Plafon Jebol dan Kayu Lapuk, 2 Ruang Kelas SDN di Pace Nganjuk Tak Kunjung Direhab

oleh -105 Dilihat
WhatsApp Image 2026 05 09 at 4.29.39 PM
Agus Suharto menunjukkan kondisi dua ruang kelas yang langit-langit dan atapnya sudah dibongkar karena lapuk dan berbahaya (Agus Karyono)

KabarBaik.co, Nganjuk – Kondisi gedung sekolah di Nganjuk menjadi sorotan. Dua ruang kelas SDN Plosoharjo 2 Pace kosong tanpa plafon. Padahal, gedung ini dibangun menggunakan Dana Alokasi Khusus (DAK) sejak tahun 2008 silam.

Sudah 18 tahun berlalu, tidak ada perbaikan atau rehabilitasi sama sekali, hingga akhirnya kondisi bangunan makin parah dan berbahaya bagi keselamatan siswa.

“Kita menerima bantuan DAK itu tahun 2008. Sampai sekarang itu belum ada rehab sedikit pun. Ini jebol dan rusak karena termakan usia, kayunya sudah lapuk dimakan rayap. Bagian dalam langit-langit ini memang sengaja saya lepas dan bongkar sendiri, soalnya takut tiba-tiba ambruk dan membahayakan murid-murid yang sedang belajar,” ujar Agus Suhartono guru sekaligus wali kelas 3 di sekolah tersebut, saat ditemui awak media, Sabtu (9/5)

Dua ruang kelas yang kondisinya kini tanpa plafon itu adalah ruang belajar untuk kelas 2 dan kelas 3. Tindakan pembongkaran sendiri baru dilakukan Agus pada tahun 2025 lalu, setelah kerusakan dianggap sudah tidak bisa ditoleransi lagi dan nyaris menimbulkan kecelakaan.

“Ini dua lokal, kelas dua dan kelas tiga. Saya bongkar dan runtuhkan semuanya baru tahun lalu, 2025. Saya terpaksa lakukan itu demi keamanan anak-anak, tidak ada niat lain selain menjaga keselamatan mereka,” tambahnya tegas.

Pihak sekolah sebenarnya tidak tinggal diam. Berulang kali usulan perbaikan dan rehabilitasi gedung sudah dikirimkan ke Dinas Pendidikan Nganjuk.

Namun hasilnya nihil. Sudah dua tahun berturut-turut usulan diajukan, namun jawaban yang diterima selalu sama, diminta mengajukan lagi di tahun berikutnya.

Hingga kini, harapan agar sekolah ini kembali layak pakai masih menggantung dan belum ada kepastian sama sekali.

“Sudah dua tahun ini kami mengajukan usulan rehab, tapi masih saja disuruh mengusulkan lagi terus, belum dapat kepastian apa-apa. Tahun 2026 ini pun belum ada tanda-tanda masuk. Rencananya kami akan ajukan lagi, karena kondisinya memang sudah mendesak dan tidak bisa dibiarkan begini saja,” keluhnya.

Di sekolah tersebut, tercatat ada 87 siswa aktif yang belajar lengkap dari kelas 1 hingga kelas 6. Meski jumlah siswa tidak terlalu banyak, namun kekurangan ruang kelas yang layak membuat aktivitas belajar menjadi tidak nyaman dan terganggu.

Sebagai pengajar, Agus merasa prihatin dan sedih, karena anak-anak harus menempuh pendidikan di fasilitas yang jauh dari standar layak dan aman. Padahal pendidikan adalah hak setiap anak, dan fasilitas yang baik adalah penunjang utama kualitas belajar.

“Murid ada 87 orang, lengkap dari kelas satu sampai enam, semuanya ada. Kami berharap sekali usulan ini tahun ini dikabulkan.” pungkas Agus Suharto berharap ada perhatian lebih dari pemerintah daerah.

Kini, dua ruang kosong tanpa atap itu menjadi bukti nyata kelalaian perawatan gedung sekolah yang sudah puluhan tahun menunggu sentuhan perbaikan.

Sementara itu, guru dan murid tetap berjuang menuntut ilmu di sela keterbatasan fasilitas, berharap kebijakan dan anggaran bisa segera turun demi masa depan generasi penerus bangsa. (*)

Cek Berita dan Artikel kabarbaik.co yang lain di Google News

Kami mengajak Anda untuk bergabung dalam WhatsApp Channel KabarBaik.co. Melalui Channel Whatsapp ini, kami akan terus mengirimkan pesan rekomendasi berita-berita penting dan menarik. Mulai kriminalitas, politik, pemerintahan hingga update kabar seputar pertanian dan ketahanan pangan. Untuk dapat bergabung silakan klik di sini
Penulis: Agus Karyono
Editor: Imam Wahyudiyanta


No More Posts Available.

No more pages to load.