KabarBaik.co, Sidoarjo – Masjid Baitul Hamdi yang ada di dekat tanggul lumpur Lapindo di Desa Besuki, Jabon, Sidoarjo telah lama berdiri sunyi. Padahal sebelum bencana, masjid ini menjadi pusat ibadah warga, terutama saat bulan Ramadan.
Saat Ramadan, masjid selalu dipenuhi jemaah. Salat tarawih, tadarus, dan pembagian takjil menjadi kegiatan rutin yang mempererat kebersamaan warga.
Kini kondisi masjid terlihat terbengkalai. Dindingnya kusam ditumbuhi tanaman liar, sementara bagian dalam dipenuhi debu dan kotoran kelelawar.
Meski tidak terawat, struktur utama masjid masih berdiri kokoh. Bangunan ini menjadi salah satu saksi bisu desa yang telah hilang akibat lumpur.
Rahmat, 49, mantan warga Desa Besuki, mengatakan masjid tersebut dulu menjadi pusat kegiatan keagamaan warga setiap hari.
“Dulu masjid ini ramai sekali. Selain salat lima waktu, juga dipakai pengajian dan kegiatan pondok pesantren yang ada di sebelahnya, apalagi saat bulan suci Ramadan makin ramai lagi banyak yang berikan takjil,” ungkapnya, Sabtu (28/2).
Namun, setelah semburan lumpur meluas dan tanggul jebol pada 2008, warga mulai meninggalkan desa. Masjid pun ikut ditinggalkan tanpa perawatan.
“Warga mengungsi, tidak sempat lagi memikirkan masjid. Semua fokus menyelamatkan keluarga dan harta benda yang tersisa,” ujar Rahmat.
Karman, 60, yang juga mantan warga Besuki lainnya, mengatakan kawasan sekitar masjid dulunya merupakan permukiman padat dengan berbagai fasilitas keagamaan.
“Di depan masjid ada makam warga, di sekitarnya ada pondok pesantren. Sekarang semuanya hilang tertutup lumpur. Yang tersisa hanya masjid ini,” kata Sukarmanto.
Wilayah terdampak lumpur mencakup Kecamatan Porong, Tanggulangin, dan Jabon. Sedikitnya 12 desa tenggelam dan ribuan warga kehilangan tempat tinggal akibat bencana tersebut.
Kini Masjid Baitul Hamdi menjadi simbol kampung yang hilang. Bangunan ini menjadi pengingat kehidupan warga yang dulu ramai, terutama saat Ramadan yang kini hanya tinggal kenangan. (*)








