KabarBaik.co – Mahasiswa Angkatan 2023 Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas PGRI Jombang (UPJB) sukses menggelar pementasan teater bertajuk Panembahan Reso.
Pementasan yang diadaptasi dari karya sastrawan legendaris W.S. Rendra ini berlangsung di Gedung Kesenian Kabupaten Jombang selama dua hari dalam tiga sesi pertunjukan. Lebih dari 500 penonton dari berbagai kalangan, mulai dari pelajar, mahasiswa, akademisi, pegiat seni, hingga masyarakat umum, memadati gedung pertunjukan.
Teater kontemporer ini menjadi bagian dari implementasi mata kuliah Penyutradaraan dan Pementasan Teater. Seluruh proses produksi digarap langsung oleh mahasiswa yang tergabung dalam Kelompok Amerta Pementasan, mulai dari penyutradaraan, manajemen produksi, artistik, tata cahaya dan suara, hingga pengelolaan kewirausahaan.
Sutradara pementasan, Indah Mey, mengaku tertarik menggarap naskah Panembahan Reso karena alur ceritanya yang sarat konflik dan relevan dengan kondisi saat ini. “Saya sangat antusias dengan naskah ini karena memiliki alur cerita yang menarik dan penuh intrik,” ujar Indah, Senin (29/12).
Hal senada disampaikan Pimpinan Produksi, Ahmad Firman Syah. Menurutnya, pemilihan lakon berlatar kerajaan ini bukan tanpa alasan. Ia menyebut tema yang diangkat justru merefleksikan realitas kekinian.
“Meski berlatar kerajaan, naskah ini mengangkat tema universal tentang ambisi, perebutan kekuasaan, konflik moral, serta runtuhnya nilai kemanusiaan akibat keserakahan. Ini sangat relevan dengan kondisi sekarang,” jelasnya.
Ketua Prodi Pendidikan Bahasa Indonesia FKIP UPJB, Dr. Fitri Resti Wahyuniarti, M.Pd., menegaskan bahwa pementasan teater ini merupakan agenda tahunan sebagai bentuk penerapan teori ke praktik nyata. “Kegiatan ini membuktikan bahwa mahasiswa kami tidak hanya disiapkan menjadi guru, tetapi juga mampu berperan sebagai aktor, sutradara, hingga tim produksi profesional,” ungkapnya.
Apresiasi juga datang dari berbagai pihak. Perwakilan Women Crisis Center (WCC), Ana Abdilah, menilai pesan kesetaraan dan kepemimpinan perempuan dalam lakon tersebut sangat kuat dan relevan.
Sementara Pegiat Budaya Jombang, Sugiati Ningsih, menyebut pementasan ini membuktikan bahwa karya-karya Rendra tetap hidup dan mampu menggerakkan ekonomi kreatif di sektor budaya.
Wakil Ketua III DPRD Kabupaten Jombang, H. M. Syarif Hidayatullah atau Gus Sentot, yang hadir bersama Wakil Rektor III UPJB Dr. Fahimul Amri, Dekan FKIP Dr. Rukminingsih, serta komedian Dika Mbeluk, turut memberikan apresiasi tinggi. “Saya belajar tentang bahaya sifat serakah dari pertunjukan ini. Semoga ini menjadi tonggak bagi lahirnya seniman-seniman muda Jombang,” kata Gus Sentot.
Tak hanya menyajikan pertunjukan, panitia juga menggelar diskusi publik bersama seniman dan akademisi untuk membedah nilai-nilai filosofis dalam naskah Panembahan Reso. Melalui rangkaian kegiatan ini, mahasiswa diharapkan mampu menjadikan teater bukan sekadar tontonan, tetapi juga tuntunan sebagai bagian dari peran mereka sebagai agen kebudayaan. (*)







