Pemerhati Lingkungan di Kota Batu Soroti Dampak Konsumsi Melalui Pemutaran Film ‘Menolak Punah’

oleh -104 Dilihat
WhatsApp Image 2026 05 01 at 15.36.16
Pemutaran film Menolak Punah di Kota Batu. (Foto: P. Priyono)

KabarBaik.co, Batu – Komunitas pemerhati lingkungan, Zona Bening, menggelar pemutaran film dokumenter Menolak Punah di Cafe Retrorika, Kecamatan Bumiaji, Kota Batu, Jumat (1/5). Kegiatan ini diikuti sejumlah komunitas seperti Omah Hijau, Kader Hijau Muhammadiyah, dan tim Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Batu.

Film berdurasi lebih dari satu jam tersebut mengangkat isu lingkungan. Khususnya dampak pola konsumsi masyarakat terhadap peningkatan sampah, baik plastik maupun tekstil. Perwakilan Zona Bening, Sulistyo Rini atau Rere, mengatakan bahwa film tersebut tidak semata menyoroti industri tekstil, tetapi lebih pada perilaku konsumtif yang kerap diabaikan.

“Intinya bukan hanya soal pabrik tekstil, tetapi bagaimana pola konsumsi kita meninggalkan jejak sampah. Tidak hanya plastik, tapi juga tekstil dari pakaian yang kita kenakan,” ujarnya.

Menurut Rere, kegiatan ini menjadi bagian dari peringatan Hari Bumi yang sebelumnya tertunda. Ia menjelaskan, pihaknya sempat menggelar kegiatan thrift saat Ramadan dengan tema ‘Ramadan Ekologi’ untuk mengajak masyarakat mengurangi konsumsi pakaian baru, terutama saat Lebaran.

“Kami ingin mengajak masyarakat agar tidak mudah tergoda membeli barang baru. Perlu dipikirkan apakah itu kebutuhan atau sekadar keinginan,” katanya.

Sementara itu, perwakilan Omah Hijau, Kristien Yuliarti, menyoroti persoalan limbah tekstil yang dinilai menjadi tantangan besar dalam pengelolaan lingkungan. “Limbah tekstil sangat sulit diolah dan menjadi persoalan serius. Banyak dari kita memiliki pakaian yang sudah lama tidak digunakan, bahkan hingga bertahun-tahun,” ungkapnya.

Ia juga menyinggung ironi ketergantungan Indonesia terhadap impor tekstil, meskipun dalam simbol negara terdapat lambang padi dan kapas yang mencerminkan kebutuhan dasar sandang dan pangan. “Kesadaran ini yang perlu dibangun, bahwa setiap barang yang kita beli pada akhirnya akan menjadi sampah,” tegasnya.

Di sisi lain, Owner Cafe Retrorika, Ismi Wahid, menyampaikan bahwa pihaknya sejak awal telah menerapkan konsep bisnis ramah lingkungan. “Sejak berdiri tahun 2018, kami menerapkan green business, tidak menggunakan plastik, dan memberikan diskon 10 persen bagi pelanggan yang membawa tumbler sendiri,” jelasnya.

Ia menambahkan, Cafe Retrorika terbuka bagi komunitas yang ingin menggelar kegiatan bertema lingkungan. Namun, ia mengakui masih ada tantangan dalam meningkatkan kesadaran pelanggan terhadap gaya hidup ramah lingkungan.

Melalui kegiatan ini, diharapkan masyarakat dapat lebih memahami dampak dari pola konsumsi sehari-hari serta mulai beralih pada gaya hidup yang lebih berkelanjutan demi menjaga kelestarian bumi. (*)

Cek Berita dan Artikel kabarbaik.co yang lain di Google News

Kami mengajak Anda untuk bergabung dalam WhatsApp Channel KabarBaik.co. Melalui Channel Whatsapp ini, kami akan terus mengirimkan pesan rekomendasi berita-berita penting dan menarik. Mulai kriminalitas, politik, pemerintahan hingga update kabar seputar pertanian dan ketahanan pangan. Untuk dapat bergabung silakan klik di sini

Penulis: P. Priyono
Editor: Hairul Faisal


No More Posts Available.

No more pages to load.