KabarBaik.co, Malang – Sebuah video yang memperlihatkan seorang anak kecil diduga dipaksa mengamen oleh ibunya di kawasan Car Free Day (CFD) Stadion Kanjuruhan, Kabupaten Malang, viral di media sosial. Aksi ibu dari anak tersebut menuai kecaman luas dari warganet.
Peristiwa itu diketahui terjadi pada Minggu, 26 April 2026. Video pertama kali diunggah oleh akun Threads @rizkiyahi dan kemudian beredar luas di berbagai platform media sosial. Dalam rekaman yang beredar, terlihat seorang anak mengenakan kaos kuning membawa wadah dan berjalan di antara pengunjung CFD untuk meminta uang.
Anak tersebut diduga diarahkan langsung oleh ibunya yang berada di sekitar lokasi. Pengunggah menyebut, sang ibu bahkan terlihat menggunakan sebatang kayu untuk menginstruksikan anaknya berpindah ke area yang lebih ramai. Sementara itu, ayah anak tersebut disebut berada di lokasi dan mengawasi dari kejauhan.
Anak tersebut juga sempat terlihat menangis, namun tetap diminta mengamen. Hasil pemeriksaan aparat kepolisian mengungkap bahwa praktik tersebut telah dilakukan cukup lama. Orang tua anak berinisial FN, 27 dan EP, 36, warga Kecamatan Kepanjen, Kabupaten Malang, mengaku telah melibatkan anaknya sejak usia dua bulan.
Saat ini, di usia sekitar dua tahun, anak tersebut mulai diminta mengamen seorang diri. Sementara ibunya mengawasi dari dekat dan ayahnya menunggu di lokasi. Kasatres PPA dan PPO Polres Malang, AKP Yulistiana Sri Iriana, menyatakan bahwa tindakan kedua orang tua tersebut masuk dalam kategori eksploitasi ekonomi terhadap anak.
Dari pantauan, sebelum ditindak aparat, sejumlah pengunjung CFD sempat menegur orang tua anak tersebut. Namun, teguran tersebut diabaikan dan aktivitas mengamen tetap berlangsung.
Kasus ini kemudian dilaporkan kepada pihak berwajib.
Petugas dari unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Polres Malang bergerak cepat dengan mengamankan anak untuk mendapatkan pendampingan, serta memeriksa kedua orang tuanya.
Video tersebut memicu reaksi keras dari warganet. Banyak yang mengecam tindakan orang tua yang dinilai mengeksploitasi anak demi kepentingan ekonomi. Sejumlah komentar juga menyoroti dilema masyarakat saat menghadapi kondisi tersebut antara rasa iba untuk memberi uang atau kekhawatiran bahwa hal itu justru memperpanjang praktik eksploitasi anak di ruang publik.
Kasus ini kembali menjadi sorotan pentingnya perlindungan anak serta peran aktif pemerintah dan masyarakat dalam mencegah segala bentuk eksploitasi, khususnya di ruang publik seperti kegiatan CFD. (*)






