Penggunaan B50 Berpotensi Pengaruhi Performa Mesin, Perawatan Kendaraan Perlu Ditingkatkan

oleh -154 Dilihat
IMG 20260427 WA0031
Prof. Ir. Nurkholis Hamidi, S.T., M.Eng., Dr.Eng. (Foto: P. Priyono) 

KabarBaik.co, Malang – Penggunaan bahan bakar B50 mulai menjadi perhatian seiring rencana peningkatan campuran biodiesel di Indonesia. Selain dinilai ramah lingkungan dan mendukung kemandirian energi, penggunaan B50 juga berpotensi memengaruhi performa mesin hingga kebutuhan perawatan kendaraan, terutama pada mesin diesel lama.

Profesor di bidang Energi Baru Terbarukan Biofuels, Nurkholis Hamidi, menjelaskan bahwa peningkatan campuran biodiesel merupakan langkah positif dan progresif. Hal ini karena dapat mengurangi ketergantungan impor bahan bakar minyak (BBM), mendukung hilirisasi kelapa sawit nasional, serta menekan emisi karbon.

Namun demikian, ia menekankan bahwa implementasi B50 perlu dilakukan secara bertahap dan terukur. “Mesin-mesin yang dibangun sejak lama tidak semuanya didesain untuk menggunakan bahan bakar biodiesel dengan konsentrasi tinggi,” ujarnya, Senin (27/4).

Menurut Nurkholis, B50 merupakan campuran 50 persen biodiesel umumnya berbasis Fatty Acid Methyl Ester (FAME) dari minyak sawit dan 50 persen solar atau bahan bakar diesel fosil. Biodiesel dikenal sebagai energi terbarukan yang berasal dari minyak nabati.

Secara karakteristik, biodiesel memiliki kandungan oksigen yang dapat membantu proses pembakaran menjadi lebih sempurna. Namun, tingkat kekentalan (viskositas) yang lebih tinggi dibanding solar dapat memengaruhi proses penyemprotan bahan bakar (atomisasi), sehingga berpotensi menurunkan kualitas pembakaran jika tidak didukung sistem injeksi yang sesuai.

Untuk kendaraan modern, lanjut Nurkholis, penggunaan biodiesel dengan kadar tinggi relatif lebih aman karena sudah dilengkapi komponen yang kompatibel. Sebaliknya, pada mesin lama, penggunaan B50 berisiko mempercepat penurunan kualitas komponen seperti seal dan selang (hose), meningkatkan pembentukan deposit, hingga menyebabkan penyumbatan filter bahan bakar.

“Biodiesel bersifat lebih polar dibanding solar biasa, sehingga bisa melarutkan komponen aditif dalam karet. Akibatnya karet menjadi getas dan mudah retak. Namun kendaraan baru umumnya sudah menggunakan material yang lebih tahan terhadap biodiesel,” jelas Nurkholis.

Dari sisi performa, penggunaan B50 juga berpotensi menurunkan tenaga dan torsi mesin. Hal ini disebabkan nilai kalor biodiesel yang lebih rendah dibanding solar, sehingga konsumsi bahan bakar bisa menjadi lebih boros. “Untuk menghasilkan tenaga yang sama, bahan bakar yang dibutuhkan bisa lebih banyak,” ungkapnya.

Selain itu, penggunaan biodiesel juga meningkatkan kebutuhan perawatan kendaraan. Sifat biodiesel yang higroskopis atau mudah menyerap air, serta kemampuannya melarutkan kotoran di dalam tangki, dapat mempercepat penyumbatan filter dan saluran bahan bakar.

Karena itu, pemilik kendaraan disarankan untuk lebih rutin melakukan pembersihan atau penggantian filter bahan bakar, serta pengecekan sistem injeksi. “Filter bahan bakar harus lebih sering dibersihkan atau diganti karena potensi penyumbatan lebih besar,” tegasnya.

Nurkholis juga menekankan pentingnya pengawasan kualitas biodiesel agar memenuhi standar bahan bakar transportasi, terutama dalam penerapannya pada mesin-mesin lama.
Meski memiliki tantangan, pengembangan biodiesel dinilai memiliki prospek yang besar di Indonesia sebagai negara tropis dengan sumber daya minyak nabati yang melimpah. (*) 

Cek Berita dan Artikel kabarbaik.co yang lain di Google News

Kami mengajak Anda untuk bergabung dalam WhatsApp Channel KabarBaik.co. Melalui Channel Whatsapp ini, kami akan terus mengirimkan pesan rekomendasi berita-berita penting dan menarik. Mulai kriminalitas, politik, pemerintahan hingga update kabar seputar pertanian dan ketahanan pangan. Untuk dapat bergabung silakan klik di sini

Penulis: P. Priyono
Editor: Hairul Faisal


No More Posts Available.

No more pages to load.