KabarBaik.co, Jember – Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK) Seleksi Nasional Berbasis Tes (SNBT) di Universitas Jember (Unej) hari ketiga menyisakan kisah inspiratif dari salah satu pesertanya, David Julianto.
Di tengah perjuangan merawat ayah yang tengah sakit dan tanpa kehadiran sosok ibu, David tetap teguh melangkahkan kaki demi mengejar mimpi di dunia pertanian.
Didorong kecintaan mendalam pada sektor agraris, David mantap memilih Program Studi Agribisnis dan Agroteknologi Unej. Baginya, pendidikan adalah gerbang utama untuk memperbaiki taraf hidup keluarga.
Sejak pagi, David telah bersiap menuju lokasi ujian bersama empat sahabat karibnya. Meski berangkat tanpa didampingi orang tua, ia mengaku tidak merasa kecil hati. Dukungan dari guru dan teman-teman di sekolahnya telah menjadi energi tambahan bagi David.
“Seleksi UTBK awalnya membuat saya tidak tenang. Namun, dukungan guru dan teman-teman yang sudah seperti saudara sendiri membuat saya berani menghadapi ujian ini,” ungkap David.
Perjalanan David menuju bangku kuliah memang tidak mulus. Sebagai anak bungsu dari empat bersaudara, persoalan biaya sempat membuatnya hampir menyerah.
Ia bahkan sempat terpikir untuk mengundurkan diri dari kepesertaan UTBK karena terlambat mendaftar beasiswa Kartu Indonesia Pintar Kuliah (KIP-K).
Namun, wejangan dari gurunya di pondok pesantren menjadi titik balik semangatnya.
“Saya masih ingat kata guru saya, meski belum ada biaya, jalani saja dulu, insya Allah akan ada jalan. Itu yang membuat saya bertahan hingga hari ini,” katanya.
Terkait biaya masa depan, David tidak ingin berpangku tangan. Meski berharap bisa mendapatkan akses beasiswa di tengah jalan, ia sudah memantapkan tekad untuk bekerja paruh waktu jika nantinya diterima kuliah namun terkendala finansial.
“Saya ingin mendapatkan beasiswa untuk meringankan beban keluarga. Tapi jika memang tidak dapat, saya berkomitmen untuk bekerja sambil kuliah. Saya ingin mengangkat derajat keluarga dan membahagiakan orang tua,” tegasnya.
Saat melihat peserta lain yang didampingi orang tua, David justru melihatnya sebagai tempaan mental. Ia memandang situasi tersebut sebagai takdir yang membentuk kemandiriannya lebih dini.
“Saya tidak merasa iri atau insecure. Ini sudah menjadi takdir agar saya lebih mandiri. Kehadiran teman-teman di sini sudah sangat cukup untuk mendukung saya,” pungkasnya.







