KabarBaik.co, Jombang — Pembukaan Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, Kamis (27/8), menjadi momentum peneguhan peran NU dalam memperkuat kehidupan umat dan bangsa.
Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya, Rais Aam PBNU KH Miftachul Akhyar, hingga Presiden RI Prabowo Subianto menyampaikan sejumlah pesan dalam pembukaan muktamar yang berlangsung di Kabupaten Jombang tersebut.
Gus Yahya mengajak warga NU menghidupkan kembali semangat ta’awun atau saling membantu sebagai salah satu fondasi dalam menjaga keutuhan masyarakat dan bangsa.
Ia mengutip pesan pendiri NU Hadratussyekh KH Hasyim Asy’ari dalam Muqaddimah Qanun Asasi NU.
“Hadratus Syekh Kiai Muhammad Hasyim Asy’ari di dalam Muqaddimah Qanun Asasi telah mengatakan, ata’awanu huwalladzi alaihi madaru nidhamil umam. Tolong-menolong adalah landasan bagi beredarnya tatanan kemasyarakatan,” kata Gus Yahya.
Menurut Gus Yahya, masyarakat yang dibangun dengan prinsip ta’awun tidak akan terjebak pada persoalan siapa yang paling berkuasa atau berada di posisi tertentu. Yang dikedepankan adalah kerja sama demi kepentingan dan kemuliaan bersama.
Ia menegaskan semangat tersebut tidak boleh hanya berlaku di lingkungan internal NU. Ta’awun harus dibangun bersama seluruh elemen masyarakat Indonesia.
“Sangat tepat momentum muktamar ini kita jadikan titik tolak untuk ke depan berupaya memperkuat bangsa yang kita cintai ini dengan ta’awun, tolong-menolong di antara warga, bukan hanya warga Nahdlatul Ulama saja, tapi bersama segenap warga bangsa yang kita cintai ini,” ujarnya.
Sementara itu, Rais Aam PBNU KH Miftachul Akhyar menyoroti persoalan kemiskinan dan kebodohan yang dinilai dapat melemahkan kekuatan umat.
Hal tersebut disampaikan Kiai Miftach dalam Khutbah Iftitah Muktamar ke-35 NU.
“Sesungguhnya penyebab utama yang menghambat kekuatan umat untuk menjalankan amar ma’ruf nahi munkar serta menegakkan ajaran Islam adalah kemiskinan dan kelemahan di berbagai bidang, khususnya dalam bidang ekonomi,” ujar Kiai Miftach.
Ia juga mengingatkan bahaya kebodohan yang berkembang di tengah masyarakat. Menurutnya, kondisi tersebut dapat membuat seseorang kehilangan kemampuan untuk membedakan perkara yang bernilai dengan hal-hal yang justru merusak.
Kiai Miftach turut menekankan pentingnya urusan kepemimpinan agama diserahkan kepada orang yang memiliki kompetensi. Ia mengingatkan agar persoalan keagamaan tidak diberikan kepada pihak yang tidak memiliki kapasitas keilmuan karena berpotensi menyesatkan masyarakat dan mengikis marwah agama.
Presiden Prabowo Subianto yang membuka Muktamar ke-35 NU menegaskan bahwa NU merupakan salah satu aset besar bangsa Indonesia.
Prabowo mengapresiasi sejarah panjang ulama, kiai, dan pesantren dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.
Ia mencontohkan lagu Syubbanul Wathon karya KH Abdul Wahab Hasbullah yang telah diciptakan belasan tahun sebelum Proklamasi Kemerdekaan Indonesia.
Presiden juga menyinggung besarnya peran ulama dan pesantren dalam Pertempuran Surabaya pada Oktober-November 1945.
“Karena kemerdekaan bangsa Indonesia memang diproklamasikan di Jakarta, tapi kemerdekaan bangsa Indonesia diuji di Surabaya. Dan dalam pertempuran Surabaya Oktober-November tahun 1945, peran dari ulama, peran dari kiai-kiai, peran daripada pesantren sangat besar,” kata Prabowo.
Prabowo kemudian menegaskan hubungan erat antara kekuatan NU dan Indonesia.
“NU kuat artinya Indonesia kuat. Kalau NU rukun, Indonesia rukun. NU berkhidmat, Indonesia bermartabat,” tuturnya.
Muktamar ke-35 NU sendiri berlangsung pada 27-31 Agustus 2026 di kawasan Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang.






