KabarBaik.co, Jombang – Datangnya musim haji 2026 membawa berkah bagi para perajin manik-manik di Desa Plumbon Gambang, Gudo, Jombang. Permintaan tasbih handmade meningkat tajam dalam beberapa pekan terakhir.
Tasbih khas Gudo menjadi salah satu suvenir favorit bagi calon jemaah haji. Lonjakan pesanan ini turut mendongkrak omzet para perajin.
Salah satu pelaku usaha, Nur Wachid, mengaku kewalahan memenuhi permintaan yang naik signifikan dibanding hari biasa.
“Permintaan tasbih meningkat sekitar 70 sampai 80 persen. Saat musim haji seperti sekarang, pembelian untuk suvenir biasanya minimal 100 buah per orang,” ujarnya saat dikonfirmasi, Jumat (8/5).
Menurutnya, tasbih produksi Desa Plumbon Gambang diminati karena dibuat secara handmade. Selain itu, bahan bakunya berasal dari limbah kaca yang diolah kembali menjadi produk bernilai jual tinggi.
Pesanan pun tidak hanya datang dari wilayah Jombang, tetapi juga dari berbagai daerah di Indonesia.
“Pesanan datang dari Kalimantan, Bali, Jakarta, bahkan hampir seluruh Indonesia,” katanya.
Harga tasbih bervariasi, mulai dari Rp 7 ribu hingga Rp 100 ribu per buah, tergantung bahan, motif, dan tingkat kerumitan. Tak hanya pasar domestik, tasbih asal Gudo juga pernah menembus pasar internasional melalui agen ekspor.
“Pernah dikirim ke Taiwan, Malaysia, dan Thailand,” ungkapnya.
Di tengah tingginya permintaan, para perajin menghadapi tantangan berupa kenaikan harga bahan baku. Harga kaca pewarna yang sebelumnya Rp 200 ribu hingga Rp 300 ribu per kilogram kini melonjak menjadi Rp 700 ribu sampai Rp 900 ribu per kilogram.
Sementara bahan dasar kaca naik dari Rp 5 ribu menjadi Rp 25 ribu hingga Rp 30 ribu per kilogram. Kenaikan harga gas elpiji juga turut menambah biaya produksi.
Meski begitu, para perajin tetap berupaya memenuhi permintaan pasar dan berharap ada perhatian pemerintah untuk menstabilkan harga bahan baku.
Salah satu pembeli, Tantrina Rahmawati, 36, mengaku sengaja datang ke lokasi untuk mencari oleh-oleh unik.
“Tadi beli aksesoris manik-manik untuk kalung yang akan diberikan ke keluarga,” ujarnya.
Ia tertarik karena desain produk yang dinilai unik dan jarang ditemui di tempat lain.
“Aksesorisnya unik dan bagus. Saya baru tahu ada sentra kerajinan seperti ini di sini,” pungkasnya. (*)







