KabarBaik.co – Tidak hanya sekedar hobi, kecintaan Gandi terhadap burung justru menjelma menjadi usaha yang menjanjikan. Di balik kesibukannya sebagai pegawai Kejari Surabaya, pria yang tinggal di kawasan Juanda ini sukses mengembangkan ternak murai batu Medan sejak 2019. Burung dengan suara merdu ini bahkan memberinya tambahan penghasilan hingga puluhan juta rupiah.
Ketertarikan Gandi terhadap burung bukan muncul begitu saja. Sejak 2009, ia sudah mulai jatuh hati pada dunia perburungan. Semula hanya karena rasa penasaran melihat teman-temannya yang gemar memelihara burung, lama-kelamaan hobi itu tumbuh menjadi kecintaan. Dari situlah cerita usahanya bermula.
Dalam praktik beternak, Gandi mengandalkan sistem poligami, yakni satu pejantan dipasangkan dengan tiga betina sekaligus. Cara ini dinilainya lebih efisien karena mampu menghemat biaya pembelian pejantan yang harganya relatif mahal.
“Satu jantan tiga betina, kita bisa panen tiga kali dalam sebulan. Hemat dan produktif,” ungkapnya pada KabarBaik.co, Selasa (02/09).
Selain poligami, ia juga menerapkan sistem kandang baterai atau sangkar kotak. Menurutnya, cara ini justru lebih efisien karena burung tidak rawan ngelemak atau obesitas.
Perawatannya pun lebih mudah, sebab jika burung terlihat mulai gemuk tinggal dimandikan dan dijemur langsung tanpa harus dipindah ke sangkar terpisah.
“Lebih praktis dibandingkan kandang biasa yang harus mindahin dulu kalau mau dijemur,” jelasnya.
Dari sisi produktivitas, induk betina bisa dijodohkan sejak usia 7–8 bulan, sedangkan pejantan baru ideal dipakai di usia 3–5 tahun. Bahkan, ada yang tetap produktif hingga usia 10 tahun lebih. Dengan begitu, peluang usaha murai batu bisa berjalan dalam jangka panjang.
Kini, anakan murai batu hasil ternakan Gandi dipasarkan dengan harga Rp 3,5 juta hingga Rp 6 juta per ekor. Semua anakan diberi ring khusus “ADC Surabaya” sebagai identitas. Tingginya minat membuat pembeli rela antre.
“Untuk saat ini sudah ada 12 orang yang menunggu anakan murai saya,” ungkapnya.
Tak puas hanya dengan ternak, Gandi juga mengembangkan inovasi lain: membuka sekolah burung. Usaha ini ia beri nama ADC Mastering, beralamat di Perumtas Tanggulangin, Sidoarjo. Di sekolah ini, murai batu dilatih agar mampu menirukan berbagai suara atau istilahnya dimaster.
“SPP burung di sekolah ini sekitar Rp 350 ribu sampai Rp 400 ribu per ekor tapi bulannya,” jelasnya.
Untuk mendukung usaha yang terus berkembang, Gandi tidak bekerja sendirian. Ia dibantu oleh tiga pegawai yang bertugas mengurus baik peternakan ring ADC maupun sekolah burung ADC Mastering. Lokasi keduanya pun sama-sama di Perumtas Tanggulangin, Sidoarjo, sehingga memudahkan dalam pengelolaan.
Meski harga murai sempat menurun akibat maraknya peternak baru, Gandi tak patah semangat. Baginya, kualitas tetap nomor satu.
“Dengan menjaga kualitas, harga bisa stabil, dan pembeli pun mendapat burung terbaik,” tutup Gandi,. (*)







