Menguak Misteri Gunung Pucangan Jombang, Jejak Pertapaan Dewi Kilisuci dan 13 Makam Keramat

oleh -89 Dilihat
Dewi Kilisuci 2
Dua Sendang Sakral di Kaki Gunung Pucangan (Ist)

KabarBaik.co, Jombang — Di balik Jombang yang dikenal sebagai Kota Santri ternyata juga menyimpan destinasi wisata religi yang sarat nilai sejarah dan spiritual, yakni Gunung Pucangan di Desa Cupak, Kecamatan Ngusikan.

Terletak di kawasan perbukitan hijau, Gunung Pucangan bukan sekadar destinasi alam. Situs ini diyakini sebagai tempat pertapaan sekaligus peristirahatan terakhir Dewi Kilisuci, sosok bangsawan dari era kerajaan yang memilih jalan spiritual ketimbang kekuasaan.

Kisah Dewi Kilisuci yang Menolak Takhta

Menurut cerita yang berkembang di masyarakat, Dewi Kilisuci merupakan putri dari Airlangga, penguasa besar yang memiliki pengaruh kuat di Jawa Timur pada masanya.

Alih-alih menerima takdir sebagai penerus takhta, ia justru memilih mengasingkan diri dan menjalani kehidupan sebagai pertapa.

“Dewi Kilisuci adalah julukan karena beliau seorang pertapa suci dan belum pernah menikah,” ujar Agus, juru kunci setempat, Sabtu (30/5).

Agus menjelaskan sang putri menolak perjodohan dan memilih bertapa di kawasan Gunung Pucangan, yang juga dikenal sebagai Alas Pugawat. Di tempat itulah ia menghabiskan hidupnya untuk berdoa dan mencari ketenangan batin.

Dewi Kilisuci 3
Komplek Tempat pemakaman Dewi Kilisuci di Gunung Pucangan Jombang (Istimewa)

13 Makam Keramat di Kawasan Gunung Pucangan

Gunung Pucangan juga dikenal sebagai kompleks pemakaman keramat. Terdapat 13 makam yang hingga kini masih dijaga dan diziarahi masyarakat.

Makam Dewi Kilisuci menjadi yang paling utama, berada di dalam bangunan tertutup dan terpisah dari makam lainnya.

Selain itu, terdapat makam tokoh-tokoh lain seperti Eyang Rogo Wali Suci, Eyang Sunuwun Wali, Eyang Joyo Kuoso, Eyang Sayid Sulaiman, Eyang Siti, Eyang Sundari, Eyang Ambarsari, Eyang Ambarwati, Eyang Sakti, Eyang Agono, Eyang Cerobo, Pengeran Said.

Makam-makam tersebut turut menjadi bagian dari situs spiritual ini.

Dua Sendang Sakral di Kaki Gunung

Keunikan lain dari kawasan ini adalah keberadaan dua sendang atau mata air yang dianggap sakral, yakni Sendang Widodaren dan Sendang Ndermo.

Sendang Widodaren berada di sisi kanan jalur pendakian dan dipercaya sebagai tempat mandi para bidadari dalam cerita masyarakat setempat. Hingga kini, sendang tersebut masih digunakan, terutama oleh pengunjung perempuan.

Sementara itu, Sendang Ndermo terletak lebih atas di sisi kiri jalan dan memiliki dua sumber air, yaitu Sendang Drajat dan Sendang Kamulyan.

Sendang Drajat digunakan untuk bersuci sebelum naik ke kawasan makam, sedangkan air dari Sendang Kamulyan biasanya dibawa pulang oleh peziarah untuk berbagai keperluan spiritual.

Dewi Kilisuci 1
Peziarah yang datang ke Makam Dewi Kilisuci (Ist)

Ramai Saat Malam Jumat Legi

Gunung Pucangan tidak hanya ramai oleh wisatawan, tetapi juga peziarah yang datang dengan berbagai tujuan, mulai dari mencari ketenangan hingga memanjatkan doa.

Kunjungan paling ramai terjadi pada malam Jumat Legi, yang dianggap sebagai waktu sakral dalam tradisi Jawa.

“Pada malam Jumat Legi, jumlah peziarah bisa mencapai lebih dari 500 orang. Kalau hari biasa, sekitar 25 orang,” kata Agus.

Perpaduan Wisata Alam, Religi, dan Sejarah

Dengan akses yang cukup menantang namun masih bisa dilalui sepeda motor, Gunung Pucangan menawarkan pengalaman wisata yang lengkap.

Selain panorama alam, pengunjung juga dapat merasakan nuansa spiritual sekaligus mempelajari jejak sejarah yang berkaitan dengan era Kerajaan Kediri.

Tak heran, lokasi ini kerap menjadi tujuan peziarah, peneliti, hingga pecinta sejarah yang ingin menelusuri warisan budaya Jawa Timur.

Gunung Pucangan menjadi bukti bahwa harmoni antara alam, sejarah, dan kepercayaan masih terjaga hingga kini. (*)

Cek Berita dan Artikel kabarbaik.co yang lain di Google News

Kami mengajak Anda untuk bergabung dalam WhatsApp Channel KabarBaik.co. Melalui Channel Whatsapp ini, kami akan terus mengirimkan pesan rekomendasi berita-berita penting dan menarik. Mulai kriminalitas, politik, pemerintahan hingga update kabar seputar pertanian dan ketahanan pangan. Untuk dapat bergabung silakan klik di sini

Penulis: Teguh Setiawan
Editor: Imam Wahyudiyanta


No More Posts Available.

No more pages to load.