KabarBaik.co, Jember – Budayawan Jember mengirim pesan hangat untuk Papua dalam peringatan Tiga Dekade Kudatuli, Senin (27/7) malam. Peringatan itu berlangsung di Kantor DPC PDI Perjuangan Jember.
Mengusung tajuk Jejak Luka Demokrasi Indonesia, peringatan tiga dekade tragedi Kudatuli diisi dengan panggung ekspresi. Ruang di mana bait-bait puisi kritik sosial dan perlawanan bergema hingga menjelang tengah malam.
Sejumlah budayawan, seniman, hingga akademisi berkumpul untuk menyuarakan gagasan mereka. Salah satu aksi yang mencuri perhatian datang dari Wijaya atau yang akrab disapa “Londo Koplak”.
Lewat puisi bertajuk Pesta Babi, ia menyentil isu deforestasi di tanah Papua akibat perluasan kebun sawit demi proyek bioenergi.
Di penghujung tampilannya, Wijaya menyelipkan pesan hangat nan penuh empati bagi warga Papua.
“Aku wong Jowo titip salam nang dulur-dulur Papua. Tetap semangat, jangan lupa berdoa. Tuhanku, Tuhanmu, Tuhan kita semua sama. Percayalah semua akan indah pada waktunya, dan mereka akan mendapat balasannya,” tutur Wijaya.
Tak hanya Londo Koplak, mimbar bebas yang dibuka sejak pukul 19.00 hingga 23.30 WIB itu juga diramaikan oleh seniman dan budayawan lain seperti Bambang Wahyu serta Rendra “Gareng”. Dari kalangan akademisi, hadir Dr. Ikhwan Setiawan, dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Jember, yang turut menggoreskan kritik terhadap kondisi demokrasi dan kebudayaan saat ini.
Ketua DPC PDIP Jember Widarto, menjelaskan bahwa pelibatan elemen budayawan dan akademisi ini sengaja dilakukan demi membuka ruang wacana yang lebih segar dan kaya bagi anak muda.
“Peristiwa 27 Juli 1996 merupakan tonggak penting hadirnya era Reformasi,” ujarnya.
Menurutnya, forum refleksi tidak hanya menjadi ajang mengenang peristiwa Kudatuli, tetapi juga ruang bagi masyarakat untuk menyampaikan gagasan, kritik, dan pandangan melalui pendekatan seni dan kebudayaan.
Melalui media seni, ia berharap generasi penerus tidak kehilangan jejak sejarah sekaligus tetap berani menyuarakan aspirasi mereka.(*)







