Menyusuri Makam Adipati Terung, Hubungannya dengan Sunan Ampel, Kejayaan Majapahit dan Jalur Perdagangan Kuno

oleh -17 Dilihat
Adipati Terung
Makam Raden Husain atau Adipati terung yang masih dijaga masyarakat terung hingga kini (Achmad Adi Nurcahya)

KabarBaik.co, Sidoarjo – Di kawasan Krian, Sidoarjo, berdiri Makam Adipati Terung, situs bersejarah yang menyimpan jejak kejayaan masa lalu. Makam ini menjadi tempat peristirahatan terakhir Raden Husain, panglima besar dari Kerajaan Majapahit yang hidup sekitar abad ke-14 hingga ke-15 Masehi.

Anas, juru pelihara situs, menuturkan bahwa makam tersebut telah dijaga secara turun-temurun oleh keluarganya. Baginya, situs ini bukan sekadar tempat ziarah, melainkan bukti sejarah penting tentang keberadaan Kadipaten Terung.

“Makam ini sudah dijaga oleh leluhur kami secara turun-temurun. Ini bukan hanya makam, tapi bukti sejarah bahwa Kadipaten Terung pernah menjadi wilayah penting di zamannya,” ujar Anas saat ditemui di pendopo makam Adipati Terung

Pusat kekuasaan yang melampaui zaman

Menurut Anas, Kadipaten Terung diyakini telah ada bahkan sebelum Majapahit berdiri. Hal itu merujuk pada catatan dalam Negarakretagama yang menyebutkan Raden Wijaya pernah meminta perlindungan ke Terung saat dikejar pasukan Kerajaan Kediri.

“Kadipaten Terung ini sudah ada sebelum Majapahit berdiri. Bahkan Raden Wijaya pernah datang ke sini untuk meminta bantuan saat dikejar musuh,” jelasnya.

Tak jauh dari kompleks makam terdapat Candi Dermo yang diyakini sebagai pusat peribadatan masyarakat pada masanya, menandakan kawasan ini pernah menjadi pusat kehidupan spiritual dan pemerintahan.

Tata letak makam dalam satu pendopo

Di dalam satu pendopo utama kompleks makam, terdapat empat makam yang posisinya berada di sebelah barat makam Adipati Terung atau Raden Husain. Sementara di sisi timur, terdapat makam sang istri, Nyai Wilis, yang dimakamkan berdampingan bersama dua kerabatnya.

Susunan tersebut menjadi simbol kuat keterikatan keluarga dan menunjukkan bahwa kompleks ini bukan hanya makam seorang pemimpin, tetapi juga tempat peristirahatan keluarga inti Kadipaten Terung.

Jalur perdagangan strategis

Selain dikenal sebagai pusat kekuasaan, Kadipaten Terung juga memiliki peran penting dalam jalur perdagangan. Anas menjelaskan dahulu terdapat sungai besar di sebelah utara kawasan ini yang menjadi jalur utama aktivitas ekonomi.

“Dulu di sebelah utara ada sungai besar. Sungai itu menjadi jalur perdagangan, banyak saudagar dari berbagai daerah bahkan luar wilayah datang melalui jalur itu,” ungkap Anas.

Sungai tersebut terhubung hingga wilayah Mojokerto, menjadikannya jalur logistik strategis yang mendukung perdagangan antarwilayah.

Hubungan dengan Sunan Ampel

Kisah Raden Husain juga erat kaitannya dengan penyebaran Islam di Jawa. Istrinya, Nyai Wilis, disebut sebagai cucu dari Sunan Ampel.

“Nyai Wilis itu cucu Sunan Ampel dan merupakan istri Raden Husain. Dari keturunan beliau kemudian lahir tokoh-tokoh penting di daerah lain,” tutur Anas.

Tradisi rutin dan kegiatan budaya masih lestari

Hingga kini, Makam Adipati Terung masih menjadi pusat kegiatan spiritual dan budaya masyarakat. Anas menjelaskan, terdapat agenda rutin yang digelar setiap Jumat Legi, yang diikuti warga sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.

“Setiap Jumat Legi biasanya ada kegiatan rutin doa bersama. Kadang juga digelar kenduri saat Ruah Desa, seperti kemarin saat ada pagelaran wayang kulit pas Ruah Desa,” kata Anas.

Kegiatan tersebut menjadi bagian dari tradisi turun-temurun yang terus dijaga. Selain sebagai bentuk penghormatan, agenda ini juga menjadi sarana mempererat kebersamaan masyarakat sekaligus menjaga warisan budaya leluhur agar tetap hidup di tengah perkembangan zaman.

Harapan pelestarian untuk generasi muda

Di akhir perbincangan, Anas berharap situs bersejarah ini mendapat perhatian lebih dari berbagai pihak, terutama pemerintah dan generasi muda.

“Kami berharap situs ini tetap dilestarikan. Kalau bisa pihak desa sampai pemerintah kabupaten ikut peduli dengan peninggalan leluhur kita. Supaya generasi muda tahu dan bangga dengan sejarah yang dimiliki,” harapnya.

Bagi masyarakat sekitar, Makam Adipati Terung bukan sekadar peninggalan sejarah, tetapi juga simbol identitas dan kebanggaan yang harus terus dijaga agar tidak hilang ditelan zaman. (*)

Cek Berita dan Artikel kabarbaik.co yang lain di Google News

Kami mengajak Anda untuk bergabung dalam WhatsApp Channel KabarBaik.co. Melalui Channel Whatsapp ini, kami akan terus mengirimkan pesan rekomendasi berita-berita penting dan menarik. Mulai kriminalitas, politik, pemerintahan hingga update kabar seputar pertanian dan ketahanan pangan. Untuk dapat bergabung silakan klik di sini

Penulis: Achmad Adi Nurcahya
Editor: Imam Wahyudiyanta


No More Posts Available.

No more pages to load.