KabarBaik.co, Bojonegoro – Di sebuah sudut Desa Ngumpakdalem, Kecamatan Dander, Bojonegoro, terdapat pemandangan yang tak biasa justru menjadi awal perubahan besar. Ketika sebagian orang memilih menutup hidung dan menjauh dari sampah, sekelompok warga di desa ini justru mendekat, bahkan mengolahnya menjadi berkah.
Kelompok yang menamakan diri Dalem Mandiri Sejahtera (Mpok Damira) ini membalik cara pandang terhadap sampah. Bagi mereka, tumpukan limbah rumah tangga bukan sekadar masalah, melainkan peluang. Dari tangan-tangan mereka, sampah disulap menjadi produk bernilai dan bahkan menjadi “tabungan” bagi warga.
Setiap hari, kelompok ini mampu mengelola hingga 945 kilogram sampah. Sebanyak 825 kilogram berasal dari rumah tangga, sementara 120 kilogram lainnya dari toko dan perkantoran. Angka tersebut bukan hanya menunjukkan kerja keras, tetapi juga menjadi bukti nyata berkurangnya beban sampah yang berakhir di Tempat Pembuangan Akhir (TPA).
Di balik gerakan ini, ada sosok Eni Suhartini yang menjadi salah satu motor penggerak. Ia mengaku langkah ini berawal dari kesadaran pribadi yang sederhana dan keinginan untuk melihat desanya menjadi lebih bersih. “Awalnya saya hanya ingin membantu desa agar lebih bersih. Tapi memang tidak mudah, karena banyak orang yang masih enggan berurusan dengan sampah,” tuturnya, Kamis (9/4).
Perjalanan mereka tidak selalu mulus. Tantangan terbesar datang dari kebiasaan masyarakat yang belum terbiasa memilah sampah. Alasan klasik seperti kotor dan kesibukan menjadi penghambat utama.
Namun, perlahan tapi pasti. Edukasi yang dilakukan secara konsisten mulai membuahkan hasil. Kini, warga di desa Ngampaldalem Bojonegoro, tidak hanya memilah sampah, tetapi juga antusias karena melihat nilai ekonomi di baliknya. Sampah organik diolah menjadi pupuk berkualitas, sementara sampah non-organik dipilah dan dikelola agar kembali bernilai jual.
Dampaknyapun terasa, lingkungan desa menjadi lebih bersih, bebas dari tumpukan sampah liar, dan roda ekonomi warga mulai bergerak melalui sistem “tabungan sampah” yang mereka jalankan.
Bagi Eni, gerakan ini bukan sekadar program lingkungan, tetapi juga investasi masa depan. Ia berharap langkah kecil dari desanya bisa menular ke wilayah lain, khususnya di Bojonegoro. Ia pun mengajak masyarakat untuk mulai dari hal sederhana, yakni memilah sampah dari rumah.
“Semakin banyak yang memilah, semakin sedikit sampah yang terbuang sia-sia ke TPA. Mari kita wariskan lingkungan yang bersih untuk anak cucu,” pungkasnya. (*)







