sadar, untuk menjadi besar, harus berani “kecil” di tempat asing. Tahun 2020 menjadi titik balik hidupnya. Di usia remaja, Boy memilih hijrah menenteng koper meninggalkan zona nyaman demi merantau ke Jawa. Ia berpindah sekolah ke SMA Al-Nur Cibinong hanya untuk satu alasan: bergabung dengan akademi voli bentukan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), LavAni.
Di sana, ia bertemu dengan sosok yang ia anggap paling berjasa dalam hidupnya. Bagi Boy, SBY bukan sekadar pembina, melainkan mentor yang memberikan kesempatan luas untuk mengembangkan hobi hingga nasibnya berubah drastis seperti sekarang. SBY pula yang menyematkan julukan “Boy Sukhoi” kepadanya. Nama pesawat tempur itu dipilih bukan tanpa alasan; itu adalah metafora untuk kecepatan, kekuatan, dan daya gempur Boy di udara.
Uniknya, ada cerita jenaka di balik nomor punggung 3 yang kini melekat padanya. Nomor itu ternyata tidak memiliki arti filosofis pada awalnya. Saat pertama kali bergabung dengan LavAni, Boy hanya mendapatkan “sisa” nomor yang tersedia, yakni nomor 3. Ia pun memakainya tanpa banyak tanya. Namun seiring waktu, nomor “sisa” itu justru menjelma menjadi nomor hoki yang membawanya ke puncak prestasi.
Boy adalah contoh nyata bahwa dedikasi tidak pernah mengkhianati hasil. Ia dikenal dengan vertical jump yang eksplosif. Meski tingginya sekitar 188-190 cm—angka yang tergolong “standar” untuk level internasional—jangkauan spike-nya yang mencapai 355 cm adalah mimpi buruk bagi blok lawan. Tajam, bertenaga, dan mematikan. Bak Sukhoi yang sedang melakukan manuver tempur.
Namun, di musim Proliga 2026 ini, Boy menunjukkan sisi lain. Ia bukan lagi sekadar tukang gebuk bola. Ia telah bertransformasi menjadi Outside Hitter yang komplet. Kemampuan receive (penerimaan bola) yang makin stabil dan kepemimpinannya di lapangan menjadi kunci keberhasilan LavAni mempertahankan gelar juara.
Lihatlah aksinya di gold final lawan Jakarta Bhayangkara Presisi, Sabtu malam itu. Boy yang sukses meng-cover spike keras dari lawan sambil terjengkang, cepat ia bangun. Begitu bola kembali datang melambung di atasnya, tanpa ampun Boy melompat tinggi dan jedug! Smash kerasnya menghunjam bumi.

Tak heran jika gelar MVP dan Best Outside Hitter jatuh ke pelukannya secara bersamaan. Sebuah pencapaian yang melengkapi koleksi medali emas SEA Games dan gelar pemain muda terbaik yang diraih beberapa tahun sebelumnya.
Di luar lapangan, Boy tetaplah pemuda yang dikenal religius dan sangat mencintai keluarganya. Di akun media sosialnya, tak jarang ia membagikan momen kerinduan pada rumah dan dukungan tak henti dari orang tuanya di Sumatera Utara.
Bagi Boy, gelar MVP Proliga 2026 bukanlah akhir dari perjalanan. Ini hanyalah satu lagi “lompatan tinggi” dalam karier panjang yang masih membentang di hadapannya. Malam itu di Yogyakarta, Boy Arnez Arabi membuktikan satu hal: tidak peduli seberapa jauh asalmu, selama punya keberanian untuk merantau dan kerja keras untuk bertarung, takhta tertinggi bukanlah hal yang mustahil untuk digenggam.
Dari Rantau Prapat untuk Indonesia, “Si Anak Rantau” itu kini telah resmi menjadi ikon baru voli nasional. Tapi, godaan terbesarnya adalah bagaimana menjaga tetap membumi Rendah hati (*)







