KabarBaik.co, Surabaya – Suasana berbeda terlihat di kawasan Jalan Tunjungan, Surabaya, Minggu (21/6). Jalan yang selama ini dikenal sebagai salah satu ikon kota itu berubah menjadi panggung terbuka raksasa. Ribuan warga berjejer di sepanjang jalan untuk menyaksikan parade busana dan pertunjukan marching band dalam rangkaian puncak Surabaya Fashion Festival (SFF) 2026.
Selama tiga hari, mulai 19 hingga 21 Juni 2026, Surabaya Fashion Festival sukses menghadirkan perpaduan seni, budaya, kreativitas, dan hiburan yang menyedot perhatian masyarakat. Kegiatan yang digelar Memorandum bersama Pemkot Surabaya itu berlangsung di Balai Kota Surabaya, Balai Pemuda, hingga kawasan Jalan Tunjungan.
Sejak pagi, antusiasme warga sudah terlihat. Banyak pengunjung datang bersama keluarga untuk mendapatkan posisi terbaik saat parade dimulai dari kawasan Siola menuju Balai Kota Surabaya. Ponsel dan kamera tak henti-hentinya diarahkan ke para peraga busana yang tampil dengan beragam kostum kreatif dan penuh warna.
Puncak acara diawali dengan Senam Dahlan Iskan di Balai Kota Surabaya. Setelah itu, peserta parade mulai bergerak menyusuri Jalan Tunjungan, menghadirkan pertunjukan yang memadukan dunia fesyen, seni pertunjukan, dan budaya Nusantara.
Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Kota Surabaya, M. Fikser, yang hadir mewakili Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi, mengatakan Surabaya Fashion Festival yang kini memasuki tahun kedua diharapkan dapat menjadi agenda yang semakin dinikmati masyarakat sekaligus memberikan manfaat ekonomi bagi kota.
“Harapan kami warga Surabaya dapat menikmati kegiatan ini. Selain menjadi hiburan, pelaksanaannya juga diharapkan memberi dampak positif terhadap perekonomian dan sektor kreatif di Kota Surabaya,” ujarnya.
Menurut Fikser, konsep festival yang memanfaatkan ruang publik memberi kesempatan kepada para desainer lokal, komunitas seni, hingga pelaku ekonomi kreatif untuk memperkenalkan karya mereka secara langsung kepada masyarakat.
Ia menilai kehadiran SFF menjadi salah satu cara memperkuat identitas Surabaya sebagai kota yang terbuka terhadap kreativitas dan inovasi.
“Jalan Tunjungan telah disulap menjadi catwalk raksasa, tempat bersatunya seni, budaya, dan inovasi fesyen dalam Surabaya Fashion Festival 2026,” katanya.
Keseruan festival sebenarnya telah dimulai sejak hari pertama. Pada Jumat (19/6), Balai Kota Surabaya dipenuhi keceriaan anak-anak yang mengikuti lomba mewarnai untuk kelompok usia 3 hingga 6 tahun.
Kemudian pada Sabtu (20/6), suasana semakin semarak dengan berbagai kompetisi tingkat SD, SMP, hingga SMA dari berbagai daerah di Jawa Timur. Mulai dari lomba tari tradisional dan kreasi, keterampilan baris-berbaris, hingga penampilan band pelajar menjadi daya tarik tersendiri bagi pengunjung. Malam harinya, acara ditutup dengan penampilan DJ yang menghibur peserta dan masyarakat.
Ketua Panitia SFF 2026, Djoko Setyo, mengungkapkan tingginya partisipasi menjadi salah satu indikator keberhasilan penyelenggaraan festival tahun ini.
Ribuan peserta dari berbagai daerah di Jawa Timur ambil bagian dalam kegiatan tersebut. Mereka datang dari Surabaya, Sidoarjo, Gresik, Lamongan, Jember, Malang, Kediri, Tuban, Blitar, Jombang, hingga Probolinggo.
Tercatat sebanyak 27 tim paskibra turut berpartisipasi dengan jumlah anggota sekitar 30 hingga 40 siswa per tim. Selain itu, parade Surabaya Fashion Festival diikuti 1.643 peserta serta melibatkan 10 komunitas budaya Nusantara dengan total sekitar 530 orang.
“Antusiasme peserta dan masyarakat luar biasa. Ini menjadi semangat bagi kami untuk menghadirkan acara yang lebih baik lagi pada tahun mendatang,” kata Djoko.
Ia pun menyampaikan apresiasi kepada seluruh masyarakat Surabaya dan para peserta yang telah ikut menyukseskan festival tersebut.
Menjelang malam, kemeriahan Surabaya Fashion Festival 2026 ditutup dengan hiburan bertajuk “Suroboyo Ambyar” yang menghadirkan penampilan Wawa Widi. Ribuan penonton yang masih bertahan hingga malam hari ikut larut dalam suasana penutup yang meriah.
Tak sekadar menjadi ajang pertunjukan fesyen, Surabaya Fashion Festival 2026 menunjukkan bagaimana ruang publik dapat menjadi wadah bertemunya kreativitas, budaya, dan masyarakat dalam satu perayaan yang hidup. Selama tiga hari, Surabaya seolah memiliki panggung besar yang memperlihatkan semangat kota kreatif yang terus tumbuh dan berkembang. (*)






