Menang Tebal, Putin Berpeluang Jadi Presiden Seumur Hidup

Editor: Hardy
oleh -99 Dilihat
Vladimir Putin (kiri) calon presiden Rusia yang sudah berkuasa sejak 2000, (BBC)

KabarBaik,co- Seperti diduga, Vladimir Putin, 71, menang mudah sekaligus telak dalam Pemilihan Presiden (Pilpres) Rusia, yang digelar 15-17 Maret. Dari jajak pendapat sejumlah lembaga, Putin yang maju sebagai calon independen (nonpartai) itu mendulang suara berkisar 87 persen.

Pilpres Rusia ini diikuti empat kandidat. Selain Putin, tiga calon lainnya adalah Vladislav Davankov, 40, wakil ketua Majelis Rendah Parlemen; Leonid Slutsky, 56, anggota senior State Duma dari Liberal Democratic Party of Russia (LDPR), dan Nikolay Kharitonov, 75, anggota Parlemen Rusia dari Partai Komunis.

Baca juga:  Konser Picnic Berujung Panik, Aksi Horor Teroris Tewaskan 133 Orang

Dengan kemenangan ini, Putin menduduki kursi Presiden hingga 2030. Ia sudah berkuasa sejak 1999-2000. Putin pun memungkinkan menjadi pemimpin terlama di Rusia dalam 200 tahun. Sebelumnya, rekor itu di tangan Joseph Stalin yang berkuasa selama 24 tahun (1929-1953).

Dikutip dari Reuters, seorang pejabat pemilu mengatakan, tingkat partisipasi Pilpres Rusia kali ini berkisar 74,22 persen. Angka ini melampaui tingkat partisipasi Pemilu 2018 yang hanya 67,5 persep. Adapun jumlah DPT sekitar 114 juta.

Baca juga:  Rusia Gelar Pilpres, dan Jalinan Hubungan Baik dengan Indonesia

Menurut jajak pendapat Public Opinion Foundation (FOM), Putin memenangkan 87,8 persen suara. Tiga kandidat lain di bawah 10 persen. Sementara itu, jajak pendapat Pusat Penelitian Opini Publik Rusia (VCIOM), Putin meraih 87 persen. Suara untuk Putin itu menjadi yang tertinggi dalam sejarah Rusia setelah Uni Soviet terpecah.

Sementara itu, Amerika Serikat memberikan reaksi. “Pemilu ini tidak bebas dan tidak adil mengingat Putin telah memenjarakan lawan politik dan mencegah orang lain mencalonkan diri melawannya,” kata juru bicara Dewan Keamanan Nasional Gedung Putih.

Baca juga:  Konser Picnic Berujung Panik, Aksi Horor Teroris Tewaskan 133 Orang

Pemilu Rusia kali ini digelar dua tahun setelah Putin memicu konflik paling mematikan di Eropa sejak Perang Dunia II dengan memerintahkan invasi ke Ukraina.

Sebetulnya, sejumlah media barat menyebut, lawan politik Putin sesungguhnya adalah Alexei Navalny. Namun, ia meninggal di Penjara Arktik bulan lalu. Sebelum meninggal, dia telah meminta warga Rusia untuk ikut serta dalam protes “Noon against Putin”. (“)

 

 

Cek Berita dan Artikel kabarbaik.co yang lain di Google News


No More Posts Available.

No more pages to load.